KILAS MASA DEPAN 2

724 Kata
“lo jangan becanda Na, cari lagi.” Panik Natasya sambil membantu Kirana membereskan bukunya berharap buku itu tiba tiba terselip di sana. “gue gak becanda serius gak ada,” ucap Kirana kesal. “gimana coba lima menit lagi bell dan pelajaran pak Dirga itu jam pertama mampus lah kita kalau gitu.” Ucap Natasya pasrah melihat jarum jam yang terus berputar dan mustahil ia bisa mengerjakan soal dalam waktu lima menit. “gue juga bingung harus gimana,” jawab Kirana sambil meremas rambutnya kasar karena kesal pada dirinya sendiri bisa bisanya ia seceroboh itu. Saat tengah sibuk berdebat tiba tiba Dirgantara datang dengan gagah, ia memasuki kelas Kirana dengan gaya cool seperti biasanya. Sontak saja Kirana dan Natasya dibuat kaget dengan kedatangan Dirgantara yang sudah mereka cemaskan. “udah masuk semuanya?” tanya Dirgantara, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Kirana. “sudah pak,” jawab Lucky ketua kelas Kirana. “baik kalau gitu pelajaran akan bapak mulai.” Ucap Dirgantara. “pak Dirga itu memang gak pernah luntur gantengnya.” Bisik Siska dipojokan pada teman sebangkunya. “gue gak bakalan nolak kalau di jadiin ceweknya,” balas teman di sebelahnya. Kirana yang mendengar hal itu hanya menarik nafas berat, meski pun sudah biasa mendengar pembicaraan seperti itu tapi tetap saja rasanya selalu sakit. Karena pria yang menjadi kekasihnya itu diidolakan banyak wanita di sekolahnya. Dan entah apa jadinya jika mereka tahu bahwa Kirana adalah pacar Dirgantara. “kok bangku disebelah kamu masih kosong?” tanya Dirgantara pada Kirana karena menyadari jika bangku di sebelah Kirana belum berpenghuni. “biasalah Agam dia kan langganan telat pak,” sahut Lucky menjawab pertanyaan Dirgantara yang diajukan pada Kirana. Dirgantara hanya menggelengkan kepalanya heran, saudaranya itu memang sulit berubah. Tapi yang dirgantara kesal adalah kakeknya yang lebih menyanyangi Agam dari pada dirinya. “yasudah, kalau begitu silahkan kumpulkan tugas yang minggu lalu saya berkan.” Ucap Dirgantara. Kirana dan Natasya hanya bisa pasah karena buku tugas milik Kirana tertinggal dan menyebabkan Natasya tidak bisa mengerjakan tugas. Semua murid serentak membawa buku mereka ke depan, untuk dikumpulkan. Sedangkan Kirana dan Natasya hanya bisa diam mematung, mereka hanya bisa terpaku pasrah. “lho Kirana tugas kamu mana?” tanya Dirgantara karena melihat Kirana yang belum maju ke depan untuk mengumpulkan tugas. “buku tugas saya ketinggalan pak,” jawab Kirana jujur, ia benar bena pasrah karena Dirgantara tentu saja tidak memiliki ampun meski pun ia berstatus sebagai pacarnya. “kok bisa?” “saya lupa masukin ke dalam tas pak,” jawaban Kirana yang lirih dan bola mata yang berkaca kaca membuat Dirgantara tidak tega. Tapi ia tidak mungkin memberikan keringanan pada Kirana karena akan menimbulkan kecurigaan siswa yang lainnya. “hm kalau gitu kamu tau kan apa konsekuensinya, jika di pelajaran saya tidak ada yang mengerjakan tugas?” ucap Dirgantara dingin. “silahkan keluar,” ucap Dirgantara jelas. Kirana tidak menjawab apa pun, ia hanya menduduk pasrah keluar dari dalam kelas. Dalam hati ia mengegrutu karena Dirgantara tega mengeluarkannya dan membuatnya alfa di pelajaran pertama. “awas aja gak bakalan gue baikin kalau dia minta maaf.” Gerutu Kirana Tidak lama kemudian Natasya dan satu teman lainnya menyusulnya ke luar dari dalam kelas. “dasar pak Dirga, kepala batu.” Gerutu Natasya kesal “lo sih ngapain juga pake acara ketinggalan itu buku,” ucap Natasya menyalahkan Kirana. “malah nyalahin gue,” Saat tengah sibuk menggerutu tiba tiba seseorang datang dengan santainya menghampiri mereka bertiga. Dengan tas yang ditenteng sebelah dan rambut yang basah dan sedikit berantakan Agam berjalan menghampiri Kirana. Tidak ada raut bersalah yang ia tunjukkan, ia sudah terbiasa datang terlambat dan langganan dikelurkan oleh setiap guru. “loh Kirana? Kok lo diluar sih?” tanya Agam heran karena mendapati Kirana yang berada di luar. “yah gue dikeluarin dari kelas,” jawab Kirana dengan sedikit kesal. “gue gak ngerjain tugas,” terang Natasya sebelum Aga bertanya karena pria itu sudah meliriknya seperti meminta jawaban. “yaudah sih mukanya pada ditekuk gitu. Santuy aja santuy, lagian ngapain pusing pusing denegrin penjelasan pak Dirga di dalem. Mendingan ngadem di luar gini.” Ucap Agam saantai sambil mengambil botol biru dari dalam tasnya kemudian meneguknya pelan. “mau?’ tawar Agil pada Kirana, dan untuk pertama kalinya Kirana menerima sesuatu yang disodorkan Agam. Dan membuat seseorang yang mengintip dari dalam kelas terbakar api cemburu. bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN