Bagian 22

1479 Kata

POV Ranisa Aku terbangun ketika mendengar sayup-sayup adzan subuh, mata ini terasa berat karena semalam tidur begitu larut. Meski begitu, aku kembali mendapatkan rasa tidur yang nyaman, setelah beberapa waktu terakhir ini selalu menikmati malam dengan gelisah. Semua karena ibu, dalam pangkuannya seluruh sakit ini tercurah. Ketika ia menyambutku diambang pintu, aku bersimpuh di kakinya memohon pengampunan. Ibu tersedu kemudian memelukku, tanpa banyak bertanya tangan tuanya mengusap punggungku, seolah mengerti apa yang sedang anaknya rasakan. Aku meminta maaf berkali-kali padanya, bisa saja ujian yang sedang menimpaku adalah karena banyak berdosa pada ibu. Ibu membesarkan hatiku, agar ikhlas menjalani segala prosesnya, tak ada hujan yang tak reda, semua yang terjadi ada tanda kasih sayang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN