“Udah tidurin di sini aja Dik.” Ucap Sela pada Diko yang membantu membawa Maya ke UKS
Saat semua teman pria mereka berlalu, menyisakan Sela, Naura, Maya, dan Jia tiba-tiba Maya terbangun seperti biasa.
“Lo gak papa kan?” tanya Naura pada Maya. Saat melihat Maya sudah siuman wanita itu nampak segak tidak terlihat seperti orang yang tidak sadar.
“Gak papa shutt..” Maya mengacungkan jari tengahnya kemudian menempelkannya ke mulut.
“Maksud lho?” tanya Sela melotot pikirannya tiba-tiba saja memikirkan hal yang tidak-tidak.
“Iyah seperti yang kalian kira.” Ucap Maya, Jia yang paham langsung mengunci pintu UKS karena takut jika ada orang yang tiba-tiba masuk.
“Lho ngapain bikin panik aja.” Sentak Jia.
“Yah gimana lagi? Kalau sampai kita kalah siapa yang malu?” tanya Maya
“Tapi kita udah kalah May, poin kita udah beda jauh.” Balas Naura mengingat jika pertandingan tadi poin mereka sudah tertinggal jauh dari tim Kirana.
“Iyah tapi seenggaknya kita masih bisa beralasan, kalau pertandingan belum selesai.” Bela Maya membeberkan alasannya. .
Rupanya Maya memang sengaja berpura pura tidak sadar diri agar bisa menghentikan permainan dan tidak sampai kalah dari tim Kirana.
“Tapi bagus juga ide lho, alting lo juga keren.” Sela memuji mengingat Maya cukup mampu bersandiwara seperti orang yang pingsan. Ia berpura pura dari lapangan sampai UKS dan Maya mampu melakukan itu tanpa ingin tertawa.
“Siapa dulu dong, Maya dilawan. Gue pengen ketawa padahal, mana si Diko megang tangan gue kenceng bangret.” Ucap Maya sambil mengusap lengannga yang terasa sakit karena ulah Diko.
“Lo sih, mana mau bikin rencana tanpa persiapan lagi. Untung ada yang nolongin.” Jia mengoceh
“Kalau gue bilang dulu kalian gak bakal sekaget ini.” Ucap maya.
“Susah dong. Anak kemarin sore mau ngalahin kita.” Ucap Sela bangga padahal jelas jelas mereka sudah kalah hanya tidak ingin mengakui kekalahan mereka saja karena malu dan gengsi.
“Oh jadi gitu,” Agam tersenyum dibalik tirai. Mereka yang hanya mendengar suara Agam seperti dihantam batu besar yang sangat berat. Wajah mereka pucat seketika, dan tentu saja gemetar karena takut.
“Bagus yah.” Agam menampakkan dirinya dengan menyibakkan tirai.
“Agam.” Ucap semua serentak melihat Agam yang berdiri di sana.
Mereka tidak sadar bahwa Agam mengikuti mereka saat mereka panik dan sibuk, bodohnya mereka tidak menyadari kehadiran Agam sejak tadi.
“Lo sejak kapan di sini?” tanya Jia padahal jelas saja jawabannya sejak tadi karena pintu sudah terkunci sejak tadi dan Jia sendiri yang mengunci pintu tersebut.
“Gak penting sejak kapan, yang penting sekarang gue punya ini.” Ucap Agam sambil memperlihatkan rekaman percakapan mereka tadi.
“Agam, jahat ya lo.” Teriak Sela.
“Lo yang jahat udah jahat licik lagi,” Balas Agam.
“Gue kayak gini gara-gara lo,” ucap Sela.
“Sorry Sel, lo bilang gara gara gue?” tanya Agam berpura pura tidak mendengar ucapan Sela.
“Iyah lo yang gak pernah peka sama gue, dan malah lebih perhatian sama si Kirana.”
“Itu hak gue, kenapa lo yang ribet?”
“Gue suka sama lo.” Ucap Sela terang terangan pada Agam.
“Gue enggak,” ucap Agam.
“Inget yah Sel, rasa suka itu gak bisa dipaksain dan lo suka sama gue itu bukan tulus tapi sekedar ambisi.” Ucap Agam sambil memutar badannya untuk bersiap keluar dari sana.
Namun tiba-tiba Naura menarik Agam, dan mencoba mengambil ponsel yang ada di genggamannya.
“Lo mau ini?” tanya Agam mengacungkan ponselnya pada Naura silahkan gue punya salinan dan udah terkirim ke pak Jaka.
“b******k ya lo!” Jia mendekat dan bersiap untuk menampar Agam.
“Silahkan tampar gue, inget gue gak takut sama siapa pun di sini. Karena gue bisa ngeluarin siapa aja dari sekolah ini.” Ucap Agam.
“Siapa lo? Sok sokan banget.” Maya ikut menimpali.
“Oh jadi kalian gak tahu siapa gue?” tanya Agam
“Beneran gak tahu?” tanyanya lagi.
“Apa? Siapa lo?” tanya Naura menantang.
Agam sebenarnya tidak ingin membongkar identitas dirinya tapi sepertinya untuk kali ini Agam menyelamatkan diri karena tidak mungkin akan selamat tanpa sebuah senjata untuk menghadapi makhluk seperti mereka.
“Jawab.”
“Lo gak bisa jawab ya.”
“Dasar tukang bohong.”
“Gue Agam, silahkan lihat di bagan sana nama pemilik yayasan ini.” Ucap Agam menunjukkan bagan yang tertempel di dinding.
Sontak saja mereka langsung menoleh dan membaca dengan seksama siapa pemilik yayasan tersebut.
“Udah? Silahkan inget nama panjang gue.” Lanjut Agam, Sela yang sudah sangat hafal sontak terkejut kaget tidak menyangka jika orang yang berada di hadapannya adalah bagian dari pemilik yayasan.
“Gue Agam, cucu dari pemilik yayasan ini. Gue bisa ngeluarin kalian dari sekolah ini dengan sangat mudah apalagi dengan bukti-bukti kenakalan kalian.” Jelas Agam.
“Gam, jangan gue mohon.” Naura akhirnya memohon lebih dulu ia dilanda rasa takut jika sampai Agam benar mengeluarkannya dari sekolah orang tuanya bisa marah besar bahkan mungkin Naura akan diusir dari rumah.
“Terus?”
“Gue mohon Gam,” Naura memohon.
“Gue gak bakalan ngeluarin lo semua, asal lo gak ngelakuin hal macem-macem lagi. Terutama lo gak boleh Kirana dan semua orang di sekolah ini. Mau itu dari orang berada atau enggak mereka sama manusia yang punya hak kebebasan.” Terang Agam, namun belum ada yang berani memberikan jawaban hanya hening saja dan mereka tertunduk diam.
Meninggalkan Agam yang masih berada di UKS, Kirana dan rekannya kini telah bersantai di kantin untuk mengisi perut setelah tenaga dan emosi mereka terkuras karena ulah Sela dan kawan-kawannya.
“Gila seger banget,” Ucap Natasya meneguk segelas air minum.
“Harusnya kita sikat itu si Maya, pasti dia Cuma pura-pura pingsan aja.” Mahda mengepalkan tangannya kesal mengingat kejadian tadi dan rasa penyesalan karena tidak membuat Maya sadar di tempat dan melangsungkan permainan.
“Udah, yang penting kita udah main jujur.” Kirana menengahi mereka karena percuma saja semua sudah berlalu dan pertandingan telah usai.
“Tapi Kirana.” Ucap Natasya menghela nafas berat.