Agam terbangun dari tidurnya, bisa-bisanya ia tertidur di dalam mobil. Padahal hari sudah beranjak sore karena matahari sepertinya sebentar lagi akan tenggelam. Ia bermimpi menikah dengan Kirana di masa depan. Rasanya mana mungkin dirinya akan menikah dengan Kirana yang bahkan tidak menaruh hati padanya saat ini.
“Ya Ampun.” Agam menepuk keningnya kencang,
“Gue lupa mau anter Kirana pulang.” Gerutunya kemudian. Tanpa banyak berpikir Agam langsung keluar dari dalam mobil memastikan bahwa Kirana masih berada di sana.
Agam memasuki lorong sekolah yang sudah sepi, ia tidak menemukan satu orang pun di sana. Sepertinya semua siswa memang sudah pulang sejak tadi. Agam saja yang begitu teledornya bisa tertidur dalam mobil.
Agam berjalan ke UKS, kelas, dan beberapa ruangan lainnya. Namun hasilnya nihil karena ia tidak menemukan satu orang pun di sana. Yang ada hanya lorong gelap yang sebentar lagi akan terasa menyeramkan. Jadi yang paling benar adalah Kirana sudah pulang sepertinya dan Agil kembali membuat kesalahan yang pasti akan membuat Kirana semakin menjauh.
Agam berjalan ke arah pintu gerbang, dan mendapati satpam yang akan bersiap mengunci pintu gerbang.
“Pak sebentar.” Agam berlari ke arah satpam untuk menghentikannya mengunci pintu gerbang.
“Lah masih ada orang?” kaget satpam tersebut karena mendapati Agam yang berlari ke arahnya.
“Pak ini anak-anak semuanya udah pada pulang?” tanya Agam dengan nafas terengah.
“Telat kamu, udah dari tadi. Lagian ngapain mereka jam segini belum balik. Terus kamu sendiri ngapain masih di sini?” tanya satpam tersebut heran apalagi Agam masih mengenakan baju seragam sekolahnya hanya dilapisi jaket saja.
“Jangan-jangan kamu. Mana perempuannya?” Satpam tersebut mendekat pada Agam tampak sedang menyelidikinya.
“Ya ampun, bapak apaan sih. Saya sendirian di sini, ketiduran.” Bantah Agam cepat sebelum pikiran satpam tersebut bercabang ke mana-mana.
“Beneran?” tanya satpam tersebut lagi tampak tidak percaya dengan ucapan Agam .
“Serius bapak, sumpah.” Agam mengacungkan tangannya berharap satpam tersebut percaya.
“Yaudah, kalau gitu cepat pulang! Saya mau kunci gerbang.” Suruh satpam tersebut.
“Siap, makasih pak.” Agam tersenyum sambil menyelipkan uang seratus ribu di saku baju satpam tersebut. Kemudian berlari ke arah parkiran untuk mengambil mobil miliknya.
“Eh kamu nyogok saya yah?” teriak satpam tersebut seperti tidak ingin mengambil uang yang diberikan Agam.
“Enggak pak, anggap aja itu tanda perkenalan kita. Oh iyah, nama saya Agam kelas sebelas IPS.” Jawab Agam berteriak karena jaraknya sudah agak menjauh.
“Dasar bocah.” Satpam tersebut hanya bisa geleng geleng kepala meelihat kelakuan Agil jiwa muda seperti itu sudah sering ia temui. Bahkan berandalan yang bersekolah di sana pun sudah menjadi kawannya karena setiap pagi selalu berlangganan untuk meminta dibukakan pintu gerbang.
Meninggalkan Agil yang baru pulang sekolah, Kirana justrul sudah tiba sejak tadi. Kepalanya masih terasa berdenyut kencang. Padahal ia sudah meminum obat pereda nyeri kepala dan bahkan sudah dua kali meminumnya. Kirana berpikir jika itu hanya pikiran biasa, ditambah dirinya sedang emosi pada sekumpulan kakak kelas yang mengatai Kirana perempuan tidak benar karena menggoda Agam dan juga kakak kelasnya.
“Sial ih,” Kirana memukul kepalanya kesal. Berbaring ke sana kemari tidak juga membuahkan hasil malah kepalanya semakin terasa sakit.
“Mana besok ujian lagi,” gerutunya lagi saat sedang memukul mukul kepalanya tiba-tiba satu panggilan suara masuk.
“Siapa sih?” Kirana semakin dibuat kesal mendengar bunyi dering ponselnya saja terasa membuat kepalanya semakin pecah. Kirana meraih ponselnya, nomor tidak di kemal tertera di sana. Membuat Kirana enggan untuk mengangkatnya. Apalagi zaman sekarang marak sekali kasus penipuan.
“Diam,” Kirana mematikan nada dering ponsel tersebut dan bersiap untuk menaruhnya kembali.
Saat akan menaruh ponselnya. Tiba tiba satu pesan masuk
Kirana? Tulis agam di sana. Kirana mengerutkan kedua keningnya heran siapa orang tersebut san dari mana tahu namanya.
Kirana? Pesan tersebut kembali dikirim Agam Kirana. Kirana masih menimbang untuk.membalas pesan itu atau membiarkannya.
Ini gue agam. Satu pesan kembali muncul. Kirana terdiam, menahan kesal. Ia sudah bisa menebak bahwa Agam hanya akan meminta maaf atau menjelaskan alasannya tidak jadi mengantar Kirana pulang.
“Buaya.” Ucap Kirana memandang ponselnya yang berisi pesan dari Agam.
Kirana? Gue minta maaf. Tulis agam lagi karena Kirana tidak kunjung membalas pesannya.
“Males ah, serah lo.” Jawab Kirana pada ponselnya padahal jawaban itu sama sekali tidak akan terdengar oleh Agam.
Ponsel Kirana kembali berdering untuk ke sekian kalinya, dan itu masih menampilkan panggilan dari Agam. Hal yang membuat kepala Kirana semakin terasa sakit, akhirnya Kirana memutuskan untuk mematikan ponselnya agar Agam tidak menghubunginya lagi. Sedikit pelajaran untuk Agam karena telah membuat Silvia menunggu dan di bully oleh kakak kelasnya.
“Kirana?” seorang wanita paruh baya yang nampak masih sangat segar itu masuk ke dalam kamar Kirana.
“Iyah mah,” jawab Kirana sambil mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah sang ibu yang berdiri.
“Ya ampun,” teriak ibunya Kirana saat mendapati darah segar keluar dari hidung Kirana.
“Hidung kamu kenapa?” ibunya Kirana panik mengambil tisu dan langsung menghentikan darah segar yang keluar dari hidung Kirana tersebut.
“Mimisan yah?” Kirana membantu ibunya untuk memegang tisu.
“Iyah sakit gak?”
“Enggak kok, gak kerasa apa-apa malahan.” Ucap Kirana jujur karena ia tidak merasakan sakit apa pun.
“Yaudah mamah ambilin dulu air hangat buat bilas darahnya.” Ucap ibunya Kirana bersiap untuk mengambil air hangat.
“Eh gak usah, aku bilas ke kamar mandi aja mah.” Cegah Kirana memegang lengan ibunya.
“Kuat?”
“Kuat mah,”
“Mamah antar?”
“Jangan ih!” Kirana menolak dengan cepat tawaran ibunya untuk mengantarnya membilas darah tersebut.
“Mamah ambilin minum kalau gitu.”
“Siap, makasih mamah.”
Saat ibunya pergi untuk mengambil air minum, Kirana dengan cepat pergi ke kamar mandi. Berniat Membersihkan darah yang masih sedikit keluar dari hidungnya. Sialnya kepala Kirana malah terasa semakin sakit. Namun, sebisa mungkin ia tahan karena tidak ingin membuat orang tuanya cemas.
“Udahan dong,” Ucap Kirana pada kepalanya sendiri berharap rasa sakit bisa mereda dengan sendirinya.
“Kok sering banget sakit kepala yah?” Kirana berbicara pada pantulan dirinya sendiri di dalam cermin, hidungnya sudah ia bersihkan dan darah pun berangsur berhenti keluar.
“Kirana?” ibunya memanggil dari luar.
“Iyah mah,” belum juga selesai dengan pertanyaan perihal sakit kepala Kirana tidak ingin membuat ibunya cemas dan dengan cepat keluar untuk menemui ibunya.
“Ini minumnya.” Sodor ibunya memberikan segelas air minum pada Kirana.
“Muka kamu kok pucat gini sih?” ibunya Kirana memegang wajah Kirana yang terlihat pucat.
“Masa sih enggak kok,” Tepis Kirana cepat dan berjalan ke arah kasur untuk merebahkan diri.
“Ini butuh tidur aja kayaknha.” Kirana menarik selimbut cepat.
“Kamu sakit yah?” ibunya Kirana mendekat untuk memastikan.
“Enggak kok,” Kirana semakin mengelak.
“Bohong.”
“Enggak mamah,” Kirana memasang cengirannya agar sang ibu percaya.