Ivy memasang wajah muram begitu mendapati Arjun di depan apartemen. Matanya menelisik ke arah luar. Siapa tahu bisa menemukan satu yang dicarinya. Namun kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Dan berhasil membuat si putri kecil menelan kecewa. Tanpa menyapa Arjun, Ivy berbalik. Berlari menuju sang mama yang masih sibuk di dapur. Hal itu membuat Arjun dibuat tidak mengerti. Namun mencoba tidak peduli. Memilih berjalan mendekat, dan menduduki salah satu sofa di dalam apartemen. “Mama.” Panggilan Ivy juga tarikan ringan di ujung dress membuat Yena berbalik. Mendapati Ivy yang cemberut. “Kenapa, Sayang?” tanyanya pelan. Yena juga merendahkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Ivy lebih jelas. “Ivy nggak mau sekolah kalau nggak berangkat sama Papa Vigo.” Yena terdiam. Tanpa banyak bertanya,

