HUTANG LAGI?

560 Kata
Setelah pertanyaan kala itu pada ibunya Kirana sampai saat ini tidak berani bertanya apa pun lagi terkait masalah hutang kakeknya. Ia memilih untuk memendam rasa penasarannya karena takut jika orang tuanya malah marah pada dirinya. Seperti saat tadi siang, seorang pria paruh baya dengan rabut yang sedikit beruban namun tubuhnya masih tegap datang ke rumah Kirana. “maaf pak saya lagi butuh banget uangnya.” Ucap pria yang datang tersebut. Kirana bersembunyi di balik dinding, bukan sengaja menguping tapi dirinya memang akan keluar dari kamar. Namun niatnya terhenti karena ada bapaknya dan seorang pria yang tengah duduk di ruang tamu. Kirana tidak bisa melihat ekspresi bapaknya seperti apa saat ini, “Berapa pak?” tanya bapaknya Kirana yang hanya mampu di dengar suaranya saja oleh Kirana. “Sebetulnya saya butuh semuanya pak, kebetulan anak saya mau masuk SMA tahun ini. Butuh biaya lebih pak,” ucapan pria paruh baya itu tampak memelas seperti orang yang benar-benar membutuhkan. Bapaknya Kirana terdengar menghela nafas, “Kalau setengahnya dulu gimana pak? Sisanya saya segera usahakan pak.” Ucap bapaknya Kirana sedikit tidak enak dari nada bicaranya. Kirana yang masih mendengarkan percakapan mereka kembali dibuat kesal, baru waktu itu hutang kakeknya akan lunas. Dan kini siapa lagi pria yang datang itu, kembali menagih uang pada bapaknya Kirana. Padahal hidup mereka saja belum berkecukupan namun harus menanggung hutang kakeknya yang entah dipakai apa uangnya. “Tidak apa apa pak.” Jawab pria tersebut, membuat Kirana semakin menajamkan pendengarannya karena ia penasaran dengan jumlah uang yang akan dibayar oleh bapaknya kali ini. “Saya nanti transfer yah pak, bapak kasih aja nomor rekeningnya ke saya.” Ucap bapaknya Kirana membuat Kirana kecewa, ia gagal mengetahui nominal uang yang dibayarkan bapaknya kali ini. Sepertinya percakapan mereka sudah berlangsung sejak tadi dan Kirana tertinggal jauh. “Baik, terima kasih banyak pak. Maaf sudah merepotkan, semoga rezeki kalian berkah karena telah ikhlas menolong saudara dan juga keluarga.” Kalimat itu terucap biasa saya dari lelaki paruh baya itu, namun Kirana tampak menangkap hal lain. Saudara? Keluarga? Bukannya itu hutang kakeknya dan jelas saja jika membayarkan hutang yang entah bekas apa dahulu bukanlah berbuat baik karena itu tuntutan. “Bodo amatlah,” Kirana akhirnya pasrah dan tidak ingin memikirkan hal lain lagi, meski dirinya juga korban dari hutang kakeknya itu karena harus hidup pas pasan. Belum lagi berjuang susah payah untuk masuk sekolah favorit padahal jika orang tuanya seperti dulu banyak uang tentu saja hidup Kirana tidak akan sesulit ini. Jam dinding, menunjukkan pukul lima sore saat Kirana baru sadar jika ada tugas membuat kerajinan kreatif dari sekolah, namun ia belum mengerjakannya sedikit pun karena tertidur lelap usah mengeluh tadi saat melihat bapaknya harus kembali membayar hutang sang kakek. “Natasya lo bikin apa?” Kirana mengirim pesan singkat pada sahabatnya, Natasya yang pastinya ia juga belum mengerjakan tugas tersebut. Satu menit, dua menit belum juga ada balasan dari Natasya. “Na?” satu pesan masuk dengan cepat Kirana membukanya. “Agam?” ucap Kirana sambil membuka pesan dari Agam “Balas jangan ya?” ucap Kirana sendirian, seolah ia sedang bertanya pada dirinya sendiri. “Yahhh.....” Akhirnya Kirana membalas pesan tersebut. Tidak butuh waktu lama Agam kembali mengirim pesan, “Gue bingung mau bikin apa?” tulis Agam kemudian mengirimnya pada Kirana. Kirana yang mendapat pesan tersebut hanya geleng-geleng kepala karena Agam telah bertanya pada orang yang salah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN