"Putar balik, Mas! Ada masalah yang lebih urgent!" Aku bersikukuh. "Kenapa? Bukankah sejak tadi kamu meninggikan ego untuk pulang? bahkan aku sudah menahanmu dan kamu tetap memaksa. Maka ku antarkan kamu pulang! Tak perlu memikirkan orang lain. Mau dia hidup atau mati bukan urusanmu!" "Mas! Gila ya kamu!" Aku berteriak dan mulai berderai air mata. "Apa kamu gak mikir anakmu tanpa ibunya?" Aku terengah-engah menatapnya, kali ini ia diam, masih tak bisa ku jelaskan apa yang sedang ia rasakan. Wajahmu sama sekali tak dapat menggambarkan apa pun. Aku terus terisak, kamu kini nampak dingin, bahkan tak berusaha mengusaikan tangisku. Tak seperti biasanya. Sikap diam yang sejak tadi kamu tunjukkan seolah mengukuhkan apa yang sudah Naya kabarkan. Malam itu saat aku pergi ke hotel... ketika aku

