“Gak ada yang boleh main curang. Itu pertama,” ucap Agam mulai memberikan penjelasan.
“Udah jelas itu mah.” Bisik Natasya sambil memalingkan muka.
“Lanjut.” Teriak rekan Sela.
“Kedua, ketika kalian main curang silahkan berurusan dengan pak Jaka.” Lanjut Agam.
“Halah bohong lo, ini cuman main biasa ngapain mesti bawa-bawa pak Jaka.” Diko berteriak lantang seperti musuh yang sedang menantang.
“Apa Diko?” Pak Jaka datang dari arah belakang Diko, sepertinya bukan baru datang tapi sudah datang dari tadi. Hanya saja memastikan dahulu apakah semua berjalan lancar atau sebaliknya.
“Ini pak Si Agam, masa bawa-bawa nama bapak.” Adu Diko pada pak Jaka.
“Memangnya kenapa?” Pak Jaka masih berpura pura tidak tahu
“Ini tim kelas dua belas mau tanding sama tim kelas sebelas, tanding biasa persahabatan kenapa harus lapor sama bapak.” Jelas Diko membuat pak Jaka mengangguk dan berjalan melewatinya tanpa memberikan jawaban apa pun pada Diko yang telah memberikan penjelasan.
“Kalian keberatan dengan peraturan ini?” tanya Pak Jaka ada dua tim yang sudah berkumpul di lapang bersiap untuk tanding.
“Tidak...” jawab tim Kirana lantang dan serempak.
“Kalian kenapa gak jawab?” pak Jaka kini menatap tim Sela yang tidak merespons pertanyaannya.
“Keberatan pak.” Akhirnya Sela menjawab dengan lantang.
“Kenapa?” tanya pak Jaka.
“Kami ini cuman mau tanding biasa pak, gak adil kalau sampai ada apa-apa harus menghadap bapak.” Jawab Sela memberikan alasan.
“Maksud apa-apa?” pak Jaka kembali bertanya sepertinya semakin lama pertanyaannya semakin menjebak, Agam yang tahu akan hal itu hanya tersenyum beruntung dirinya dekat dengan pak Jaka karena ia adalah rekan ayahnya semasa sekolah dan kini Agam menjadi murid dari teman ayahnya sendiri yaitu pak Jaka.
“Misalnya kalau ada pelanggaran jatuh, atau gimana masa harus laporan.” Balas Sela
“Ngapain harus jatuh, kalian ini mau main basket bukan mau lomba jatuh. Apa sengaja? Mau main curang?” tanya pak Jaka mendesak.
“Enggak kok pak.”
“Ya terus kalau enggak, kenapa mesti takut di kasih aturan gitu. Kalau sampai kalian kenapa napa pas main basket. Siapa yang akan disalahkan?” tanya pak Jaka memandang semua murid yang masih berada di sekolah. Mereka yang belum pulang karena sekedar ingin menonton pertandingan.
“Sekolah pak...” jawab semua murid serentak kecuali Sela
“Nah yasudah, setuju main tidak setuju angkat kaki.” Pungkas pak Jaka sambil berlalu pergi.
“Jadi gimana? Lanjut atau enggak?” kali ini Agam mengambil alih pembicaraan.
“Lanjut, gue gak takut.” Jawab Mona teman Sela lantang.
“Oke.” Agam mengangguk.
Akhirnya permainan dimulai, meski dua tim sama-sama hebat dan dipenuhi emosi serta ambisi namun keduanya masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan pelanggaran. Karena mereka tahu konsekuensinya jika sampai terjadi pelanggaran. Mereka akan menghadap pak Jaka dan tentu saja berurusan dengan beliau tidak mudah karena nilai yang akan menjadi taruhannya.
“Kirana lempar sini!” teriak Naura rekan satu tim kirana. Poin tim Kirana berada empat point di atas tim Sela. Tentu saja hal itu membuat tim Sela memanas. Apalagi penonton dipinggir lapangan yang hampir semuanya mendukung tim Kirana.
“Kirana semangat...” Aris berteriak kencang menyemangati Kirana. Sepertinya bukan hanya Aris yang menyemangati Kirana namun banyak pria juga yang sama sedang berusaha memberikan semangat. Pada gadis manis yang rambutnya ia kucir satu dengan asal namun nampak cantik di mata lelaki.
“Woy Kirana gue,” Teriak pria yang lain saat mendengar Aris semakin lantang menyemangati Kirana.
“Serah loh,” balas Aris tidak ambil pusing.
Sedang Agam yang kini berada dilapangan sebagai wasit sepertinya terbakar cemburu karena mendengar nama Kirana yang terus di puji oleh pria di sisi lapangan.
“Sela kita udah ketinggalan jauh,” Naura berbisik pada Sela yang nampak sudah kelelahan.
“Iyah gue gak yakin kali ini kita bisa menang.” Tambah Maya ucapan mereka semakin membuat Sela terpukul karena gagal mendahului tim Kirana.
“Kirana masuk...” Teriak Natasya saat Kirana akan melempar bola, dan hap bola masuk ke dalam ring dengan smepurna.
“Hore...”
“Yey.”
“Ketinggalan jauh lo,” Musda tersenyum sinis melewati Sela yang berdiri mematung karena syok melihat poin yang semakin jauh tertinggal. Mereka yang optimis akan menang dan menatang duluan sepertinya akan menerima kekalahan dan dipermalukan di hadapan semua orang.
“Mana yang katanya jago itu?” Natasya seperti memancing perdebatan.
“Sudah, kembali bermain.” Ucap Agam yang melihat tatapan antara dua tim yang semakin sinis.
“Sel, kita harus ngelakuin sesuatu buat cari alasan.” Bisik Maya pada Sela.
“Apa gue gak bisa mikir.” Sela sepertinya kesal sekali.
“Lo yang harus mikir, inget lo yang ngajak tanding.” Ucap Jia menyalahkan Sela karena harga diri mereka diambang kehancuran.
“Lo malah nyalahin gue,” Sela tidak terima dan malik membalas.
“Lo yang mulai, Sel.” Keukeuh Jia dan saat terjadi adu mulut antara Jia dan Sela, Maya tiba-tiba saja ambruk dan terjatuh di lapangan. Rekan satu tim Sela berteriak kaget menghentikan perdebatan yang sedang terjadi. Sela dan juga Jia langsung memburu Maya yang sudah tidak sadarkan diri.
“Maya..” Teriak Bela rekan Maya saat melihat sahabatnya tergeletak.
“May, kenapa?”
“Maya bangun,”
“Woy tolognin dong.” Jia berteriak pada orang-orang yang berada dipinggir lapangan karena mereka sepertinya santai saja saat melihat Maya pingsan dan tidak ada inisiatif untuk membantu.
“Diko, Budi, Arif tolongin!” Sela berteriak pada rekan sekelas mereka. Akhirnya rekan sekelas Maya datang dan membantu menggotong Maya untuk dibawa ke UKS.
Sedangkan tim Kirana masih setia menunggu kelanjutan bermain karena tim Sela sibuk mengurusi Maya.
“Woy jadi main lagi gak?” tanya Natasya saat Maya sudah dibawa pergi.
“Temen gue sakit mana mungkin gue lanjutin main.” Jawab Sela sok panik.
“Kalian ada cadangankan?” sekarang Kirana yang bertanya.
“Tim gue solid jadi gak bisa main kalau satu orang gak ada.” Jawab Naura.
“Alesan loh, bilang aja malu kalah sama tim gue.” Balas Musda.
“Kalah? Sorry yah permainan masih panjang dan gue belum kalah. Bye.” Pungkas Sela sambil beralasan kemudian ia dan timnya pergi begitu saja dari lapangan.
“Huh dasar cemen.”
“Kalah yah kan.”
“Rasain.”
Kira-kira begitulah teriakan penonton dipinggir lapangan saat melihat tim Sela pergi begitu saja. Padahal kekalahan mereka sudah di depan mata karena jelas-jelas tim Kirana sudah unggul di atas tim Sela.
“Apasih berisik.” Jawab Sela saat ada orang yang mencibirnya.
Sementara itu Agam akhirnya mengakhiri pertandingan dengan tim Kirana sebagai pemenang karena tim Sela pergi begitu saja dan tidak bertanggung jawab pada pertandingan yang sedang berlangsung.
“Gue yakin dia cuman pura-pura...” ucap Agam di hadapan tim Kirana