Diva kembali terhempas dengan gelombang yang menggulung lebih dahsyat. Sudah beberapa bulan mereka bersama, dia masih belum dapat menandingi Juna, pemuda itu masih terlalu berpengalaman untuknya. Dua kali dia ombak mengantarkannya ke tepian, sementara Juna masih baik-baik saja. Juna masih bermain di bagian bawahnya bahkan dengan masih berpakaian lengkap. Begitu berbeda dengan dirinya yang sudah polos. Entah kapan Juna melucuti seluruh pakaiannya, dia tak ingat lagi. Juna selalu dapat membuatnya melupakan segalanya, Bahakan kadang di mana mereka berada. Tubuhnya selalu memanas setiap kali Juna menyentuhnya. "Kamu nggak apa-apa, Be?" tanya Juna sambil mengusap keringat di pelipis gadisnya. Diva memejamkan mata dengan mulut terbuka. Sepertinya dia bernapas dari sana. Tak tahan, Juna kemba

