“udah ah gak usah di bahas, yang dulu udah berlalu, sekarang mending kita bicarain masalah konsep pernikahan kita.” Hibur Agam berusaha mengalihkan pembicaraan.
“hmm, pinter banget ngeles.”
“ish bukan ngeles, tapi fakta.” Bela Agam sambil berpindah posisi duduk untuk berhadapan dengan Kirana.
“jadi kamu mau konsep gimana?” tanya Agam saat sudah menemukan posisi duduk yang nyaman.
“hmm apa yah.....” pikir Kirana berpura pura mencari ide
“apa hm?” tanya Agam penasaran.
“aku maunya.” Tes tiba tiba darah menetes dari hidung Kirana, Agam tak bicara apa pun ia dengan cepat mengambil tissue dan mengusap hidung Kirana lembut.
“Aku cape Gam.” Ucap Kirana saat Agam sudah membersihkan darah yang keluar dari hidung Kirana.
“shutt kamu gak boleh bicara gitu, kamu pasti sembuh kok.” Semangat Agam mencoba meyakinkan Kirana memberikannya harapan bahwa oerempuan yang ia cintai itu bisa sembuh dan hidup bahagia dengannya.
Seharusnya Agam sadar dari dulu jika Kirana tidak baik baik saja, selama hampir dua tahun setengah bersama dengannya Agam sering melihat hidung Kirana yang tiba tiba mengeluarkan darah, atau perempuan itu tiba tiba pingsan. Namun Agam tidak menyadari jika Kirana mengidap penyakit mematikan itu.
“tapi rasanya umur aku udah gak lama Gam, aku sering mimpi ketemu nenek yang udah meinggal terus dia bilang kalau bentar lagi aku bakalan kumpul sama dia.” Ucap Kirana sambil menaatap langit yang terlihat mendung.
“udah ah itu cuman halusinasi kamu aja. Kamu pasti baik baik aja, kita pasti hidup bahagia kedepannya.” Yakin Agam.
“kalau aku mati, kamu harus cari wanita yang lebih baik dari aku segalanya.” Ucap Kirana sambil meraih tangan Agam dan tersenyum ke arahnya. Menbuat mata Agam memerah menahan air mata, ia tidak ingin terlihat lemah di mata Kirana.
“masuk yuk udaranya mulai dingin,” ajak agam tanpa menghiraukan ucapan Kirana barusan, Agam berdiri dan berbalik arah untuk mendorong kursi roda yang diduduki Kirana.
Saat Agam hendak melangkahkan kakinya, tiba tiba kepala Kirana ambruk ke tangan Agam. Tanpa basa basi Agam meraiih tubuh Kirana dan menggendongnya masuk ke dalam rumah. Agam beruasaha untuk tidak panik ia harus menjadi lelaki yang kuat demi Kirana.
Ayah daN ibu Kirana yang melihat hal itu tidak lagi banyak bicara dengan cepat mereka membantu Agam menidurkan Kirana di kamarnya.
“Obatnya udah dimakan belum bu?” tanya Agam pada ibunya Kirana.
“belum, siang ini Kirana belum minum obat lagi “ jawab ibunya Kirana.
Saat hendak berlalu mengambil obat tiba tiba Kirana tersadar.
“mah, pah, Agam?” panggil Kirana lirih, mereka dengan cepat meghampiri Kirana dan memegang tangan Kirana erat.
“kok gelap mah,” ucap Kirana ketakutan karena kedua matanya tidak bisa melihat apa pun. Ia hanya mampu melihat kegelaoan yang menyelimutinya.
Dan deg semua orang masing masing saling menatap putus asa.
^^^
“Gimana mempelai pria? Siap?” tanya penghulu pada Agam.
“siap pa,” jawab Agam mantap.
“baik kalau gitu kita mulai acaranya.” Ucap penghulu
“jabat tangannya nak,” pinta oenghulu pada Agam untuk menjabat tangan ayahnya Kirana. Dan dengan mantap Agam menjabat tangan ayahnya Kirana. Sebentar lagi Kirana akan resmi menjadi istrinya dan menjadi tanggung jawabnya.
“Bismillah, saya nikahkan dan saya kawinkan anak saya yang bernama Kirana binti Lukman kepada Agam Mahesa Angkasa Bin Surya dengan mas kawin berupa uang senilai seratus lima puluh juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah dibayar tunai.” Ucap ayahnya Kirana lantang.
“saya terima nikah dan kawinnya Kirana binti Lukman dengan mas kawin tersebut tunai.” Jawab Agam tak kalah lantang.
“bagaimana para saksi?”
“sah,” ucap ketiga saksi
“alhamdulillah” ucap semua tamu serentak
Dan brukk tubuh Kirana ambruk ke dalam dekapan Agam. Pria yang resmi menjadi suaminya itu, kini penderitaan Kirana telah usai. Semua rasa sakit itu telah tiada, dan Tuhan ternyata lebih menyayanginya.