He Is Psycho 7 : Sebenarnya, Siapa?

1242 Kata
Alberto dan Samuel masih saling berbisik tentang memperdebatkan di mana Nafelly harus tinggal. Dan Samuel harus menyerah saat Alberto mengatakan, "Kenapa kau bersikukuh membiarkannya di rumahmu? Bukannya kau tidak mau menikah dan membenci semua manusia yang ada di dunia ini? Apa Nafelly bukan manusia? Kenapa kau sangat berbeda saat ini?" Samuel membuka dan menutup mulutnya mendengar ultimatum Alberto. Benar juga. Bukankah ini tidak seperti dirinya yang biasanya? "DASAR HOMO SIALAN!!" BRUK!! Teriakan itu datang bersamaan dengan Alberto yang tiba-tiba menghilang dari pandangan Samuel. Samuel berkedip berkali-kali sebelum melotot saat menyadari bahwa Alberto sudah berada di lantai. "ALBERTO!!" teriaknya dramatis. "b******n HOMO SIALAN!! BISA-BISANYA KALIAN BERMESRAAN DI HADAPANKU?!" "ALBERTO!!" teriakan Samuel menyusul teriakan Nafelly saat dia berlutut dan meraih tubuh Alberto yang tergeletak di lantai. Suara jatuh tadi terdengar sangat keras hingga menggetarkan lantai gedung ini. "ALBERTO!! JANGAN MATI!!" Tindakan Samuel segera disalahartikan oleh pandangan Nafelly. Di matanya, Samuel sedang memeluk mesra Alberto yang terlihat berpura-pura mati. "MATI SAJA, DASAR b******n HOMO SIALAN!!" "TIDAK!!" Samuel segera berputar dan menunjukkan punggungnya pada Nafelly yang sudah mengangkat kaki. Namun, Nafelly beralih dengan cepat dan menjambak rambut Alberto. "AW! AW! AW! SAKIT!!" "ALBERTO!! SIALAN LEPASKAN ALBERTO!!" "LEPASKAN SAMUEL!!" "KALIAN BERDUA, LEPASKAN AKU!!" "ALBERTO!!" "b******n!!" "HENTIKAN!!" Samuel segera beralih, memeluk Nafelly erat-erat dan meraih kedua tangan Nafelly agar menjauh dari Alberto. Namun, itu malah memberikan Nafelly kesempatan untuk menendang Alberto. "TIDAK!! JANGAN SAKITI ALBERTO!!" Dan teriakan Samuel malah membuat Nafelly semakin brutal. Butuh usaha yang sangat kuat dan kasar agar Nafelly benar-benar melepaskan Alberto. Samuel bahkan harus rela jatuh ke lantai dan memeluk seluruh tubuh Nafelly agar tidak memberontak. "Nafelly!" bisik Samuel tepat di telinganya saat Nafelly masih memberontak di pelukannya. "Nafelly! Tenanglah dan perhatikan Alberto! Tenanglah!" Nafelly masih memberontak. Matanya memang terpaku pada Alberto. Namun, kilatan marah itu berangsur-angsur hilang saat melihat Alberto yang tubuhnya gemetaran tapi mencoba terlihat tenang. "Nona Christine, sepertinya ada kesalahpahaman di sini," kata Alberto, mencoba untuk terlihat tenang, namun wajahnya tentu saja sangat pucat. "Bisakah saya tahu apa alasan Anda melakukan ini?" Nafelly mengeraskan rahangnya, merasa bersalah di antara kemarahannya. "Kau menjadi gila tiba-tiba saat aku sedang berbicara dengan Alberto. Itu sangat tidak sopan." Samuel menambahkan. "Sopan?" Nafelly tersenyum sinis. "Lebih tidak sopan mana antara aku dengan dia?! Dia bahkan duduk di atas mejamu dan kalian bahkan berciuman di dalam kantor! Itu sangat tidak sopan!!" "Apa?!" Alberto dan Samuel sama-sama terkejut dan saling melihat satu sama lain. Seolah ucapan Nafelly diulang di kepala mereka, mereka segera memalingkan wajah dan berteriak, "Huek!!" dengan sangat jijik. "Apa yang kau katakan?! Alberto masih normal!" bela Samuel. "Alberto masih normal, tapi kau tidak?!" sentak Nafelly pada Samuel. "Jika Alberto mau denganku, aku rela menjadi menikahinya." "Bos, berhenti mengatakan sesuatu yang menjijikkan!! Saya masih normal!" delik Alberto. "b******n!! Aku akan membunuhnya!!" Nafelly kembali memberontak dan Samuel mengeratkan pelukannya. Samuel tertawa melihat Nafelly yang terus menerus mengamuk. "Aku bercanda!! Walaupun ayahku sudah merestuiku dengan Alberto, aku tetap tidak akan menikahinya." "Apa?!" "Bos!!" Alberto menepuk keningnya dengan kesal atas ucapan Samuel Nafelly menoleh pada Samuel. "Ayahmu merestuinya?! Di mana b******n itu?! Mana ada orang tua yang merestui anaknya homo?!" "Kenapa kau mencari ayahku? Apa yang akan kau lakukan padanya?" "Aku akan menyuruhnya bertobat sebelum membunuhnya!!" Samuel tertawa mendengar orang yang berani mengatakan hal itu pada ayahnya. "Apa kau tahu siapa ayahku?" "Tidak, tapi itu tidak bisa membatalkan niatku untuk membunuhnya!" Samuel kembali tertawa mendengar ucapan Nafelly. "Baiklah, kau tidak bisa membunuhnya." "Kenapa?!" Alberto mengerutkan alisnya mendengar Nafelly yang masih bertanya. Tentu saja karena pembunuhan adalah salah satu tindakan kriminal. "Karena aku belum lebih kaya darinya. Dan ibuku sangat menyayanginya. Jadi, aku dan kau tidak bisa membunuhnya walupun sangat menginginkannya menghilang dari muka bumi ini." Ekspresi Alberto kembali datar mendengar ucapan Samuel. Lupakan saja tentang tindak kriminal. Mereka berdua sama-sama gila. Nafelly mengerutkan alisnya. "Lebih kaya darimu? Apa dia lebih kuat?" "Tentu saja. Dia bisa membunuhmu hanya dengan mulutnya." Kali ini Nafelly tidak membayangkan hal lain. Dia sudah belajar dari bagaimana cara Samuel menggunakan mulutnya untuk menunjukkan seberapa kaya dirinya. Sekarang dia membayangkan betapa kuatnya ayah Samuel. Merasa sangat ingin membunuh ayah Samuel, Nafelly cemberut. "Tidak bisakah kita membuatnya mati sekarang?" Samuel terkejut sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa Nafelly sangat ingin membunuh ayah Samuel hanya karena ucapan Samuel? Alberto yang melihat kesenangan bosnya yang sedang berpelukan mesra, akhirnya menghela napas panjang dan mulai berbicara. "Sayangnya, orang yang sangat ingin kau bunuh itu harus kau temui hari ini." "Apa?! Benarkah?!" Nafelly segera menatap Alberto dengan tersenyum cerah. "Alberto, kau bantulah aku untuk membunuhnya!" Anak ini!! Alberto menghela napas kesal sementara Samuel merasa senang ada orang lain yang juga ingin membunuh Felix, sang ayah dari Samuel. Mereka benar-benar mirip! *** Akhirnya, Alberto melakukan tugasnya untuk membawa Nafelly ke rumah sakit. Nafelly sangat lincah ketika Alberto membawanya sepanjang jalan. Entah berapa kali mereka berhenti untuk memenuhi hasrat makan Nafelly dan Alberto tidak bisa menolak keinginannya. Karena Nafelly tidak memegang uang sepeser pun, maka dompet Alberto menjadi korban kejahatan Nafelly. Alberto menahan air matanya yang hampir mengalir saat dia menunggu di ruang tunggu sambil meratapi isi dompetnya. Alberto menghela napas panjang, memasukkan dompetnya kembali ke saku celananya dan menatap pintu dengan gelisah. Banyak orang yang menatapnya, dan Alberto sangat gelisah dengan hal ini. Walaupun sudah mencoba menahan kegelisahan ini karena Alberto selalu berada di samping pusat perhatian dunia, namun tetap saja Alberto tidak terbiasa dan masih merasakan kecemasan. Ketika bersama Nafelly, Alberto tidak merasakannya walaupun banyak tatapan yang mengintai. Namun, itu karena Nafelly yang tidak bisa diam dan membuat perhatian Alberto sepenuhnya teralih pada Nafelly. Maka dari itu, Alberto merasa nyaman .... ... Hm? Apa tadi? Nyaman? Pikiran Alberto seketika kembali pada beberapa jam lalu. Saat mereka masih di kantor dan Samuel memeluk Nafelly sambil tertawa lebar. Bosnya juga ... bukannya merasa nyaman dengan keberadaan Nafelly? Samuel bahkan bisa memeluk Nafelly dan bahkan menenangkan amukan orang lain. Terdengar aneh, namun juga entah kenapa terasa melegakan. Clack! Pintu di hadapannya terbuka dan seorang perawat berada di balik pintu. "Dengan wali Nafelly?" Alberto segera berdiri, dan menunggu perawat wanita itu menghilang dari pintu sebelum Alberto masuk ke dalamnya. Seorang dokter duduk di meja dengan Nafelly yang berada di hadapannya. Pria di balik meja itu tersenyum ramah dan menyuruh Alberto duduk. "Jadi, bagaimana? Apa ada yang salah dengan kepalanya?" tanya Alberto segera setelah duduk di kursi. *** Alberto masih melamun sepanjang jalan menuju ke kediaman keluarga Wilkinson. Sementara di kursi pengemudi, Nafelly duduk sambil memainkan obat yang sangat banyak di tangannya. "Kenapa banyak sekali? Apa ada yang salah denganku?" tanya Nafelly pada Alberto. Alberto menelan ludahnya dengan susah payah. "Itu untuk memar di seluruh tubuhmu. Kau sepertinya sudah mendapat perawatan, sebelumnya. Tulang rusukmu pernah patah, dan beberapa organ dalammu terluka. Namun lukamu sepertinya sudah agak sembuh dan tinggal pemulihan serta salep agar tidak membekas." Nafelly menganggukkan kepalanya seolah mengerti. "Baiklah. Lalu, ada apa dengan kepalaku?" Alberto kembali menelan ludahnya dengan susah payah. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. "Kau mendengarnya barusan, bukan?" tanyanya sambil menatap spion depan dan bertatapan dengan mata Nafelly yang memandangnya dengan ekspresi datar. "Tidak ada masalah apapun dengan kepalamu." Dan itulah yang membuat Alberto merasa gugup, sekarang. Nama Nafelly Christine, dan keberadaan Nafelly di sekitar Samuel, hal itu benar-benar mengganggunya. Sebenarnya ... bagaimana bisa Nafelly muncul tanpa ingatan apapun dan hanya mengingat Samuel saja? Apa Nafelly mata-mata dari perusahaan saingan? Atau memang benar, bahwa Nafelly yang ada sekarang adalah Nafelly yang datang dari masa lalu? Alberto menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya kuat. Tidak, tidak mungkin. Alberto harus mencari tahu hal ini lebih jauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN