Keadaan kantin hari ini tidak seramai hari-hari biasanya. Sisa-sisa atmosfer tadi pagi yang mencekam masih terbawa sampai saat istirahat. Tidak ada keributan atau saling lempar keripik kentang dan semacamnya, semua penghuni kantin larut dalam kebungkaman mereka. Tak ada yang berani bersuara, termasuk gadis berkacamata yang duduk di meja bagian sudut. Sudah menjadi kebiasaannya untuk duduk di meja ini, semua meja di kantin ini seolah sudah ada pemiliknya. Meskipun tidak ada nama mereka tertulis di setiap kursi maupun meja, tetap saja mereka –anak-anak populer itu mengakui sebagai tempat duduk mereka. Hanya meja yang terletak di sudut-sudut saja yang tersisa untuk anak-anak tidak populer seperti dirinya. Gadis itu menundukkan kepala, menggigiti kuku jarinya. Kebiasaan kala ia merasa gugup

