Vigo melirik Yena di sampingnya. Sebelah tangannya terulur. Menggenggam juga memberi usapan lembut. Membuat Yena menoleh dengan raut khawatir yang nampak jelas. “It’s ok, Sayang,” ujar Vigo lembut. Setia memasang senyuman menenangkan. Yena hanya mengangguk dengan senyuman tertahan. Walaupun Vigo sudah menyampaikan kalimat yang sama, semenjak keduanya baru akan berangkat, tapi kekhawatiran itu tidak bisa hilang dalam sekejap. Apalagi ini kali pertama Yena datang untuk menemui Mama mertua. Di sepanjang hubungannya dengan Vigo yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Bukan karena Yena yang menolak bertemu. Hanya saja, saat itu, hubungan yang terjalin tidak sebaik sekarang. Membuat Vigo menunda sampai menemukan waktu yang tepat. Yena tidak pernah menyangka jika bertemu dengan Mama mert

