Pesan kembali datang dari Naya. [Maaf ya kalau aku mengganggu. Jujur saja aku sangat khawatir dengan kondisi Mas Arya, kata dokter lambungnya luka. Memang beberapa waktu ini sulit makan. Aku merasa sangat tidak berguna, Ran.] Rasanya hatiku seketika tak karuan, pesan dari Naya pun belum ada yang ku balas satu pun. Tangan ini bergetar tak sanggup mengetik sebait kata. "Kenapa, Teh?" Rahma mendekat dan duduk di sampingku. "Mas Arya ...." "Kenapa Mas Arya?" "Sakit, sudah seminggu di rumah sakit. Lambungnya luka." "Astaghfirullah. Terus gimana?" Aku menggeleng pelan. "Teteh harus apa?" "Ya samperin lah! Memangnya Teteh tega? Setahuku, urusan lambung itu bukan hanya tentang makanan, stres juga sangat memicu. Sepertinya Mas Arya kepikiran tentang perceraian ini." Aku menghela napas pan

