PERMINTAAN AGAM

401 Kata
Kamu mau jadi pahlawan kesiangan?” bentak pak Surya ayahnya Agam, karena mendengar keputusan anaknya untuk menikahi wanita yang memiliki penyakit mematikan dan berada di ujung kematian. “Agam serius pah,” jawab Agam mantap “Agam sayang sama dia, dari dulu masalah dia punya penyakit Agam terima dia apa adanya. Bukan salah dia punya penyakit. Dia aja berusaha buat sembuh.” Lanjut Agam tidak kalah keras dari ucapan sang ayah. “kamu gak salah pilih kan?” kali ini Kalina ibunya Agam yang bertanya dengan nada lembut berusaha meredam emosi antara suami dan anaknya. “Agam serius mah,” jawaban Agam terdengar lembut pada sang ibu. “dia itu wanita biasa, dari keturunan biasa, bahkan sekarang penyakitan gitu. Sedangkan kamu dari keluarga terpandang bisa dapetin yang lebih baik daripada dia.” Ucapan Ayahnya membuat kepala Agam terangkat seakan menantang sang ayah. “ayah ini gak pernah berubah yah dari dulu, selalu nyangkutin semua hal sama harta. Emang ayah Pikir harta bisa ayah bawa mati? Enggakkan?” tantang Agam. “Agam, jaga ucapan kamu.” Bentak Ayahnya. “apa? Aku udah nurutin semua kemauan kalian dan sekarang aku cuman minta restu buat nolongin orang yang aku sayang.” Ucapan Agam merendah, egonya ia kendalikan karena percuma saja emosi tidak akan menyelesaikan semuanya. “pah, biarin Agam nentuin pilihannya kali ini.” Bela ibunya mendekat pada ayahnya berharap emosinya mereda. “ayah akan restuin kamu, tapi dengan syarat kamu tetap kuliah dan berusaha jadi yang terbaik.” ^^^^ “Agam,” panggil Kirana “iyahh, kenapa hm?” jawab Agam sambil mendekat ke arag Kirana dan mengusap pelan rambutnyaa yang mulai menipis. “aku gak mau jadi beban buat kamu.” Ucap Kirana pelan. Agam menatap kedua mata Kirana yang dahulu penuh kecerian, mata itu mata yang pertama kali menyajikan cinta pada Agam meski pun pada akhirnya ia ditinggalkan. “siapa bilang kamu jadi beban buat aku?” “dulu aku udah nyia nyiain kamu, dan sekarang dengan baiknya kamu malah nolingin aku.” Ucap Kirana ia benar benar merasa menyesal karena telah mengabaikan Agam. “shutt..” Agam meletakkan jarinya Telunjuknya dimulut Kirana. “udah ah gak usah di bahas, yang dulu udah berlalu, sekarang mending kita bicarain masalah konsep pernikahan kita.” Hibur Agam berusaha mengalihkan pembicaraan. “hmm, pinter banget ngeles.” “ish bukan ngeles, tapi fakta.” Bela Agam sambil berpindah posisi duduk untuk berhadapan dengan Kirana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN