“Mereka itu udah seenaknya nindas kamu, ngatain kamu ngerebut Agamlah kegatelanlah.” Jelas Natasya kesal.
“Iyah gue tahu, cuman manusia model gitu semakin dilawan semakin seneng. Karena ngerasa ada saingan,”
“Iyah sih, tapi tetep aja gue gak terima kalau si Maya itu emang bener cuman pura pura pingsan. Gila banget lagi baik-baik aja tiba tiba pingsan gitu iyah gak sih?”
“Iyah bener.”
“Bener banget.”
“Pusinglah emang susah yah jadi adik kelas paling kecil.” Mahda menghela nafas
Kirana tertawa, “Lo besar Mah.” Ucap Kirana.
“Besar badan gue.” Jawab Mahda.
“Tenang satu semester lagi kita kelas sebelas lho,” ucap Kirana mengingatkan bahwa kini mereka telah hampir melewati satu semester dan bersiap untuk masuk ke semester dua.
“Masih lama keburu badan gue kurus.” Jawab Mahda bercanda.
“Udah ah, balik yuk.”
“Ayok gue juga mau pulang, keburu sore.” Setuju Kirana, ia melirik jam yang melingkar ditangannya dan mendapati waktu baru pukul setengah dua siang.
“Lo balik sama siapa?” Tanya Mahda pada Kirana.
“Nat lo pulangkan?” tanya Kirana pada Natasya yang sedang menyeruput jus buah
“Gue ada yang jemput Na, tapi pake motor.” Cengir Natasya merasa tidak enak pada Kirana.
“Oh oke santai aja, gue bisa naik angkot.” Ucap Kirana.
“Bareng gue aja.” Entah dari mana Agam datang tapi yang jelas pria itu tiba-tiba berada di sana.
“Agam, kek hantu lo.” Kesal Natasya kaget.
“Enak aja ganteng gini dibilang hantu.” Balas Agam
“Tuh bareng Agam aja lumayan, lo gak usah jalan ke depan buat cari angkot.” Ucap Natasya pada Kirana yang belum menjawab ajakan Agam.
“Enggak ah, gue pulang sendiri aja.” Tolak Kirana
“Bener? Gak papa gue anterin.” Agam kembali menawarkan. Agam yang begitu berharap bahwa Kirana akan mengiyakan ajakannya dan mau pulang bersama dengan Agam.
“Males lah nanti gue dibilang gatel sama lo.” Kirana beralasan.
“Enggaklah, mulai sekarang mereka gak akan berani ngatain lo lagi.” Ucap Agam percaya diri karena memang benar ia baru saja melumpuhkan Sela dan rekannya.
“Ikut aja Na, luamyan.” Mahda kini menimpali.
“Males ah lo naik mobil, nanti gue di kira di anter sama om om,” ucap Kirana masih terus beralasan untuk menghindari Agam.
“kata siapa? Hari ini gue bawa motor.” Jawab Agam tersenyum.
“Tuhkan Na, yaudah ikut aja.” Natasya ikut membujuk.
“Hm yaudah.” Akhirnya Kirana pasrah karena tidak menemukan alasan lagi untuk menolak Agam. Tapi ia memang tidak mau mendengar gosip miring jika bersama dengan Agam karena sampai saat ini Kirana tidak memiliki perasaan apa pun pada pria tersebut.
“Yaudah, yuk.” Agam menyembunyikan rasa bahagianya, padahal dalam hati ia ingin berteriak keras karena bisa meluluhkan Kirana untuk ikut dengannya
“Bentar lagi,” jawab Kirana santai.
“Ngapain dulu?” tanya Natasya pada Kirana heran.
“Nungguin kalian.” Jawab Kirana santai.
“Kita mau pulang sekarang.” Ucap Mahda cepat.
“Eh seriusan?”
“Iyah.”
“Ah, yaudah sih yuk.” Kirana akhirnya pasrah dan mengikuti kedua sahabatnya untuk segera pulang.
Di perjalanan pulang Kirana tidak mengeluarkan sepatah kata pun bahkan ia hanya sesekali saja menghela nafas, Agam pun sama masih mencari topik yang pas untuk bertanya pada Kirana karena tiba-tiba saja ia tidak bisa berpikir mungkin Agam terlalu senang karena bisa sedekat itu dengan Kirana.
“Kirana?” tanya Agam sepertinya ia memiliki ide untuk mengajak Kirana berbicara.
“Ini jalannya belok kemana?” tanya Agam basa basi padahal ia tahu jalan Kirana pulang karena pernah mengikutinya dahulu.
“Di depan belok kiri,” Jawab Kirana.
“Masih jauh?” tanya Aga lagi tisak ingin memutus topik.pembicaraan.
“Lumayan sih,” Balas Kirana tidak pasti.
“Gam, nanti gue mau mampir beli telur gulung dulu bentar gak papa?” ucap Kirana dan berakhir izin karena mungkin saja Agam tidak akan mau menunggu.
“Dimana?” tanya Agam mengiyakan atau menolak permintaan Kieana.
“Di depan sana bentar lagi.”
“Oh oke siap.” Agam tersenyum artinya ia bisa sedikit lebih lama untuk bersama dengan Kirana.
“Telur gulungnya enak,” tiba-tiba kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Kirana.