LIMA GULUNG

580 Kata
“Gue belum pernah makan telur gulung.” Ucap Agam jujur karena dirinya memang tidak pernah memakan telur gulung yang Kirana sebutkan yang Agam tahu telur itu hanya dimasak biasa saja entah definisi telur gulung akan seperti apa jadinya. “Serius?” tanya Kirana tidak percaya, mereka sekarang bisa berbicara santai karena Agam membawa motor dengan pelan namun Kirana pun tidak ada niatan untuk berkomentar dan menikmati perjalanan tersebut. “Iyah.” Jawab Agam mantap. “Masa gak percaya gue, itu jajanan sejak gue kecil sampe sekarang.” Terang Kirana. “Eh lupa lo kan jajanannya pasti mahal mahal yah.” Lanjut Kirana teringat jika Agam lahir dari keluarga berada dan pastinya jajanan lelaki tersebut sudah beda lagi levelnya dengan Kirana “Bukan gitu, cuman dari dulu gue jarang banget ngemil jajanan, setiap hari orang tua gue bawain bekel dari rumah. Dan itu bikin gue gak bisa jajan di luar.” Terang Agam tidak ingin membuat Kirana menyangka yang tidak-tidak. Apalagi berpikir jika Agam anak yang manja dan tidak suka makanan tidak sehat seperti itu. “Eh stop itu gerobaknya.” Ucap Kirana sambil sambil menepuk bahu Agam agar lelaki itu berhenti. “Oh iyah “ Agam kemudian memarkirkan motornya ke pinggir sedangkan Kirana sudah ngacir untuk memesan telur gulung tersebut. “Mang Sepuluh ribu yah.” Ucap Kirana pada pedang tersebut yang sudah tidak asing lagi pada Kirana. “Siap, kemana bapak?” tanya Mang Cilor sebutan Kirana pada pedagang telur gulung tersebut. “Ada cuman gak bisa jemput.” Jawab Kirana jujur. “Oh yang kayak gini.” Agam mendekat sambil tersenyum sumringah. “Iyah yang kayak gini, kamu mau?” tanya Kirana menawarkan pada Agam. “Eh siapa ini neng?” tanya mang Cilor heran melihat Kirana diantar oleh seorang pria selain ayahny. “Temen satu kelas aku.” Jawab Kirana. “Haha kirain siapanya.” “Mang aku mau,” ucap Agam mengalihkan pembicaraan. “Mau berapa gulung?” “Lima aja.” Jawab Agam semangat, membayangkan rasa apa yang akan singgah dimulutnya nanti. Mungkin sama saja rasanya seperti telur karena memang itu bahan dasarnya, rapi Agam berpikir lain lagi. “Yakin lima?” Kirana menggoda Agam seperti tak percaya jika pria itu hanya memesan lima gulung saja. “Yakin, mau coba dulu.” Jawab Agam sambil tersenyum, kebahagiaan juga singgah dihatinya saat melihat Kirana yang tertawa lepas dan melupakan kesalahan Agam kemarin. Kirana sepertinya sudah luluh dengan permintaan maaf Agam meski perempuan itu akan terus mengingat kejadian itu. “Haha oke, nanti kalau ketagihan silahkan beli lagi.” Ucap Kirana. “Oke, siap. Kamu emang langganan yah beli ini?” tanya Agam mencoba menari topik lain saat percakapan mereka sepertinya akan menemui akhir. “Iyah langganan dari kecil,” jawab Kirana. Agam mengangguk paham, “ kenapa gak bikin di rumah?” tanyanya kemduian. “Gue gak bisa gulung telurnya. Hehe,” Kirana tersenyum malu padahal apa yang perlu ia permalukan karena kemampuan menggulung telur itu memang tidak mudah. “Gampang keknya.” Ledek Agam. “Susah tengok aja, tuh si amangnya.” Kirana menunjuk abang tersebut. “Ini udah jadj,” ucap Amang cilor tersebut “Nih tinggal pake saus. Neng sepuluh yah? Terus ini lima.” “Oh iyah, “ Kirana mengambil telur gulung yang sudah dimasukkan ke dalam plastik. “Mau pakai saus aja mang.” “Ini kamu mau pakai apa?” tanya Kirana pada Agam yang terlihat tidak paham “Pakai saus aja sama kayak kamu.” Ucap Agam meniru Kirana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN