Hagia menatap kakak nya bingung karena sejak tadi
"Kak.. kakak" panggil Hagia membuat Yasmin tersentak dari lamunan nya
"Iya dek, sate nya sudah selesai?" Tanya Yasmin
"Sudahh" jawab Hagia sambil menunjukkan bungkusan sate di tangan nya
"Ayo kita pulang sepertinya kakak capek, kakak melamun terus dari tadi" sambung Hagia
"Maaf kan kakak ya" Yasmin tersenyum dan merangkul adiknya untuk jalan bersama ke rumah mereka yang tidak terlalu jauh dari taman.
Sementara dari kejauhan Pandu melihat dua kakak beradik itu dari dalam mobil nya dengan tatapan sendu.
Niat nya membawa Rio jalan-jalan dan membeli ice cream tiba-tiba berubah tujuan di tengah perjalanan, tadi nya dia berniat melewati depan rumah Yasmin. Hanya lewat saja, baginya hanya melihat tampak depan rumah Yasmin saja sudah cukup untuk mengobati rindunya pada gadis cantik itu namun saat melewati taman dia melihat Yasmin dan Hagia sedang duduk menunggu pesanan sate mereka.
Pandu tersenyum melihat wajah cantik yang sedang tertawa bersama adiknya, dia begitu bahagia melihat gadis itu tersenyum dan tertawa ntah kenapa saat bersama nya gadis itu lebih banyak diam dan cemberut jika tersenyum pun hanya sekilas.
"Papa kapan kita beli ice cream nya" tanya Rio anak semata wayang Pandu itu terlihat sudah bosan menunggu papa nya yang dari tadi hanya diam menatap ke suatu tempat
"Ah iya papa hampir lupa" goda Pandu membuat Rio cemberut
"Ayo kita beli ice cream yang banyak" Pandu segera menjalankan mobil nya ke supermarket terdekat membuat anak tampan nya bersorak kegirangan.
Masih terngiang-ngiang difikiran Pandu senyum dan tawa cantik yang dilihat nya di taman tadi.
Betapa menyesal nya hati Pandu jika mengingat gadis cantik yang dulu mencampakkan nya begitu saja, Pandu fikir perasaan nya pada gadis itu akan berubah dengan seiring waktu berlalu namun ternyata makin lama dia makin mencintai gadis itu bagaimanapun keadaan nya dan sebenci apapun gadis itu padanya tapi dia tidak peduli.
Dia akan melakukan apapun yang gadis itu ingin kan asal bukan permintaan untuk pergi jauh darinya. Sungguh Pandu tidak akan sanggup jika harus berpisah dengan gadis pujaan hati nya.
Terkesan egois namun Pandu benar-benar tak peduli
****
"Bang.. jangan tinggalkan aku, aku mohon. Apapun yang abang inginkan akan aku lakukan untuk abang" pinta Yasmin sembari menangis
"Abang harus pergi, abang sudah dijodohkan." Jawab lelaki dihadapan Yasmin dingin tak peduli dengan Yasmin yang sudah berurai air mata
Yasmin terus saja menangis dan menyesali semua perbuatan yang mereka lakukan dulu
"Abang lupa apa yang sudah kita perbuat selama ini? Apakah abang tidak mau bertanggung jawab" rintih Yasmin
"Kita melakukan nya suka sama suka"
"Orang yang pertama kali mengambil keperawanan ku adalah kamu bang" ucap Yasmin mulai emosi
"Kau sendiri yang bilang bahwa kau sudah tidak perawan"
"Aku akui memang aku berbohong waktu itu tapi abang lihat sendiri darah yang ada di sprei itu bukan, apakah abang lupa bahwa abang sendiri yang sudah mencuci darah itu"
"Kalau dari awal saja sudah berbohong bagaimana ke depan nya" ujar Lelaki yang bernama Rendi itu cuek sembari mematikan puntung rokok nya
Dia seperti sudah tidak peduli lagi dengan keadaan Yasmin yang sedang menangis tersedu-sedu
"Abang bisa menikah dengan ku"
"Tidak bisa"
"Kenapa?"
Rendi hanya diam saja menanggapi pertanyaan Yasmin
"Kenapa bang?" Tanya Yasmin lagi
"Aku memang sudah lama dijodohkan dengan nya" jawab Rendi santai tanpa memikirkan perasaan Yasmin yang rasa nya sudah di sayat-sayat
"apa selama ini aku hanya pelarian abang saja? Aku hanya hiburan disaat sepi? Pelampiasan disaat ingin?" Lanjut Yasmin
"Aku tidak bermaksud seperti itu, sudahlah sebaiknya kau pulang dan relakan semua nya"
"Relakan?" Bentak Yasmin
"Setelah semua yang terjadi dengan santai nya kau bilang aku harus merelakan semua ini? Kau sudah mengambil semua nya dariku dan dengan tega nya kau bilang aku harus merelakan nya" pekik Yasmin berang
Rendi hanya mengalihkan tatapan nya dari Yasmin.
Cuek. Sembari menghidupkan kembali rokok nya.
"Aku mohon" Yasmin bersimpuh di hadapan Rendi yang sedang duduk dengan santai nya di ruang tamu rumah nya
"Aku mohon bang aku mohon jangan pergi dari hidupku, aku sangat mencintaimu, aku mohon" mohon Yasmin
Namun hati Rendi sama sekali tak tergerak.
Dia hanya diam sembari menghisap rokok nya, menghembuskan asap rokok dengan santai.
"Aku sudah bertunangan Yasmin"
Mata Yasmin membulat mendengar kata-kata itu. Sudah tak terkira lagi rasa perih di hatinya.
Wanita mana yang sudah mengambil hati kekasih nya, pujaan hati nya.
Lelaki yang selama ini dia inginkan untuk menemani dan mengisi hari-hari nya.
Yasmin yang dianggap nya baik dan akan selalu mencintai nya ini ternyata menoreh kan luka yang begitu dalam di hati nya
***