“Kirana, nanti sore gue anter lo pulang yah.” Agam kembali menulis sesuatu setelah beberapa saat terlihat fokus pada soal ulangannya. Kirana yang masih memiliki cukup banyak soal yang kosong tidak menanggapi Agam. Ia memilih fokus untuk mengisi soal ulangannya. Sebenarnya Kirana beruntung tidak satu meja dengan Samsul, karena jika sampai Kirana satu meja dengannya tentu saja Samsul akan terus menagih jawaban pada Kirana. Samsul yang kini duduk pojok paling belakang berasa Syifa tidak mungkin bisa bertanya pada Kirana yang duduknya jauh dari posisi Samsul.
“Na gue traktir yah.” Agam tidak berputus asa sepertinya karena ia kembali menyodorkan kertas berisi kaliamt lagi pada Kirana. Sebenarnya amarah Kirana sedikit mereda melihat usaha Agam untuk mendapatkan maaf darinya. Dan Kirana bisa saja memaafkan Agam saat ini. Namun egonya terlalu tinggi sebagai perempuan.
“Gue masih ngerjain soal, jangan ganggu.” Kirana menulis sesuatu dalam kertas yang geserkan Agam kemudian memberikannya pada Agam.
“Oke gue tunggu.” Agam menulis kembali balasan untuk Kirana.
“Serah lo,” tulis Kirana cepat. Bukannya marah atau kesal Agam malah tersenyum dengan sikap Kirana.
“Waktu tinggal lima belas menit lagi.” Ucap pak Yoga lantang dari depan. Ucapan itu sontak saja membuat semua muridnya menghela nafas nekat karena belum selesai mengerjakan soal tersebut.
Awalnya Kiranaia berpikir jika Agam akan banyak bertanya padanya, namun Kirana salah Agam sama sekali tidak bertanya apa pun. Walau kelihatannya Agam mengisi soal dengan asal-asalan tapi pria itu sama sekali tidak bertanya apa pun pada Kirana mengenai soal ulangan hari ini.
Kirana menoleh ke belakang sedikit tempat dimana sahabatnya Natasya duduk, perempuan itu nampak kebingungan mengisi soal jelas saja karena Natasya memang sedikit tertinggal dalam pelajaran ini. Beruntung saat Kirana menoleh Natasya tidak melihatnya jadi sahabatnya itu tidak akan bertanya apa pun pada Kirana.
“Na.” Agam kembali menyodorkan kertas.
“Hm..” Silvia membalasnya dengan deheman pelan tentu saja pelan karena pak Yoga pasti tidak akan membiarkan Kirana berbicara.
“Hey sepuluh menit lagi,” Kirana tersentak kaget dia pikir deheman terdengar pada pak Yoga. Kirana menghela nafas lega karena ternyata itu hanya sebuah peringatan. Dan dalam sepuluh menit terakhir ia berhasil menyelesaikan soal ujiannya dengan lancar.
Berbeda dengan Kirana yang mengisi soal ulangan dengan ribet banyak coretan dan hitungan di dalam kertas Agam justrul sebaliknya pria itu mengisi soal ulangan tanpa selembar pun kertas hitungan.
Agam melirik Kirana yang sudah santai menyimpan soal ulangan, itu tandanya ia sudah selesai mengerjakan soal. Tampak dari wajah Kirana yang sudah tenang, dan wajah yang tenang itu berhasil membuat Agam tergila-gila.
“Siapa yang sudah boleh dikumpulkan!” ucap pak Yoga, Silvia yang sudah mengerjakan soal ulangan dengan cepat berdiri dan berniat mengumpulkan soal ulangannya.
“Kamu sudah?” tanya pak Yoga.
“Sudah pak.” Jawab Kirana mantap.
“Sudah diperiksa lagi?” tanyanya lagi.
“Sudah pak.” Jawab Kirana semakin mantap.
“oke taruh soal kamu disini!” suruh pak Yoga.
“Ini pak.”
“Yang lainnya mana?” tanya pak Yoga pada murid yang lain.
“Sebentar lagi pak.” Teriak Rudi dengan percaya dirinya.
“Ah kamu selalu paling akhir, dalilnya minta tambahan waktu tapi nilanya bagus banget.” Ledek pak Yoga memang teman Kirana yang satu itu orangnya konyol dan menurut Kirana itu lucu tak jarang ia memprotes guru yang telat padahal dirinya sendiri pun sering telat.
“Kirana?” teriak Rudi tanpa malu.
“Nomor lima belas euy.” Teriaknya.
“Rudi.” Pak yoga melotot dari depan.
“Satu aja pak.” Ucap Rudi memelas.
“Enggak jangan kamu kasih, Kirana kamu boleh menunggu di luar.” Ucap pak Yoga.
Agam yang memang sudah selesai sejak tadi buru-buru maju ke depan untuk mengumpulkan soal ulangannya. Apalagi melihat Kirana keluar membuat Agam semangat untuk menyusul perempuan itu.
“Ini pak.” Ucap Agam menyimpan hasil ulangannya di meja.
“Kamu udah selesai?” pak Yoga sedikit tidak percaya dengan Agam.
“Sudah pak.”
“Yasudah taruh di sini.” Pak Yoga menepukan tangannya di atas kertas ulangan milik Kirana mengisyaratkan agar Agam menyimpan kertas ulangannya di sana.
“Nyontek tuh Agam.” Celetuk Samsul dari belakang.
“Apa?” Agam melotot ke arah Samsul.
“Kamu gak nyontek sama Kirana kan?” tanya pak Yoga ikut mencurigai Agam.
“Enggaklah silahkan bapak cek aja.” Jawab Agam
“Yasudah kamu boleh keluar.” Pak Yoga mempersilahkan Agam keluar.
Setelah Agam keluar pak Samsul melihat beberapa jawaban milik Agam dan Kirana, kedua jawaban itu berbeda caranya. Tidak ada yang sama dan itu membuktikan bahwa Agam memang tidak mencontek pada Kirana.
Agam sebenarnya adalah cucu dari pemilik yayasan sekolah mereka, tidak banyak yang tahu sepertinya hanya para guru saja termasuk pak Yoga yang mengetahui itu. Agam tidak ingin dianggap istimewa apalagi diperlakukan berbeda. Makanya semua bungkam dengan identitas Agam yang sebenarnya.
Agam di luar sedang mencari Kirana perempuan itu tidak ada di luar. Hanya angin saja yang Agam dapat, karena semua murid pastinya sedang berada di kelas melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
“Agam, mana Kirana?” Natasya menepuk bahu Agam sepertinya perempuan itu sudah selesai mengerjakan soal ulangan.
“Enggak tahu, gue keluar dia udah gak ada.” Jawab Agam jujur.
“Lah kemana yah.” Tanya Natasya sambil celingukan, Agam hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
Agam juga akhirnya berlalu jam pelajaran baru akan di mulai setengah jam lagi dan Agam masih memiliki banyak waktu untuk sekedar menghirup udara bebas. Agam menelusuri lorong sekolah semuanya nampak tidak banyak berubah. Sekolah yang didirikan kakeknya itu masih sama seperti dulu, hanya ada beberapa hal saja yang berubah. Teringat Agam dulu sering bermain di sana berlarian ke sana kemari.
“Agam.” Seseorang memanggil Agam dari belakang.
“Oy.” Teriaknya lagi memanggil Agam.
“Ya.” Jawab Agam menoleh ke belakang dan mendapati Aria temannya.
“Lo bandel juga yah.” Ucap Aris sambil melangkah mendekati Agam.
“Lo yang bandel.” Agam melotot.
“Gak masuk kelas lo?” tanya Aris.
“Gue lagi istirahat, abis ulangan pelajaran pak Yoga.” Jawab Agam.
“Oh gue kira lo gak masuk kelas sengaja.” Ucap Aris.
Aris ini memang murid yang setengah setengah, kadang dia baik kadang nakal. Mungkin tergantung mood saja namun yang Agam tahu Aris ini adalah anak dari korban broken home. Orang tuanya berpisah dan masing-masing mementingkan egonya sendiri. Hingga kadang Aris membuat onar itu untuk mendapatkan perhatian saja.