Yena baru ke luar kamar setelah membersihkan diri dan menutupi beberapa bekas yang Vigo tinggalkan di lehernya. Mengabaikan bekas-bekas lain yang berada di tempat tertutup. Ya, tidak masalah. Karena tidak akan menimbulkan tanda tanya dari si putri kecil. Jengkel. Tentu saja. Selama berusaha menutupi bekas-bekas itu dengan concealer, Yena tidak hentinya menggerutu. Dengan Vigo yang dijadikan sasaran utamanya. Lebih menyebalkannya lagi, wajah tampan dengan smirk menyebalkan itu selalu berputar-putar di kepalanya. Membuatnya kian jengkel. “Siang, Mama,” sapa Ivy yang sudah mengisi salah satu kursi makan. Ada Bude Sari dan Mbak Laras juga yang sedang menyiapkan beragam makanan di meja. Saling membalas senyum sebagai pengganti sapaan. Yena tersenyum lembut. Mendekatkan diri untuk memberi c

