AJAKAN BERTANDING BASKET

1360 Kata
“Na, bapak pagi ini mau belanja sayuran. Gak papakan kalau hari ini bapak gak nganter kamu ke sekolah?” Tanya Ayah Kirana yang sudah bersiap untuk pergi. Keluarga Kirana memiliki toko yang cukup besar, lumayan untuk menghidupi mereka bertiga. Meski pun hasilnya masih dibagi bagi dengan cicilan hutang kakeknya yang sudah meninggal. “Gak papa pak, Kirana bisa naik angkot kok.” Jawab Kirana sambil tersenyum kepada bapaknya yang merasa tidak enak. “Gak malu?” bapaknya kembali bertanya. “Enggaklah ngapain malu.” Balas Kirana cepat menepis pikiran buruk bapaknya. “Tapi semua teman kamu naik mobil mewah.” Ucap ayahnya Kirana lagi seperti sedang menguji kesederhanaan sang anak. “Udah pak nanti telat.” Tegur ibunya Kirana karena sang suami tidak kunjung berangkat. “Eh iyah mah, ini mau berangkat.” “Yaudah gih berangkat pak.” “Iyah, ini bapak berangkat.” “Kamu hati-hati naik angkotnya.” Ucap bapaknya Kirana. Perhatiannya itu yang membuat Kirana merasa bangga pada bapaknya. Tidak ada kata putus asa sepertinya dan hal itu yang membuat Kirana juga bersikap pantang menyerah. Jika tanpa beasiswa mungkin ia tidak bisa masuk ke SMA yang kini menjadi sekolahnya. Beruntung saja Kirana bisa lolos jalur beasiswa setidaknya itu bisa mengurangi beban kedua orang tuanya. “Mamah gak ikut?” tanya Kirana saat ayahnya sudah berangkat dan ibunya masih duduk santai. “Enggak, mamah mau buka toko sebentar lagi.” Jawab ibunya. “Oh kirain kenapa.” “Yaudah aku mau mandi dulu mah,” pamit Kirana bersiap untuk mandi karena sebentar lagi hari menjelang pagi. “Iyah gih, sarapan udah ada dimeja makan yah.” Ucap ibunya memberitahu. “Siap mah.” Jawab Kirana sambil ngacir pergi ke kamaenya. Pukul setengah tujuh pagi Kirana sudah sampai dikelas. Baru beberapa orang yang hadir diantaranya adalah Samsul. Ketua kelas Kirana yang menurutnya agak bawel, karena semua harus perfect dimatanya. “Ulangan hari ini,” Samsul menghampiri Kirana dan langsung memberitahunya. “Gue tahu yaa.” Balas Kirana cepat. “Di kasih tahu malah nyolot dasar.” Cibir Samsul kesal. “Lagian lo mah ngasih tau hal yang gue tahu, coba aja lo bawa berita yang gue gak tahu.” Ucap Kirana sambil menaruh tasnya di atas kursi. “Basket hari ini lo tahu gak?” tanya Samsul berharap Kirana tidak tahu, karena dari raut wajahnya sepertinya Kirana memang tidak tahu. “Basket apaan?” Kirana menyentak Samsul. “Hari ini ada tanding basket, lo ikutkan?” tanya Samsul memberitahu sekaligus bertanya. “Lo baca berita gak di grup sekolah.” Kirana terdiam ia lupa bahwa dari kemarin Kirana mematikkan ponselnya dan belum menghidupkannya hingga sekarang. “Yang bener lo? Masa dadakan.” Kirana menggerutu sambil mengambil ponsel dari saku roknya. “Lo mah dikasih tau salah, gak dikasih tahu minta berita.” Ucap Samsul berlalu mungkin ia lelah karena meladeni Kirana. Kirana tidak memperdulikan kepergian Samsul, ia buru-buru mengaktifkan ponselnya untuk mengecek apakah yang dikatakan Samsul itu memang benar. Dan ternyata yang dikatakan Samsul memang benar. Kelas sebelas yang merupakan kakak kelas mereka mengajak tim Kirana untuk bertanding. mampus Kirana apalagi Kelas sebelas itu adalah orang yang kemarin mencegat Kirana dn mengatainya. “Ish sial.” Kirana menggerutu sendiri. “Tuhkan apa kata gue.” Samsul berteriak dari ambang pintu saat melihat raut Wajah Kirana yang kesak. “Tau ah, bodo amat.” Jawab Kirana menanggapi ledekan Samsul. Kirana akhirnya duduk di kursi miliknya, karena satu persatu teman sekelasnya sudah berdatangan. Dan membuat Kirana semakin bingung, bukan bingung karena kehadiran temannya tapi karena ajakan tanding dari kakak kelasnya. “Kirana?” Natasya memanggil Kirana kencang. “Lo tahu kita ada tanding hari ini.” Natasya berlari sambil berceloteh padahal entah apa yang ia bicarakan karena sama sekali Kirana tidak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Natasya. “Lo duduk dulu.” Suruh Kirana cepat saat Natasya sudah berada di hadapannya. “Hah... Hah.. Cape banget gue.” Ucap Natasya duduk disebelah Kirana dengan nafas terengah-enggah. “Lo bicara apa sih?” Tanya Kirana penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Natasya. “Lo gak denger?” Natasya melotot sambil bertanya. “Enggak.” Jawab Kirana datar sambil menggelengkan kepalanya pertanda tidak. “Ini yang kemarin marahin lo pas mau pulang ngajak tanding basket sama kita.” Ucap Natasya menjelaskan. Akhrinya keluarlah semua cerita dari mulut Natasya. Ia mengatakan semua isi pesan yang Kirana tinggal semalam berisi tentang ajakan kakak kelas mereka untuk bertanding basket dengan tim Kirana. “Terus jadi tanding?” Tanya Kirana kemudian setelah Natasya berhenti nyerocos. “Jadilah. Makanya lo harus siap, eh btw lo masih sakit tapi ya?” tanya Natasya kehilangan semangat karena teringat jika Kirana kemarin sakit. Dan itu artinya sahabatnya tidak bisa bertanding hari ini. “Enggak gue udah sembuh,” jawab Kirana semangat, bagaimana pun juga ia harus menang karena kemarin ia merasa harga dirinya di injak-injak dan Kirana tidak terima hal itu. “Terus lo mau ikut tanding?” tanya Natasya lagi. “Maulah, apalagi lawannya orang yang kemarin.” Jawab Kirana menggebu-gebu. Kirana sepertinya lupa bagaimana sakitnya kemarin, yang terpenting hari ini ia harus menang. “Samsul, pinjemin gue kaos olahraga yah. Lo kan punya dua.” Kirana berteriak pada Samsul dengan nada bicara baik. “Apa sekali lagi,” Samsul mendekat dan seolah-olah tidak mendengar apa yang Kirana katakan. “Samsul, ketua kelas. Gue pinjem baju olahraga lo yahh..” ucap Kirana memelas. “Ogah, ada maunya lo baik-baikin gue.” Tolak Samsul. “Ah lo mah gitu sama temen sendiri aja jahat.” Ucap Kirana kembali memelas. “Lo jahat ngeselin,” ledek Samsul balik. Kirana tiba-tiba punya ide bagus di dalam otaknya. “Nat, hari ini ulangan yahh?” tanya Kirana pada Natasya mengalihkan pembicaraannya dengan Samsul. “Eh iyah gue belum belajar dong.” Ucap Natasya menepuk keningnya keras. “Ulangan?” Samsul ikut nimbrung dengan cepat. “Iyah.” Jawab Kirana angkuh. “Yaudah deh lo boleh minjem baju olahraga gue.” Ucap Samsul lembut, dan tentu saja hal itu tidak dibayar gratis karena Samsul pasti menginginkan hal lain dari Kirana. “Hm gak papa kok, kata lo jangan.” Ucap Kirana kini tahan harga, karena yakin kali Ini Samsul yang akan mengemis padanya. “Boleh kok, gue tadi becanda aja.” Ucap Samsul. “Haha lo mah ada maunya.” Celetuk Natasya cepat. “Gue cuman minta nanti kasih tahu essay doang.” Ucap Samsul, teman sekelas Kirana memang mengakui kepintaran Kirana jadi ketika ada peluang untuk mendapat jawaban dari Kirana saat ujian pasti akan mereka ambil dengan cepat. “Yah, lo pakai baju gue aja. Gak papa wangi kok,” Samsul kembali memohon dia yang akan meminjamkan dia pula yang memohon pada Kirana. “Hm oke, gue pinjam yah.” Ucap Kirana “Nah gitu dong, siap jangan lupa essay yah. Lo baik banget Kirana.” Samsul pura-pura memuji Kirana. “Apa lo juga baik kalau ada maunya,” ucap Kirana balik mengatai Samsul. Saat kelas sedang ricuh, Agam tiba-tiba datang dengan gaya coolnya. Menghentikan semua kawannya yang sedang bercanda gurau. Karena semua orang merasa heran dengan Agam yang tampak begitu ganteng pagi ini. “Wish temen gue makin ganteng aja.” Teriak si Rudi dari arah pojok kelas paling belakang. Agam yang baru saja tiba di ambang pintu langsung menghentikan langkahnya. “Apasih,” Kesalnya kemudian dan berjalan ke arah mejanya. “Lo potong rambut, jadi keliatan rapi gak urakan.” Ucap Samsul. “Oh.” Hanya itu saja yang keluar dari mulut Agam. Karena fokus utamanya kali ini adalah Kirana, dan perempuan itu kini tengah menghadap ke arah belakang seperti tidak perduli dengan kehadirannya. Apalagi semalam Kirana sama sekali tidak mau mengangkat panggilan suara dari Agam. “Kirana?” Agam menghampiri Kirana yang tengah fokus menghadap ke arah belakang. “Ya?” jawab Kirana sepertinya ia lupa bahwa yang memanggil dirinya adalah Agam, sedangkan Agam sudah merasa lega karena Kirana sepertinya tidak marah pada Agam karena perempuan itu masih mau menjawabnya. “Lo,” Kirana kaget saat berbalik dan dengan cepat membalikkan lagi badannya kekesalannya pada Agam belum sepenuhnya hilang. “Na, gue bisa jelasin.” Ucap Agam yang membuat semua orang melirik mereka karena ucapan Agam yang keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN