“Gue gantiin pak Jaka, kan beliau mau ada rapat.” Jawab Agam santai sambil membenarkan tali sepatunya.
Diko menghela nafas berat, “Mampus gue.” Bisiknya sambil berlalu. Agam yang mendengar hal itu hanya tersenyum sinis. Ia sudah tahu apa yang sedang direncakan sela dan kawan-kawannya untuk mencelakai Kirana.
“Agam, kamu jadi wasit?” Sela mendekat ke arah Agam dengan tingkah manja.
“Ya.” Jawab Agam simple tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sela.
“Diko aja yang jadi wasit, kan dia uda pengalaman.” Ucap Sela kembali meski pun tidak mendapat respon baik dari Agam.
“Bilang sendiri sama pak Jaka.” Balas Agam sambil berlalu tidak ingin meladeni perempuan seperti Sela yang sejak awal Agam masuk sekolah sudah menguntitnya. Bahkan pernah ada rumor jika Agam dan Sela berpacaran beruntung Agam dengan tegas bisa menepis rumor tersebut
“Agam? Kok ninggalin aku sih?” Sela berteriak karena Agam meninggalkannya sendiri.
“Agam...” Sela kembali berteriak karena Agam tidak merespon teriakannya. Namun percuma saja karena sampai suara Sela serak pun Agam tidak akan berbalik dan merespon ucapannya.
Saat akan masuk ke lapangan Agam berpapasan dengan Kirana yang sudah memakai baju olahraga yang Agam berikan tadi.
“Muat bajunya?” tanya Agam basa basi lebih dulu, jelas saja baju itu tidak muat dengan pas di badan Kirana karena sizenya yang beda satu ukuran dengan baju milik Kirana.
“Agak besar dikit, tapi gak papa.” Jawab Kirana sambil memperlihatkan bagian lengan baju yang longgar.
Padahal Agam sengaja meminta seragam olahraga seukuran dengan miliknya, karena takut Kirana curiga jika sampai ukurannya sama.
“Eh lelet banget.” Teriak rekan satu tim Sela.
“Santai aja kali,” Balas teman satu tim Kirana yang sudah bersiap dilapangan.
“Halah sok sibuk.”
“Emang gue sibuk, memangnya kalian yang bisanya sibuk ngurusin hidup orang.” Teman Kirana sepertinya tersulut emosi karena mendengar ucapan mereka.
Melihat kawannya sudah semakin memanas untuk membalas cibiran tim lawan, Kirana akhirnya memutuskan untuk cepat turun kelapangan berharap mampu meredakan emosi temannya.
“Udah Mus, biarin jangan diladenin.” Ucap Kirana sambil mengusap pundak sahabatnya. Sebenarnya yang merasa ditindas oleh tim Sela bukan hanya Kirana saja. Tetapi teman-temannya juga banyak dan kali ini mereka sangat berharap jika Kirana akan mengalahkan tim Sela dan membuatnya menerima kekalahan.
Meski pun Kirana tahu acara ini sangat mendadak tapi keyakinan dan semangatnya tidak akan gentar meski bertanding tanpa latihan. Sepertinya tim Sela sengaja memberikan ajakan malam karena mereka berpikir bahwa tim Kirana tidak ada waktu untuk berlatih.
“Mereka keterlaluan Na, semena-mena banget “ ucap Musda teman Kirana.
“Dasar kalian..” teriak Natasya mencibir ke arah tim Sela.
“Apa lo anak baru, kelas sepuluh aja belagu. Gimana nanti “ Cibir balik Sela.
Agam yang mendengar mereka semakin tidak kondusif akhirnya meniup peluit menghentikan perdebatan tersebut karena percuma saja adu mulut tidak akan ada habisnya.
“Diam, kalian mau tanding gak sih?” teriak Agam keras.
“Iyahlah mau, emangnya kita di sini mau ngapain? Jualan?” Teriak salah satu anggota dari tim Sela dengan lantang.
“Yaudah, kalau gitu cepet main. Jangan bisanya adu bacot.” Balas Agam kesal, Agam sebenarnya bisa saja meminta pihak sekolah menindak lanjuti kelakuan mereka yang kadang keterlaluan sekali. Namun Agam juga kasihan karena sebentar lagi mereka akan keluar dari sekolah dan mungkin saja mereka tidak akan lulus jika sampai pihak sekolah mengetahui kelakuan mereka.
“Gue jelasin aturan tambahannya.” Ucap Agam membuat Sela melongo karena selain Aham seenaknya menggantikan Diko menjadi wasit kini laki-laki itu dengan santai mengumumkan tentang peraturan yambahan yang entah dari mana Agam mendapatkannya.