Tak ada yang bisa diharapkan oleh Diva untuk menolongnya. Jefri menariknya, menyeretnya ke arah toilet perempuan yang tidak terpakai di lantai dua sekolah mereka, toilet yang dulu pernah digunakannya bersama Juna mengurung diri di sana, toilet yang dulu pernah dia melihat Juna bersama Tasya saling berciuman, toilet yang mempunyai fungsi berbeda dari fungsi seharusnya karena letaknya yang berada di ujung lorong –para siswa perempuan terlalu malas ke ujung lorong sehingga tak ada yang menggunakan toilet dan menjadi toilet terbengkalai, toilet yang letaknya tak jauh dari balkon favoritnya di sekolah. Di sepanjang jalan Diva terus meronta, kedua tangan dan kakinya terus memukul dan menendang –melakukan apa saja yang dia bisa– agar dapat membebaskan diri. Dalam hati Diva berharap ada seseoran

