Aku merasa bagai nyawa yang perlahan lepas dari raga, sejenak ku lihat ada ketegangan di wajah itu. Aku beringsut di sisi ranjang, menekuk lutut dan membenamkan wajah sambil terus terisak. Sakit rasanya. Ku dengar langkahmu mendekat, selalu begitu ketika aku sedang marah biasanya. Merayuku. Tapi kali ini tidak akan aku biarkan terayu mulut manismu, Mas. Aku belum pernah segila ini marah pada orang lain. Ku lemparkan tatapan tajam dan itu membuatmu berhenti melangkah. "Aku yang bodoh, Mas! Seharusnya sejak awal aku sadar, bahkan untuk berikrar denganku pun kamu sudah berbohong! Pasti selanjutnya pun aku akan terus dibohongi. Aku sakit, Mas! Sakit!" Aku ini wanita yang memliki prinsip. Bahkan aku sangat egois dengan prinsip itu. Aku sadar! Bahkan saat ini kamu tidak sedang menghamili seor

