BAJU OLAHRAGA AGAM

1043 Kata
Jam pelajaran telah usai sejak beberapa menit lalu, hari ini jadwal belajar mengajar berakhir dengan cepat karena ada rapat guru yang mendadak. Sepertinya bagi setiap murid inilah yang mereka nantikan libur tanpa rencana. Begitu juga dengan Kirana ia belum beranjak karena menunggu Samsul yang sedang pergi ke kantin. “Lama.” Gerutu Natasya padahal baru saja beberapa menit Samsul pergi tapi perempuan itu sudah menggerutu kesal. “Yaudah lo ganti baju duluan aja.” Suruh Kirana pada Natasya yang sepertinya sudah tidak sabar untuk berganti pakaian dan pergi ke lapangan. Siang ini akan diadakan pertandingan antara tim Kirana dan tim Sela kakak kelas Kirana sebagai tim penantang sepertinya akan ada sesuatu di lapangan dan Kirana harus berhati hati bisa sewaktu waktu mungkin mereka mencelakainya. “Gue kebelet pipis sebenarnya.” Ucap Natasya. “Haha, yaudah sana lo pergi duluan nanti gue nyusul.” Kirana tertawa saat tahu bahwa sahabatnya itu ternyata menahan buang air kecil karena menunggu Kirana. “Gak papa?” tanya Natasya. “Gak papa cepet gih.” Suruh Kirana menahan tawa melihat ekspresi Natasya. “Yaudah gue duluan..” Kirana ngacir ke kamar mandi. Hanya tinggal Kirana dan beberapa kawannya yang masih tinggal dikelas, masih bersabar menunggu Samsul karena jam mulai pertandingan masih sekitar setengah jam lagi. Namun suara tim Sela dilapangan sudah terdengar sejak tadi. Sepertinya mereka sudah bersiap untuk pertandingan berbeda dengan Kirana yang masih santai bahkan belum berganti pakaian. “Lah lo belum ganti baju Kirana?” Hari, teman satu kelas Kirana melongo saat Kirana masih santai duduk di mejanya. “Belum gue nunggu dulu Samsul mau minjem baju olahraga dia.” Jawab Kirana “Si Samsul udah pulang dari tadi.” Ucapan Hari sepertinya biasa namun mampu membuat Kirana lemas seketika. “Lo jangan becanda ih.” Kirana masih berusaha berpikir positif dan berharap Hari hanya bercanda saja. “Serius tuh motornya aja udah gak ada.” Ucap Hari. “Yah gue gimana dong.” Kirana kesal pastinya karena telah dibohongi dan Samsul tega berbuat itu padanya. “Kirana?” Agam berdiri diambang pintu melihat Kirana yang tampak putus asa. “Samsul udah balik?” tanya Kirana pada Agam melupakan amarahnya, sepertinya Kirana lupa bahwa ia masih marah pada Agam tentang kejadian kemarin. “Udah dari tadi,” jawaban Agam ternyata sama dengan Hari dan itu menambah rasa putus asa Kirana. Ia ingin segera esok dan bertemu dengan Samsul. Mungkin Kirana akan sedikit mencubit atau mencekik leher lelaki itu yang sudah berbohong padanya dan membuat Kirana menunggu seperti peminta minta. “Nih,,,” Agam menyodorkan seragam olahraganya entah sejak kapan Agam ada di hadapannya padahal seingat Kirana ia tadi berdiri diambang pintu. Mungkin Kirana terlalu fokus mengumpat sampai tidak sadar bahwa Agam berjalan ke arahnya. “punya siapa?” tanya Kirana tidak mau menerima jika barang itu milik orang yang jorok alias tidak menjaga kebersihannya. “Punya gur lah,” jawab Agam berbohong. “ini cepetan ganti!” ucap Agam meraih lengan Kirana dan memberikan baju olahraga itu pada genggaman Kirana. “Gak papa?” tanya Kirana tidak enak. “Gak papa pake aja.,” jawah Agam belum melepaskan tangannya. “Yaudah makasih yah.” Kirana tersenyum berterima kasih karena Agam kali kni seperti penyelamat bagi Kirana. Padahal Kirana tidak tahu dari mana Agam tahu bahwa Kirana membutuhkan baju olahraga. Agam memang berbeda, perhatiannya pada Kirana sebagai teman sekelasnya terkadang berlebihan. Namun tanpa terasa Kirana menikmati perhatian demi perhatian itu. Mungkin Kirana tidak sadar saat ini. “Iyah cepetan ganti!” “Yaudah lepasin tangan gue dulu,” ucap Kirana melirik lengannya yang masih di genggam Agam. “Oh iyah lupa sorry.” Agam seketika melepaskan lengan Kirana. “Gue ganti dulu yah, thanks bajunya.” Kirana berlalu setelah mengucapkan itu. Agam yang masih terdiam di tempat memandangi tubuh Kirana yang menjauh kemudian hilang ditelan pintu. Perempuan itu yang sudah membuat Agam kesulitan tidur bahkan terkadang Agam hanya ingin pergi ke sekolah hanya untuk bertemu Kirana saja. Sedangkan Kirana sudah mengganti bajunya, sejak tadi ia tidak berhenti menciumi baju olahraganya, karena Kirana merasa heran dengan bau dari baju itu yang sepertinya baru. Wangi dari baju itu bukan khas orang yang memakai sebelumnya. Namun wangi baju baru, bahkan sepertinya baju itu belum pernah dicuci sama sekali. Setelah bodo amat perihal baju baru atau bukan, Kirana cepat membuka pintu untuk keluar namun seketika kepalanya kembali sakit. Sakit seperti kemarin, Kirana terdiam sebentar berpegangan pada pintu kamar mandi kemudian berjongkok pelan berharap rasa pusing itu mereda. Beberapa detik kemudian darah segar keluar dari hidungnya. Menetes pada celana hitamnya beruntung saja warna seragam olahraga sekoah Kirana didominasi warna hitam sehingga noda bisa tersamarkan. “Kirana?” Natasya mengetuk pintu kamar mandi dari luar. Kirana belum menjawab karena mulutnya ia bekap bersama hidung untuk mengurangi darah menetes ke luar. Kirana mencari tisue basah dengan cepat. Ia mengobrak abrik isi tasnya beruntung saja ia membawanya. Tanpa perhitungan lagi Kirana mengambil tisue basah itu dengan asal tercabut banyak dari bungkusnya namun yang terpenting sekarang adalah bagaimana Kirana bisa cepat membersihkan hidungnya dan menghentikan pendarahan. “Kirana?” Natasya kembali memanggil kali ini ia memanggil dengan disertai gedoran pada pintu. “Sebentar.” Kirana akhirnya memaksakan diri menjawab dari dalam karena takut membuat Natasya cemas. “Lo udah ganti baju kan?” tanya Natasya lagi. “Udah.” Jawab Kirana cepat sambil membersihkan hidungnya yang berangsur berhenti mengeluarkan darah. “Gue tunggu di sini.” Teriak Natasya lagi. Namun kali itu sahutan itu tidak di balas oleh Kirana. “Huft akhirnya.” Kirana mengehla nafas lega sambil melihat pantulan wajahnya di dalam cermin. Ia bernafas lega karena darah berhenti keluar dan sakit kepalanya sedikit mereda. Dilapangan Agam sudah siap menjadi wasit, tentu saja itu berkat pak Jaka yang menunjuk Agam menjadi wasit. Padahal agam sengaja meminta kepada pak Jaka karena mengetahui jika wasit dri kubu Sela pastinya akan ada kecurangan. Ada beruntungnya Agam menjadi cucu pemilik yayasan. Mudah sepertinya Agam mengusulkan sesuatu dan juga tidak sulit saat membutuhkan sesuatu. Seperti tadi contohnya. Baju yang Kirana pakai itu memang benar baju baru, baju itu Agam minta dari kantor. Saat Natasya bilang Kirana akan meminjam baju Samsul Agam langsung bereaksi padahal Samsul pulang karena tiba ada acara mendadak. “Kok elo yang jadi wasit?” Diko kakak kelas Agam heran mendapati Agam yang bersiap menjadi wasit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN