Aku keluar dari ruang perpustakaan Keluarga Hero sambil membawa satu buah buku di tanganku.
Hero mengajaku untuk pergi ke ruang tamu. Dan di sana, ada Kak Mauren yang duduk asyik sambil bermain benda kotak berbentuk pipih di tangannya.
"Kak," panggil Hero yang menyadarkan Kak Mauren dengan kedatangan kami.
"Ngapain Kakak nggak ke kamar? Biasanya ngunci pintu di kamar?" tanya Hero sambil membanting tubuhnya di atas sofa.
Aku ikut duduk di sofa dengan sopan. Kak Mauren melihat ke arahku sambil tersenyum. Wanita cantik bertubuh mungil itu membuat aku ikut membalas senyuman di wajah cantiknya. Bedanya, aku tidak cantik. Ah sudahlah kalian pasti tau tanpa aku beri tau.
"Ica," panggil kak Mauren yang membuatku menjawab."iya?"
"Ajarin aku kepang rambut dong," katanya lagi.
Astaga, wanita cantik ini. Apa yang dia pikirkan dengan mengepang rambut? Aku saja terlihat sangat jelek. Oh ya, beda dia memang sudah cantik bawaan orok. Jadilah seperti itu. Mau di bentuk apa saja cantik tetaplah cantik.
"Iyah, kak.." jawabku lagi.
"Kak," panggil Hero ke arah kakaknya dengan tangan yang menyangga kepala.
"Apaa?"
"Mau bantuin Hero sama Ica nggak?" Tanya Hero ke arah Kak Mauren. Apa maksutnya? Aku tidak paham, ada apa lagi dengan pria tampan ini.
"Bantuin apa?" tanya Kak Mauren tanpa basa basi.
"Ajarin Ica dandan,"
Haaaaaaa?
Whaaat.
Apa apaaan?
Dandan?
Oh ya Tuhan, bahasa apa itu.
Makanan apa itu?
Dandan?
Punya bedak di rumah aja enggak,
Mau apa lagi si Hero ini, teriaku dalam hati.
Kak Mauren tersenyum antusias ke arahku. Matanya juga tak berhenti meneliti penampilanku dari atas ke bawah. Aku benar baner malu. Aku menundukan kepalaku setelah ucapan Hero tadi.
"Maksutnya apa? Hero, kamu apa apaan deh?" tanyaku dengan lidah yang kelu.
"Ca, biar kamu nggak di bully lagi.." jelas Hero yang menarik perhatian kak Mauren.
"Di Bully? Kenapa?"
Aku mengangkat wajahku. Melihat ke arah kak Mauren sekaligus Hero yang menatapku. Menunggu jawaban dari mulutku.
"Kenapa Ica di bully?" tanya kak Mauren lagi yang membuatku terpaksa bersuara.
"Cerita, Ca.." ucap Hero yang ikut melihat ke arahku.
"Aku, aku di anggap cupu. Aku, miskin, aku nggak cantik, dan aku.."
"Hey, Ica. Stop.. jangan dengerin omongan sampah mereka," kata Kak Mauren yang berpindah duduk di sampingku.
Wanita cantik itu memeluku dari samping. Oh what? Apa dia tidak jijik dengan bau tubuhku yang apek? Bahkan orang lain tidak pernah melakukan ini padaku. Kecuali ibuku sendiri.
"Aku nggak tau, kak. Apa yang mereka bilang emang bener. Kenytaannya emang seperti itu," jawabku sambil menoleh ke arah kak Mauren.
"Ca,mereka aja yang keterlaluan sama kamu. Kamu nggak kayak gitu," jelas kak Mauren yang membuat aku tersenyum terpaksa.
"Sebenernya kamu itu cantik lho, Ca. Jujur aku nggak bohong. Kamu cantik asli, cuma kan kamu nggak ngerawat diri kamu," jelasnya lagi.
Aku menundukan kepalaku. Kemudian berkata. "Kakak nggak jijik peluk aku?" tanyaku sepontan yang membuat kak Mauren melihat ke arahku sambil terkekeh.
"Nggak lah, Ca. Enggak sama sekali. Kenapa aku harus jijik?"
"Temen temen bilang aku dekil, kak. Aku bikin mereka jijik," jawabku jujur. Mataku berkaca kaca. Oh Tuhan, aku mohon jangan kelurkan air kristal ini saat ini. Kuat, Ca.. kuat... kamu nggak boleh nangis di depan mereka.
"Ca, kamu tau nggak? Aku ngerasaain gimana keadaan kamu. Mereka keterlaluan ngehina kamu. Dan yang perlu kamu tau, kamu nggak kayak gitu.."
Aku diam.. aku bungkam. Aku tidak mampu bersuara lagi karena takut suaraku bergetar.
"Ca.. jawab aku. Kamu nggak kayak gitu kan?"
Aku menggelengkan kepalaku. Mejawabnya dengan setengah hati. Meskipun pada kenyataannya memang benar.
"Nah, kalau kamu nggak kayak gitu. Buktiin, Ca. Buktiin ke mereka kamu nggak seperti yang mereka pikir.."
Bukti apa lagi? Harus apa aku? Aku tidak tau sama sekali. Aku benar benar bingung. Sudah pernah dulu aku mencoba menentang mereka. Tapi, nihil. Semua tetap sama saja.
"Aku nggak punya bukti,kak. Karena emang kenyataannya aku begitu.." jelasku lagi.
"Stttt.. No, Kamu cantik. Hati kamu baik. Kamu percaya sama aku nggak? Aku dan Hero bakal bantu kamu buat buktiin ke mereka,"
"Maksut kakak?"
"Percaya sama aku dan Hero ya, Ca. Jangan takut, aku ini orang baik. Aku nggak ada niat jahat sama kamu,"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Bukan maksut begitu, kak. Aku cuma.. aku cuma nggak enak. Kita baru aja kenal, dan kakak udah baik banget sama aku. Aku nggak mau ngerepotin kakak.."
"Siapa yang kamu repotin, Ca? Enggak ada yang di repotin. Aku ikhlas bantu kamu. Karena dulu, aku juga pernah di Bully jadi aku nggak suka ada orang yang di Bully, Ca. Karena aku tau rasanya di Bully itu nggak enak,"
"Aku nggak mau manfaatin kebaikan kakak sama Hero. Aku bukan siapa siapa, aku juga baru sehari kenal Hero.."
"Nggak masalah, Ca. Jangan sungkan begitu," kata Hero ke arahku.
"Jadi, kamu mau kan berubah? Buat buktiin ke mereka?"
Aku menganggukan kepalaku meskipun aku masih agak ragu dengan keputusanku. Aku hanya berharap, ini adalah hal yang terbaik untukku nanti.