KENAPA HARUS AGAM?

1231 Kata
“Agam, lo ngelakuin apa sama Kirana?” Ucap Rudi yang semakin membuat suasana ricuh. “Lo macem-macem ya gam?” Teriak yang lain. “Apasih berisik lo semua.” Kesal Agam karena ulah mereka semakin membuat suasana keruh. “Berisik....” Natasya berteriak kencang. “Jadi gini,” ucapnya sambil berdiri. “Si Agam ini mau nganter gue sama Si Kirana pulang kemarin sore. Tapi dengan lucunya dia malah ketiduran di mobil dan bikin gue sama Kirana nunggu lama.” Jelas Natasya sambil menunjuk Agam. “Hah kirain apa.” “Kalian juga harus tahu ya, si Kirana ini di bully sama kakak kelas kita guys. Makanya hari ini kita mau tanding buat ngalahin mereka.” Ucap Natasya semakin lantang. “Lah udah emang bisa lo ngalahin mereka?” ucapan tidak percaya terlontar dari mulut Yura sepertinya dia memang tidak memihak Kirana sejak awal. “Kita liat aja nanti,” ucap Natasya percaya diri. “Mana bisa si Kirana main, tiap kali main pasti sakit.” Ucap Yura membuat panas suasana. “Gue emang sering sakit terus kenapa?” Kirana bangkit bersiap untuk menghampiri Yura. “Kirana udah,” Agam menghentikan langkah Kirana dan menarik perempuan itu agar duduk kembali. “Dasar lemah,” Cibir Yura lagi. “Jaga ya mulutnya neng,” Natasya juga ikut memanas. “Lo diem gak,” Agam ikut membela karena suasa semakin tidak nyaman. “Yura udah,” ucap teman sebangku Yura. “Hey ada apa ini?” Pak Yoga datang dengan membawa lembaran soal ujian. Seketika kelas hening dari yang tadinya terdengar sorakan ricuh kini hening seketika. “Kalian gak denger bel dari tadi udah berbunyi. Bukannya berdoa malah ribut aja.” Kesal pak Yoga sambil meletakkan soal dan mengambil penggaris besar. “Berdoa!” suruhnya dengan penggaris yang ia pukulkan ke meja. Sebagai tanda peringatan pada muridnya. Akhirnya berdoa dipimpin oleh ketua kelas, hening saat itu namun tidak dengan perasaan Kirana yang seperti sedang konser menggebu amarah di sana. “Berdoa selesai.” Ucap Samsul. “Kalian ingat hari ada ulangan?” tanya pak Yoga guru matematika mereka. “Ingat pak,” jawab sebagian murid serentak. Dan tentu saja yang tidak menjawab adalah mereka siswa yang tidak siap diadakan ujian. “Bisa diundur gak pak?” ucap Rudi dari bangku pojok paling belakang. “Enggak bisa. Lagian ngapain di undur toh buat kamu gak ada gunanya. Mau diundur atau tidak nilai kamu tetep sama.” Sekakmat pak Yoga. “Yaelah gitu amat pak.” Balas Rudi kecewa. “Samsul?” Pak Yoga menoleh ke arah Samsul. “Iyah pak,” jawab Samsul cepat. “Tolong bagikan soal ulangan hari ini!” Suruh pak Yoga memberikan kertas ulangan pada Samsul untuk dibagikan. Kirana yang tadinya begitu bersemangat akan menghadapi ujian matematika tiba- tiba berubah kesal kata-kata yang keluar dari mulut Yura tadi. Samsul pun mengambil kertas ulangan tersebut dan mulai membagikannya kepada setiap murid. Sampai dibangku Kirana ia berbisik pelan, “Jangan lupa.” Bisik Samsul pelan karena tidak ingin terdengar oleh pak Yoga. “Oke semuanya sudah kebagian?” tanya pak Yoga. “Sudah,” jawab semua serentak. “Silahkan kerjakan dengan jujur bapak tidak akan memberikan toleransi kepada kalian yang berniat curang. Dan ada yang unik hari ini,” ucap pak Yoga seperti akan membuat kejutan yang dahsyat. Membuat semua muridnya melongo cemas, takut jika kejutan itu adalah tambahan soal lagi. “Sebentar bapak lupa, jangan dulu dikerjakan soalnya.” Pak Yoga meralat ucapannya membuat Kirana menghentikan aksi berhitungnya. “Jadi gini..” pak Yoga kembali berkata. “Apa sih pak lama banget.” Gilang yang duduk di samping Samsul nampak kesal karena pak Yoga tidak kunjung berkata pada intinya. “Sabar dulu,” ucap pak Yoga yang dibalas helaan nafas oleh muridnya. “Jadi ulangan hari ini, duduknya akan bapak acak.” Ucap pak Yoga sontak saja perkataan itu berhasil membuat muridnya melongo kebingungan sekaligus takut. Jika sampai mereka mendapat teman sebangku yang tidak diinginkan. “Bapak apaan sih.” “bapak.” “Janganlah pak.” “Udah gini aja pak.” “Please jangan pak.: Permohonan itu terdengar sangat ricuh. Tentu saja mereka tidak mau karena teman sebangku mereka pastinya orang yang paling dekat dan ketika dipisahkan bagaimana bisa. Hal itu juga berlaku bagi Natasya yang ketakutan berpisah dengan Kirana. Natasya ini memang otaknya di bawah Kirana ia masuk ke sekolah itu dengan biaya sendiri tidak seperti Kirana yang lewat jalur beasiswa. “Apaan sih,” Umpat Natasya kesal sedangkan Kirana hanya diam saja pasrah toh mau satu meja dengan siapa pun tetap saja akhirnya dia berusaha sendiri. “Sudah kok malah berisik.” Pak Yoga kembali memukulkan penggaris kayunya. “Ini gak bisa di tawa lagi pak?” “Enggak bisa, ini udah keputusan bapak. Yang tidak setuju silahkan keluar.!” Ucap pak Yoga tegas. “Ada yang berani keluar?” tanya pak Yoga kemudian, namun tidak ada jawaban sama sekali dan tidak ada satu pun murid yang berani meninggalkan kelas. “Oke bapak anggap semua setuju, jadi bapak sudah menyiapkan semuanya.” Ucap Yoga. Pak Yoga tampak sedang menggambar sesuatu dalam sebuah kertas. Hingga akhirnya ia mengumumkan dengan masing-masing teman sebangkunya. “Tinggal beberapa orang lagi yah?” tanya pak Yoga. “Iyah pak,” jawaban Kirana paling keras karena dirinya termasuk ke dalam murid yang belum memiliki teman sebangku sedangkan Natasya dia sudah memiliki teman sebangku dan tentu saja Natasya harus ikhlas berpisah dengan Kirana. Meski pun nantinya Kirana akan mendengar Natasya menggerutu karena berpisah dengannya. “Kirana. Kamu silahkan duduk sama Agam.” Ucap pak Yoga lurus, ia tidak tahu jika Kirana sedang menjauh dengan Agam dan sialnya pak Yoga malah memilih Agam untuk menjadi teman sebangkunya. “Pak enggak bisa tuker?” tanya Kirana ingin menolak agar tidak satu meja dengan Agam. “enggak bisa, sudah cepat biar ulangannya bisa di mulai.” Ucap pak Yoga. “Cepet na lama.” Teriak temannya Kirana. “Jangan pilih-pilih teman gak baik.” Ucap Samsul menimpali sok baik rupanya. Kirana bukan bermaksud untuk memilih milih teman tapi ia masih merasa kesal dengan Agam, apalagi sekarang ia satu meja dengan Agam dan tentu saja itu akan semakin membuat Kirana kesal dan tidak fokus. Sedangkan Agam dia menerima dengan senang hati, kapan lagi Agam mendapat kesempatan untuk sedekat itu dengan Kirana. “Yaudah.” Ucap Kirana pasrah walau dalam hatinya ia tidak terima dengan keputusan pak Yoga. Hampir setengah jam berlalu Kirana masih terus berusaha untuk fokus menyelesaikan soal ujiannya. Waktu yang diberikan cukup lama ada satu jam setengah dan Kirana masih mempunyai satu jam lagi untuk menyelesaikan soal yang belum terisi. “Sorry,” Agam menulis kata itu di lengannya dan memperlihatkannya pada Kirana. Kirana yang sadar dan bisa membaca tulisan Agil tidak memberikan respon apa pun. Ia tidak ingin membuang waktunya untuk meladeni tingkah konyol Agam. Lelaki itu sepertinya mengisi soal dengan malas, karena Kirana perhatikan dengan ujung matanya Agam tampak banyak diam tidak ada hitung menghitung yang dia lakukan. Malah sekarang sibuk mengganggu Kirana. “Na beneran gue ketiduran kemarin,” kali ini Agam menggeserkan sebuah kertas berisi tulisan lagi. Bukan contekkan tapi sebuah penjelasan lagi. “Kirana pliss maafin gue.” Kertas lain kembali Agam sodorkan. Kirana yang merasa terganggu akhirnya menulis balik sebuah jawaban untuk Agam. “Kerjain soal ulangan lo.” Tulis Kirana. Hanya dibalas seperti itu saja sudah cukup membuat Agam tenang setidaknya Kirana sudah mau kembali berkomunikasi dengan Agam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN