HUTANG KAKEK

1033 Kata
Selepas kepulangan Agam, Kirana disibukkan dengan urusan membantu orang tuanya di toko. Menjelang sore hari memang sering ramai datang pembeli. Maklum saja sore hari adalah jadwal orang berada di rumah. Setelah seharian berada di luar dengan kesibukannya masing-masing. “Kirana mie telornya dua ya.” Teriak seorang wanita paruh baya yang tidak asing lagi pada Kirana. Hampir setiap orang sekitar sana mengetahui siapa itu Kirana. Karena ia sering membantu orang tuanya menjaga toko. “Siap bu, tambah apalagi?” Kirana berjalan mengambil pesanan ibu tersebut. “Telurnya satu kilo, micinnya satu!” lanjut wanita tersebut. “Micin terus bu, gak baik lo. Hehe..” Kirana tersenyum bercanda. Sepertinya masakan sekarang tidak akan lengkap rasanya jika tidak dibumbui micin. Pantas sana generasi Kirana sering disebut anak micin. “Tak sedaplah, ibarat kau digombali pacarmu tapi tidak romantis.” Balas wanita paruh baya yang Kirana panggil ibu tersebut. “Haha sayang belum pernah digombalin buk, jadi gak tahu.” Ucap Kirana jujur, sambil menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan perumpamaan ibu tersebut. Sedangkan tangannya sedari tadi masih cekatan mengambil telur untuk dikilo. “Makanya punya pacar kau.” Balas Wanita tersebut. “Santai buk, cowok banyak.” Balas Kirana balik tidak mau kalah. Sedangkan wanita paruh baya tersebut hanya menggelengkan kepala salut pada Kirana yang dimatanya adalah anak baik sekaligus pintar. Jam delapan malam, toko sudah tutup. Hampir setiap hari toko orang tua Kirana tutup di jam yang sama kecuali jika ada bapak-bapak kompleks yang mengajak bapaknya Kirana untuk bermain catur sekaligus ngopi di sana. Baru toko akan tutup agak malam. “Mah udah mateng segini belum?” tanya Kirana pada ibunya yang sedang mengiris bawang. “Cobain aja, kalau udah empuk berarti mateng.” Balas ibunya Kirana tanpa menoleh ke arah Kirana. Karena tanpa dilihat pun insting chefnya bekerja dengan sempurna. “Masih agak keras kayaknya.” Ucap Kirana setelah mencicipi sedikit daging sapi yang ia masak. “Tambahin air, terus ungkep lagi.” Suruh ibunya. “Siap.” Patuh Kirana menuangkan beberapa mililiter air putih pada wajan. Bapak Kirana datang dengan secangkir teh ditangannya kemudian duduk di kursi, tepat di sebelah Kirana. Bapaknya baru selesai menonton berita malam atau hiburan yang biasa disajikan di televisi. Karena setelah seharian bekerja di toko. Malam adalah waktu yang tepat untuk orang tua Kirana melepas lelah. “Mah, alhamdulillah.” Ucapan syukur terucap dari mulut bapaknya Kirana wajahnya terlihat sedikit haru entah apa yang sedang ia syukuri karena kalimat yang menggantung membuat Kirana tidak bisa menyimpulkan begitu saja. Kirana menaikkan sebelah alisnya, “Kenapa pak?” tanyanya kemudian, mendahului ibunya yang akan bertanya hal yang sama. “Hutang kakek udah mulai berkurang, tinggal tiga juta lagi Na.” Jelas bapaknya Kirana menghapus penasaran yang sejak tadi bergelut dalam pikiran Kirana. “Kapan bapak bayar?” tanya ibunya Kirana, pisau yang ia pegang perlahan diletakkannya karena ingin fokus pada suaminya yang sedang bicara. “Kemarin mah, sengaja bapak gak bilang. Tapi itu bukan penghasilan dari toko semua ada beberapa tabungan bapak yang sengaja bapak simpan untuk bayar hutang.” Jelas ayahnya Kirana. Mendengar pengakuan seperti itu ibunya Kirana tersenyum, bukan marah yang seharunya ia lakulan karena suaminya telah berbohong padanya menyimpan tabungan secara diam-diam tanpa sepengetahuannya. Namun, ibunya Kirana tidak demikian malah terlihat dari raut wajahnya ia bahagia. “Alhamdulillah, cape lunasin hutang kakek terus. Dari pas kita hidup serba ada sampai sekarang kita hidup pas pasan gara-gara lunasin hutang kakek.” Ucapan Kirana membuat senyum ibunya luntur seketika. “Na, udah. Anggap saja ini roda kehidupan kita, jangan bahas yang sudah berlalu. Bersyukur kita masih hidup seperti ini.” Nasihat ibunya Kirana, bukan tidak merasakan dan peka pada perasaan anaknya namun semua sudah terjadi dan tidak ada artinya lagi penyesalan apa pun. “Bapak minta maaf Na, tapi kalau bukan bapak yang lunasin siapa lagi.” Sambung bapaknya Kirana, wajah tegap menghadap Kirana. Karena yang Kirana katakan memang benar, jika kakeknya Kirana dahulu tidak memiliki hutang sebanyak itu hidup mereka saat ini sudah lebih dari berkecukupan. Namun semuanya harus kembali berjuang dari nol karena bapaknya Kirana harus melunasi semua hutang-hutang itu. “Gak papa, Kirana paham cuman ketika bahas ini masih sangat kecewa sama kakek.” Pungkas Kirana sambil berdiri untuk melihat masakan yang ia ungkep tadi. “Udah mateng,” Ucap Kirana sengaja memberitahu untuk mengalihkan topik pembicaraan. “Angkat masukin aja ke dalam mangkuk.” Suruh ibunya “Tadi itu teman kamu?” tanya bapaknya Kirana membuat Kirana diam dan membalikkan badannya menghadap sang bapak. Mangkuk yang ia bawa ia letakkan di atas meja, “Iyah teman sekelas aku.” Jawab Kirana. “Beneran teman?” ibunya menekan kalimatnya seolah tidak percaya dengan jawaban Kirana. “Beneran lah,” jawab Kirana cepat mematahkan pikiran negatif ibunya. Karena Kirana sejak dulu tidak pernah membawa pria asing ke rumahnya, dan saat tadi Agam mampir pasti membuat orang tuanya heran dan memikirkan hal yang aneh-aneh tentang Agam. “Sopan anaknya, kelihatannya dia dari keluarga berada yah.” Bapak Kirana ikut menyambung obrolan. “Iyah kayaknya, tapi gak tau lah. Kirana gak kepo juga.” Ucap Kirana sambil pergi berlalu berniat mengambil piring untuk mereka makan. Bapaknya Kirana hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Kirana yang seperti itu. Piring yang ia bawa sudah diletakkan di atas meja, “Apalagi ini mah?” tanya Kirana pada ibunya yang baru selesai mengiris bawang. “Udah tinggal makan sekarang.” Jawab ibunya, tangannya sibuk membenahi irisan bawang yang berceceran. “Bapak mau ke toko sebentar ambil kerupuk dulu,” bapaknya Kirana berdiri, kemudian berlalu pergi. Kirana duduk di sebelah ibunya, “Aku duluan makan keknya lapar bu.” Kirana mengambil piring menyedokkan nasi di sana dan mengambil beberapa lauk. “Iyah biarin aja bapakmu nyusul.” “Mah?” Kirana memanggil ibunya yang sedang menyimpan irisan bawang ke dalam wadah. Berniat untuk menyimpannya di dalam kulkas untuk dagangan besok. “Kenapa?” tanya ibunya melirik Kirana yang belum menyentuh makanannya, mungkin Kirana kekurangan sesuatu dan memanggil ibunya. Kirana menghela nafas berat, “Mah Kirana beneran pengen tahu. Hutang kakek itu dipakai apa?” tanya Kirana dengan raut wajah memelas berharap kali ini sang ibu akan menjawab pertanyaannya. Namun bukan jawaban yang Kirana dapat, namun helaan nafas berat saja di sana yang terdengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN