Jangan meragukan kecepatan lari seorang Arjuna Dirgantara. Dalam sekejap pemuda itu sudah berada di lantai tiga sekolahnya, di depan kelas XII IPS 1, kelas Jefri Wiryawan. Kedatangannya mengejutkan para siswa di kelas itu, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka yakin ada sesuatu sehingga pemuda yang terkenal sebagai salah satu pangeran sekolah itu datang ke kelas mereka. Mungkin karena tersebarnya pesan di grup sekolah yang mengatakan kalau kekasihnya adalah perempuan mura*an yang bisa dibayar –sudah sampai ke telinganya, atau mungkin juga karena hal lain. Namun, dilihat dari wajahnya yang mengeras, mereka memilih opsi pertama. "Di mana Jefri?" Suara Juna menggelegar di dalam ruang kelas yang sudah dipenuhi oleh delapan puluh persen siswa. Tak ada yang menjawab. Mereka semua terdiam d

