RUMAH KIRANA

1129 Kata
“Enak,” ucap Agam saat satu telur gulung sudah mendarat di mulutnya. “Iyahlah, ini langganan aku dari dulu.” Balas Kirana, mereka berdua kini tengah duduk dibangku yang berada dipinggir jalan. Menikmati telur gulung yang sudah menjadi langganan Kirana sejak dulu. Dan Agam yang baru kali itu memakan telur gulung dibuat takjub dengan rasanya. “Aku gak pernah makan sih, jadi gak tahu rasanya.” Ucap Agam lagi seperti menyesali bahwa dirinya tidak pernah mencoba telur gulung sejak dulu. “Haha makannya jajan dong, kamu keknya belum tahu bahwa banyak banget jajanan enak pinggir jalan.” Terang Kirana sambil membayangkan betapa banyaknya surga makanan pinggir jalan yang siap membuatnya ngiler. Agam tersenyum, “Kuy kulineran.” Ucapnya mantap apalagi saat melihay ekspresi Kirana yang begitu menggemaskan. Kirana menoleh, “Enggak ah ntar ibu kamu marah.” Ucapnya kemudian menolak ajakan Agam untuk menikmati kuliner. Agam tersenyum, “Enggaklah masa marah.” “Lah dari dulu kan kamu selalu dibawain bekal makan itu tandanya ibu kamu gak mau anaknya jajan sembarangan.” Ucap Kirana memberikan opininya. “Tapi kan sekarang engga, udah gak pernah lagi bawa bekal makan.” Bantah Agam. “Kenapa?” tanya Kirana hal yang seharusnya tidak Kirana tanyakan tapi apalah daya ia kepo dan lutunya tidak bisa diajak kompromi. “Aku gak mau, terus ibu sibuk juga.” Jawab Agam jujur, jika ibunya kali ini memang sedang sibuk menemani ayahnya dalam perjalanan bisnis dan jarang berada di rumah. “Oh sibuk yah.” Kirana mengangguk paham. “Iyah.” Jawab Agam. Kirana mendongakkan kepalanya ke langit dan mendapati awan yang mulai mendung sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Padahal cuaca tadi sangat panas dan kini tiba-tiba saja mendung datang. “Gam, pulang sekarang yuk. Mau hujan kayaknya.” Ucap Kirana pada pria di Sampingnya yang masih asyik menikmati telur gulung. Agam ikut mendongakkan kepalanya dan benar saja ia mendapati langit yang sudah mulai mendung. “Iyah, yuk. Lagian gue gak bawa jas hujan nih.” Ucap Agam teringat jika dirinya tidak membawa jas hujan karena lupa apalagi Agam terbiasa pulang pergi naik mobil tidak pernah ingat untuk membawa jas hujan. “Yuk.” “Ayok,” Agam menghabiskan gulungan telur terakhir kemudian berdiri untuk mengambil motornya. “Ayok naik!” suruh Agam saat dirinya sudah bersiap duduk di atas motor hanya tinggal tancap gas saja. “Iyah.” Kirana naik ke motor Agam. Beberapa saat kemudian saat sudah hampir sampai ke rumah Kirana gerimis turun melanda. “Neduh dulu?” tanya Agam pada Kirana padahal hujan belum turun dengan deras. “Gak usah rumahnya udah deket, tuh yang ada toko di depan.” Tolak Kirana saat Agam mengajaknya untuk berteduh. “Oh oke siap.” Ucap Agam tidak membantah. Baru saja Agam memarkirkan motornya di depan toko Kirana. Tiba-tiba hujan turun dengan deras membuat Agam dan kirana dengan cepat berlari mencari tempat untuk.berteduh. “Kirana?” bapaknya Kirana datang dari dalam toko saat mendengar suara hujan namun dibuat kaget sast mendapati Kirana dan satu lagi teman prianya. “Kok udah pulang?” tanya bapaknya Kirana curiga padahal Hari belum sore namun anak perempuannya itu suah berada di sana dengan seorang pria yang memakai seragam sama dengan baju seragam yang sama dengan Kirana. “Ini siapa?” belum juga pertanyaan pertama Kirana jawab ayahnya sudah kembali bertanya. “Saya Agam om.” Agam dengan cepat menjawab pertanyaan bapak Kirana. “Ah temannya Kirana satu kelas om,” lanjut Agam segan. “Oh iyah, panggil bapak saja nak.” Ucap bapaknya Kirana. Tidak ingin dipanggil om rupanya oleh Agam mungkin ia lebih nyaman dipanggil bapak. “Eh iyah pak,” Agam mengulang perkataannya. “Yaudah neduh dulu di dalam gih, Kirana ajak teman kamu ini.” Suruh bapaknya Kirana. Kirana melongo, kenapa mesti di dalam di sini kan udah teduh. “Eh di sini aja pak.” Agam menolak halus tidak enak dan pasti Kirana juga merasa tidak enak. “Eh di sini banyak orang yang datang, di dalam tenang. Mamahnya Kirana juga lagi bikin gorengan tuh,” jelas bapaknya Kirana. Kirana akhirnya pasrah, “Yaudah masuk yuk!” Kirana mengajak Agam masuk ke dalam. “Gak papa di sini aja.” Agam menolak lagi. “Eh ayok cepat.” Kirana kembali mengajak Agam sebelum bapaknya yang menyuruh kembali. Tiba-tiba datang pembeli, “Pak mau tepung satu kilo.” Ucap pembeli tersebut. “Tuhkan di dalam saja nak.” Ucap ayahnya Kirana pada Agam. “Iyah pak.” Agam akhirnya pasrah apalagi setelah melihat ada lagi pembeli yang datang dan bapaknya Kirana disibukkan dengan para pembeli. “Masuk ini rumah gue,” Kirana membuka pintu diikuti Agam di belakangnya. “Duduk Gam.” Suruh Kirana menyuruh Agam duduk di sofa ruang tamu. Agam mengikuti perintah Kirana untuk duduk di sana, itu adalah kali pertama dalam hidupnya Agam main ke rumah seorang perempuan. Karena sejak kecil pun ia jika punya teman perempuan pasti temannya tersebut yang akan datang ke rumah Agam bukan sebaliknya. “Lo mau kemana?” tanya Agam saat Kirana tidak ikut duduk dengannya. Kirana menoleh, “Mau ngambil minum.” Jawabnya sambil berlalu. “Gak lama kok,” ucapnya kemudian sedikit berteriak. Agam akhirnya pasrah menunggu kedatangan Kirana ia hanya bisa menoleh ke sana kemari saja. Rumah Kirana tampak nyaman dengan nuansa rumah berwarna biru muda. Hiasan dinding berupa tanaman kering dan foto-foto yang dipajang rapi cukup memanjakan mata Agam. Pemandangan diluar tidak kalah nyaman halaman yang sempit tapi mampu disulap dengan indah. Jajaran pot bunga nampak menambah sejuk suasana. “Inih minum dulu,” Kirana menyodorkan segelas air minum pada Agam. Agam yang haus sejak tadi langsung meneguknya tanpa sisa. “Sorry gue haus banget,” ucap Agam malu-malu. Kirana tertawa, “lucu lo, gue ambilin lagi yah.” Tawar Kirana. “Gak usah udah cukup kok,” tolak Agam. Kirana menaikkan sebelah alisnya, “Yakin?” tanya Kirana. “Yakin,” jawab Agam “Haha yaudah sih tapi bentar lagi ada gorengan lho,” ucap Kirana menggoda. “Gorengan?” tanya Agam pikirannya melayang memikirkan apa saja yang digoreng. “Iyah jangan bilang lo gak tahu apa itu gorengan.” Agam tersenyum bingung harus menjawab apa so tahu atau pura pura tahu, “Tahu dikit sih.” Ucapnya kemudian. “Kirana?” panggil ibunya dari dalam. “Iyah mah,” jawab Kirana setengah berteriak. Ibunya kemudian datang menghampiri Kirana dengan membawakan dua piring gorengan hangat yang isinya bermacam-macam. “Nih buat kalian.” Ucap ibunya Kirana sambil meletakkan gorengan tersebut di atas meja. “Makasih bu,” ucap Agam. “Sama-sama sebentar yah ibu antar ini ke depan buat bapak.” Pamit ibunya Kirana pada Agam. “Iyah silahkan bu.” Balas Agam. Agam terdiam mengamati makanan tersebut ada beraneka macam tapi Agam tidak tahu menahu apa saja isi dalam piring tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN