KILAS MASA DEPAN

503 Kata
“Oh ini toh Kirana itu?” sekelompok perempuan mendatangi Kirana dengan tiba-tiba. Penampilan mereka sangat mirip dengan apa yang ada di dalam sebuah cerita. Layaknya anak geng mereka memiliki wajah cantik dan sangat. ‘Maaf siapa yah?” tanya Kirana yang masih merasakan pusing disekitar kepalanya, sedangkan Natasya hanya berdiam diri karena mengira jika mereka memiliki urusan pribadi dengan Kirana. Kilas masa depan. keberuntungan. Karena faktanya luka yang semesta suguhkan, dengan bumbu derita dan air mata yang membuat aku semakin paham bahwa tujuan semesta bukan untuk menyatukan kita tapi untuk membuat tempat singgah sementara. Satu paragraph tulisan itu membuat kirana tersenyum kecut mengingat hubungannya dengan Dirga lebih tepatnya Dirgantara anak dari pemilik Yayasan tempat di mana ia bersekolah. Cinta dan logika selalu bertarung untuk mengalahkan ego tapi tetap saja pada akhirnya Kirana akan luluh dengan dalih Cinta. “Na, lo udah ngerjain soal yang di kasih pak Dirga?” pertanyaan Natasya membuat Kirana menoleh kearah belakang. Namun kursi yang ia duduki menghalangi perputaran badannya dan membuat Kirana harus membalikan kursinya untuk menghadap sempurna kearah belakang. Tempat duduk Natasya sahabat karibnya percis berada di belakangnya, bernomor urut dua dari arah depan dan dirinya tentu saja menduduki posisi pertama. “udah,” jawab Kirana saat sudah mendapat posisi yang nyaman. ”lo dapet bocoran lagi pasti?” selidik Natasya, ia sudah paham lagi jika sahabatnya pasti mandapat bocoran jawaban dari sang kekasih yang tidak lain adalah gurunya sendiri. “shuutt ih,” kode Kirana pada Natasya, sahabatnya itu memang tahu perihal hubungannya dengan Dirga karena ia bertekad untuk menyembunyikan hubungannya dan itu membuatnya tersika. Harus menemukan berbagai asalan jika hampir ketahuan dan ia menjadi satu satunya perempuan yang sulit dekat dengan teman pria di kelasnya. “iya iyah, kalau gitu mana donk contekannya. ” Ucap Natasya sambil mengedipkan matanya merayu Kirana agar mau memberikannya contekkan. “cepet ih keburu dateng pak Dirga nya,” ucap Natasya lagi karena tidak sabar melihat Kirana yang mencari buku di dalam tasnya. “bentar ih gak sabar banget,” jawab Kirana kesal tanpa menoleh kea rah Natasya matanya masih tetap terfokus pada isi tasnya. Beberapa waktu Kirana masih terlihat santai, hingga seperkian menit detik kemudian raut wajahnya tiba tiba berubah menjadi merah. Kulit wajah yang putih itu seketika memerah karena semakin sadar bahwa ia tidak menemukan buku tugas matematikanya. Merasa yakin bahwa bukunya itu sudah ia masukan ke dalam tas, akhirnya Kirana mengeluarkan satu persatu isi tasnya untuk memastikan bahwa bukunya mungkin terselip di dalam. “ish cepet Na, malah masar di sini sih.” Umpat Natasya karena kesal melihat Kirana yang sibuk mengeluarkan isi tasnya di atas meja. Kirana tidak menjawab ucapan Natasya, pikirannya mulai cemas sekaligus takut dan Damm sampai pada buku terakhir dan benda terakhir yang ia keluarkan buku tugasnya tidak berada di dalam tasnya. “buku gue ketinggalan kayaknya,” ucap Kirana lemas ia benar benar bingung, dan sontak saja ucapan Kirana tersebut seperti petir yang menyambar di siang bolong bagi Natasya. Karena juru selamatnya saja akan jatuh apalagi dirinya yang hanya piguran saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN