“Jangan bilang lo gak tau ini namanya apa aja.” Ucap Kirana karena melihat Agam yang melongo diam memperhatikan sepiring gorengan yang disuguhkan ibunya barusan.
“Haha gue tahu kok,” jawab Agam percaya diri padahal ia hanya tahu satu jenis saja. Dan itu pun kalau tidak salah.
Kirana tersenyum, “Yang mana? Ayok sebutin!” pinta Kirana menantang Agam.
“Ini bakwan kan?” ucap Agam sambil menunjuk sebuah gorengan yang ada di dalam piring.
“Terus?” lanjut Kirana.
“Udah tahu itu aja sih. Hehe.” Agam terkekeh malu karena hanya mampu menyebutkan satu jenis saja. Sedangkan di sana sepertinya hampir ada lima jenis gorengan yang disuguhkan ibunya Kirana.
Kirana menggelengkan kepalanya, “Berarti bener yah lo itu anak orang kaya banget..” ucap Kirana setelah ia amati Agam rata-rata tidak tahu perihal makanan tersebut. Padahal makanan tersebut sudah melegenda dan mungkin kebanyakan orang sangat mencintai makanan tersebut termasuk dirinya.
“Bukan gitu,” Ucap Agam tidak enak sekaligus cemas jika sampai Kirana mengira dirinya anak orang kaya dan nantinya Kirana enggan untuk menjadi teman Agam.
“Terus kenapa?” tanya Kirana dengan nada penasaran bukan nada sinis.
Agam ragu untuk berbicara tapi ia tidak ingin Kirana tahu semaunya dari orang lain dan membuatnya merasa dibohongi oleh Agam.
“Gak papa cerita aja.” Ucap kirana yang menyadari raut wajah Agam, Kirana kemudian dengan santai mencomot satu gorengan cireng dari piring.
“Cerita sambil makan.” Lanjutnya dengan santai meniup niup cireng yang masih panas.
“Tapi lo jangan jauhin gue, apalagi sampai gak mau berteman sama gue.” Nada bicara Agam sedikit cemas.
Kirana mengangguk, “Santai aja gue gak pilih-pilih teman sekali mereka baik sama gue.” Ucapnya sambil menyuapkan cireng ke dalam mulutnya.
“Gue sebenarnya cucu dari pemilik yayasan.” Ucap Agam ragu entah perempuan itu akan percaya atau tidak terserahnya yang terpenting Agam sudah berusaha untuk bicara yang sejujur jujurnya.
“Gue udah tahu,” balas Kirana santai tidak kaget, tidak merasa dibohongi ekspresi wajahnya begitu santai sampai membuat Agam heran kenapa Kirana bisa sedatar itu. Sedangkan yang lain takluk ketika Agam berkata demikian.
“Lo gak kaget?” Agam bertanya kembali berharap Kirana barusan salah dengar atau pura pura stay cool di depan Agam.
“Enggak, biasa aja tuh.” Jawab Kirana mantap mulutnya tidak berhenti menguyah.
Agam menarik nafas berat, heran pada perempuan di depannya. “Lo tahu dari mana?” tanya Agam kemudian.
Kirana mengambil tisu untuk dijadikan lap tangannya yang sudah mulai dipenuhi minyak, kemudian menatap Agam. “Denger pas lo ngomong sama kakak kelas, siapa sih Arif? Afis?”
“Aris?” potong Agam.
“Nah iyah itu.” Ucap kirana mengangguk.
“Pantes lo gak kaget. Terus kenapa bisa yakin?” tanya Agam level penasarannya masih tinggi karena Kirana bisa percaya begitu saja.
“Terus gue sadar pas baca nama panjang lo.” Ucap Kirana.
“Kok sama kayak pemilik yayasan.” Lanjutnya kemudian.
Kirana menarik nafas kasar, “Tapi gue salut sama lo, gak gunain kekuasaan seenaknya lo juga orangnya asyik gak sombong itu sih penilaian gue sejauh ini.” Terang Kirana membuat Agam tersenyum bagaimana tidak perempuan di depannya memuji jika dirinya tidak sombong hal yang sangat membanggakan bagi Agam karena sukses membuat Kirana memberikan penilaian positif.
Agam tersenyum, “Jadi malu gue.” Ucapnya sedikit keras karena hujan di luar semakin lebat dan suara mereka terdengar samar jika berbicara pelan.
“Ah yaudah sih, makan tuh. Cobain ini enak.” Ucap Kirana menunjuk cireng yang ia makan tadi.
“tapi gak tahu di mulut lo,” ralat Kirana lupa jika dirinya bisa saja menyebut itu enak tapi di mulut Agam belum tentu itu enak.
Agam yang ingin membantah ucapan Kirana mengambil satu cireng dengan cepat, menuangkan sedikit saus seperti yang Kirana lakukan.
“Enak banget. Kenyal,” ucap Agam saat sudah berhasil mengunyah cireng tersebut.
Kirana bertepuk tangan, “Tuhkan apa gue bilang enakkan.” Kirana histeris karena lidah Agam ternyata bisa menerima makanan tersebut.
“Nyesel gue dari kecil tinggal di luar negeri.” Ucap Agam refleks
“Maksud lo?” Kirana tidak paham. Agam yang sudah terlanjur bicara tidak bisa menarik kembali kara-katanya apalagi Kirana pasti sudah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Agam.
“Gue dari kecil tinggal di luar negeri, kelas tiga smp baru gue pindah ke Indo.” Ucap Agam menjelaskan keadaannya dahulu.
“Oh jadi itu sebabnya lo kurang tahu makanan indo yah?” tanya Kirana meyakinkan tentu saja kalau seperti itu pasti Agam sangat terbatas pengetahuannya tentang makanan Indonesia namun sepertinya Agam kini mulai terbiasa karena Kirana sesekali permah melihat Agam makan di kantin sekolah.
“iyah, terus pas pindah ke indo. Ibu gue pasti bikinin bekal buat sekolah dan jarang banget gue jajan di luar. Karena itu dia ada makanan ibu gue yang harus habis, meski kadang suka icip-icip sih. Haha.” Cerita Agam mengingat masa lalunya yang selalu dibawakan bekal oleh sang ibu, hingga membuat Agam segan untuk jajan di luar.
Kirana mengangguk paham, “Oke gue paham. Tapi sekarang ibu lo gak sampai larang lo jajan di luar kan?” tanya Kirana memastikan.
Agam menggelengkan kepala, “Enggak kan udah gue bilang tadi kalau sekarang orang tua gue sibuk. Jarang banget ada di rumah jadi lo tahu lah gimana lanjutannya.” Agam sepertinya tidak ingin melanjutkan ucapannya karena dalam hatinya terselip rindu untuk bersama kembali dengan orang tuanya. Meski pun Agam tidak menampik jika meski pun mereka sibuk masih selalu berusaha untuk memberikan perhatian pada Agam.
“iyah gue paham, tapi orang tua lo mungkin mau ngasih lo yang terbaik makanya mereka kerja banting tulang demi lo. Meski pun gue yakin hidup lo udah berada tapi jangan negatif dulu mungkin orang tua lo pengen ngerjar suatu.” Jelas Kirana memberikan penerangan sekaligus sedikit nasihat positif pada Agam.
“Contohnya orang tua gue, mereka kerja tiap hati jaga toko bikin dagangan demi gue. Kadang gue harus ikutan cape bantuan mereka. Beda versi aja kita, orang tua lo sibuk di luar rumah. Sedangkan orang tua gue sibuk di dalam rumah. Karena itu tempat mereka kerja di sini.” Lanjut Kirana memaparkan teorinya dengan semangat.
Agam tersenyum mendengar Kirana berbicara bahkan nafasnya harus tersenggal senggal karena ia berbicara tanpa jeda. “minum Na!” suruh Agam kasihan.
“Haha sory terlalu semangat nih.” Kirana mengambil Segelas air dan meneguknya hingga menyisakan beberapa tetes saja.
“Oke gak papa.” Balas Agam.
“Hujannya udah mulai reda kayaknya gue pamit sekarang.” Ucap Agam saat menyadari hujan sudah mulai reda tidak enak masih berada di sana dengan alasan berteduh sedangkan hujan sudah mulai reda.
“Balik sekarang?” tanya Kirana.
“Iyah.” Angguk Agam
Setengah jam berlalu Agam sudah sampai di rumahnya, setelah tadi berpamitan dengan Kirana dan orang tuanya Agam langsung pulang ke rumah. Rumah yang hanya ditempati oleh dirinya dan juga dua orang pembantu suami istri. Meski kadang ayah dan ibunya akan pulang tapi tetap saja mereka lebih sering bertiga di rumah.
“Mbak saya mau langsung ke kamar yah “ ucap Agam pada mbak Tuti asisten rumah tangga di rumahnya.
“Gak makan dulu?” tanya mbak Tuti karena biasanya saat pulang ke rumah Agam akan langsung makan baru kemudian naik ke atas untuk istirahat.
Agam menggeleng cepat, “Enggak nanti aja mba belum lapar.” Ucap Agam.
Ceklek, pintu kamar Agam terbuka menampilkan nuansa abu-abu serta hitam yang mendominasi kamarnya. Khas Agam sekali yang menyukai warna hitam dan abu-abu, sejak kecil memang itulah warna kesukaannya.
Agam menggantungkan tasnya, kemudian duduk di kursi belajar. Memperhatikan sekelilingnya yang tidak asing lagi.