POV Naya Sekilas aku lihat wanita yang kini di hadapanku menatap dan memandangiku dengan iba. Dia Ranisa, adik madu yang tak dapat aku benci karena kebaikannya. Hal yang baru saja ia utarakan sebetulnya membuatku tenang. Memang ... aku membutuhkan teman bicara, meluruskan segala hal yang akhirnya menjadi kesimpulan bodoh selama bertahun-tahun. Hal yang membuatku berat menanggung ini sendirian. Tapi ... ketika aku mulai berbicara, akankah semua tetap baik-baik saja? Atau justru menjadi boomerang untuk banyak orang, seperti tekanan yang selama ini aku terima. Terlalu banyak hal yang aku pikirkan, tapi justru akhirnya menyiksa diri. Aku menunduk, membenamkan segala perasaanku yang kacau, dilema dan tak tahu harus memulai darimana. Aku sungguh takut, sangat takut! Beberapa tahun ini teram

