Sore ini aku pulang dari rumah Hero.
Pria itu mengantarku sampai di depan g**g rumahku. Dan kini aku berjalan menuju rumahku karena hari sudah semakin petang. Dan aku yakin, ibu masih menungguku.
Di tengah perjalananku, aku bersimpangan dengan seorang bapak bapak yang menggunakan jas kantoran. Pria dengan wajah paruh baya itu tersenyum ke arahku saat mata kita sama sama bertemu.
Tumben sekali ada orang seperti ini yang berkunjung ke daerah kumuh tempat tinggalku?
"Permisi, pak.." sapaku dengan ramah sambil menundukan kepala di hadapannya.
Bapak bapak itu tersenyum menerima sapaan ku dengan ramah.
Selang beberapa langkah setelah menyapa bapak tadi. Keningku mendadak berkerut dengan langkah kaki yang terhenti. Aku segera mengambil dompet berwarna coklat muda itu dan segera memutar tubuhku ke arah bapak tadi.
"Pak.. tunggu.." panggilku sambil berteriak.
Bapak tadi pun memutar tubuhnya dengan wajah terkejut penuh tanya.
"Iya?" tanyanya lagi.
Aku menghampiri bapak bapak itu sambil mengulurkan dompet di tanganku.
"Maaf, apa ini milik bapak?" Tanyaku yang membuatnya segera menganggukan kepala.
"iya.. astaga, ini dompet saya."
"Iya, pak. Tadi jatuh di sana.."
Bapak itu kembali mengecek dompet miliknya. Kemudian mengambil kartu tanpa pemiliknya dan memperlihatkan nya padaku.
"Ini, ini bukti dompetnya milik saya, ya.."
Aku menganggukan kepalaku untuk percaya dengan bapak.
"Terimakasih ya, nak. Kalau dompet ini sampai hilang. Saya harus urus semua kartu debit dan surat surat penting.." jelas bapak itu lagi yang membuatku tersenyum.
"Yaudah, pak. Saya permisi dulu. Lain kali hati hati ya, pak.." lanjutku sambil memutar tubuhku.
"Eh, nak.."
"Iya?"
"Siapa namamu?"
"Ica.." jawabku dengan senyum manis.
"Ica?" Tanya bapak itu lagi raut wajah sedikit terkejut.
"Iya, emang kenapa, pak?"
"Oh, enggak. Hanya mirip, nama anak saya. Mungkin kebetulan.." katanya lagi sambil tersenyum hambar.
Aku tersenyum juga sambil menganggukan kepala.
"Oh, yaa. Ini untuk kamu.." lanjut bapak tadi sambil mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Aku segera menggelengkan kepalaku. Bagaimana pun tidak mungkin aku menerimanya.
"Ah.. enggak pak. Saya nggak mau. Saya ikhlas, dan kebetulan saja saya bisa membantu.." ucapku yang membuatnya kebingungan.
"Tapi, kamu udah bantu saya.. kamu terima ya.." lanjutnya lagi sambil mengelurkan uang itu.
"Enggak, pak. Terima kasih.."
"Tapi,"
"Saya permisi, pak. Maaf ibu saya sudah menunggu di rumah.."
Bapak itupun menganggukan kepalanya kemudian kembali memasukan uangnya ke dalam dompet.
"Kamu orang sini?"
Aku menganggukan kepalaku.
"Yaudah. Makasih untuk kejujurannya..saya berhutang budi sama kamu.."
"Tidak kok, pak. Saya senang bisa membantu.." ucapku kemudian menundukan kepala sekali lagi dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Aku berjalan untuk pulang ke rumah.
Dan sesampainya aku di rumah. Aku sangat terkejut karena ibu menangis di teras rumah. Aku segera mempercepat langkahku untuk segera menghampiri ibu.
"Ibu? Kenapa?" tanyaku sambil memeluk malaikat terbaik itu.
Ibu tidak menjawab, masih terus menangis tersendu sendu.
"Penagih hutang itu datang lagi, bu?" tanyaku tanpa melepaskan pelukan kami.
Ibu menggelengkan kepalanya. Masih bisa ku rasakan di bahuku.
"Terus ibu kenapa?" tanya ku lagi kelewat penasaran. Takut takut ada orang yang tega menyakiti ibu.
Ibu melepaskan pelukan kami kemudian menyeka air matanya sendiri.
"Ibu jangan nangis. Ibu nggak boleh nangis," kataku sambil mengusap air mata di wajah kirutnya.
"Ibu nggak papa, Ca."
"Beneran kan ibu nggak papa?"
"Iya, sekarang kamu siap siap gih. Kita jualan.."
Aku menganggukan kepalaku sambil tersenyum ke arah ibu. Setelahnya, aku segera masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian.