He Is Psycho 1 : Aku Ini Sosiopat

2298 Kata
"Tuan! Anda harus menjelaskan hal ini pada media!" Pria yang sedang sibuk di mejanya dengan tumpukan berkas itu hanya mendongak, melepaskan kacamata yang bertengger di wajahnya, kemudian membuang napas kasar. "Tidak usah. Biarkan seperti itu." "Tuan!!" Alberto memekik kesal. Asisten pribadi pria itu menghampiri bosnya yang masih duduk santai di kursi. Dia menyimpan tablet miliknya tepat di hadapan bosnya itu. "Ini sudah sangat parah, Tuan! Di sini dikatakan dengan jelas bahwa Samuel Wilkinson Philips adalah seorang gay!! Saya tidak terima dengan berita ini! Perjaka bukan berarti Anda adalah seorang gay, kan? Walaupun perusahaan ini terlalu memilih-milih pekerja wanita, tapi-" "Stop!" Samuel mengangkat kepalanya kembali. Dia memincingkan matanya pada Alberto. "Pertama, aku tidak butuh ocehanmu. Kedua, biarkan saja beritanya seperti itu. Ketiga, tutup mulutmu yang tidak bisa dijaga itu. Aku tidak ingin orang-orang tahu jika aku masih perjaka di umur 30 tahun." Alberto mendesah kesal. Dia bahkan menjambak rambutnya sendiri melihat kelakuan bosnya itu. Benar, yang ada di depannya adalah Samuel Wilkinson Philips. Pria berkebangsaan Eropa-Asia itu memiliki gangguan kepercayaan pada wanita. Khususnya wanita Asia. Dia sangat membenci wanita yang memiliki warna rambut hitam, kulit kekuningan dan juga hidung yang tidak semancung keturunan Barat. Berbeda dengan ayahnya, Samuel bukanlah pria yang suka mengumbar s****a ke mana-mana. Antara menghargai wanita atau tidak ingin bernasib buruk seperti ayahnya yang memiliki anak dari orang yang tidak dicintai, tapi memiliki anak dari jalang yang bahkan tidak diingat ayahnya itu. Dan ya, Samuel masih perjaka. Tidak memiliki track record pacaran. Dan sangat sering menolak wanita secara tidak terhormat. Kau jelek, aku tidak menyukaimu. Kau genit, sangat tidak anggun sekali. Wajahmu mengingatkan aku dengan koala, dan aku benci koala. Kau sangat menor. Kau jorok. Kelakukanmu memalukan. Dan kata-kata jahat lain sebagainya selalu keluar dari mulut Samuel ketika menolak wanita. Entah wanita jenis apa yang diinginkan oleh Samuel, tapi Samuel benar-benar pilih-pilih dalam mencari wanita hingga bahkan tidak ada wanita yang bisa dipilih oleh Samuel. Dan mungkin, gara-gara itu Samuel mendapatkan karmanya dari menolak seorang wanita. Ada seorang reporter terkenal, dia memiliki ambisi untuk mendapatkan Samuel, bahkan hingga menempuh jalan yang sama dengan bidang ibunda Samuel yang dahulu kerjanya adalah paparazi. Penolakan Samuel mungkin melukai hatinya hingga wanita itu sampai menyebarkan rumor bahwa Samuel adalah seorang gay. "Tuan, jika tuan Felix tahu-" "Tidak akan," kesal Samuel kemudian menatap Alberto. "Pria itu sibuk mengurusi anaknya yang satu lagi. Aku ini pria yang bisa diandalkan keluarga. Si tua bangka itu takkan menaruh perhatiannya jika kau tidak buka mulut padanya." Alberto terlihat sangat frustrasi mendengar jawaban Samuel. "Tapi tuan-" "Sudah sore. Kau pulanglah sekarang. Aku tidak membutuhkanmu lagi." Alberto makin frustrasi mendengarnya. Akhirnya dengan terpaksa, pria itu pergi dari hadapan Samuel dan membiarkan pria gila kontrol itu sendirian. *** Samuel menutup pintu mobilnya dengan kencang dan mengunci pintu mobilnya itu. Sekarang sudah tengah malam dan ketika Samuel memasuki bangunan apartemen yang ada di hadapannya, Samuel hanya mendapati 2 satpam yang sedang beroperasi. Mereka membungkuk dan tersenyum pada Samuel, namun pria itu hanya berlalu dengan angkuh. Sesampainya Samuel di lantai teratas menggunakan lift, pria itu berjalan santai dan mengacak tas kerja miliknya, mencari kartu yang merupakan kunci apartemennya. Namun, langkah Samuel berhenti tepat beberapa langkah di pintu apartemennya. Matanya memicing, menatap wanita yang tertidur di depan pintu apartemennya. Samuel berjalan menghampiri wanita yang tertidur itu. Dia berjongkok dan mencoba menatap wanita itu lebih dekat, ketika melihat keseluruhan wajah wanita itu, Samuel sadar jika orang di depannya bukanlah wanita dewasa, tetapi gadis remaja. Dan sialnya, seperti orang Asia. Samuel membuang napas kasar. Dia berdiri, dan menendang tubuh wanita itu. "Hey, bangun!" Ujarnya, tapi tidak mendapatkan respon dari wanita itu. "Hey!! Aku mau masuk!!" Teriaknya kesal. Gadis remaja itu hanya menggeliat. Matanya terbuka sedikit. Saat menatap Samuel, gadis remaja itu memunggungi Samuel dan kembali tertidur. Samuel melotot. Dia mengernyitkan alisnya dengan kesal. "Jalang kecil ini!!" Kesalnya. Dia kemudian berjongkok kembali, menarik rambut wanita itu dan tetap tidak mendapatkan respon. "Kau!! Jangan tidur di depan rumahku!!" Gadis remaja itu hanya menatap Samuel dengan datar. Dan Samuel terpaku saat menyadari beberapa luka di wajah gadis remaja itu yang terlihat akan menghilang. Namun tatapan Samuel menajam saat gadis remaja itu tetap menatapnya dengan datar bahkan saat Samuel sudah menguatkan jambakannya. "Kau ingin kulaporkan hah?! Gembel dilarang di sini!!" Gadis remaja itu akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dia menyadari bahwa ia berada di depan pintu. Tapi wanita itu kemudian menatap Samuel kembali. "Ini apartemenku." Akunya. Samuel melotot. "Enak saja!! Ini apartemenku." "Milikku. Semenjak aku berada di sini." "Gila!" Kesal Samuel sambil menyentak kepala gadis remaja itu dan menyingkirkan tubuhnya dari depan pintu. Samuel melewati tubuh remaja itu dengan sangat tidak sopan. Kembali menendang wanita itu dan mulai memasukkan kode apartemennya. Baru saja Samuel melangkahkan kakinya sekali, sebelah kakinya tiba-tiba terasa berat saat melangkah. Samuel menunduk, dan mendapati gadis gila itu memeluk kakinya. "Hey!! Berengsek!! Singkirkan tanganmu Orang Gila!!" Gadis yang sedang memeluk erat kaki Samuel akhirnya hanya mendongak menatap Samuel. "Aku ingin masuk. Tapi aku malas bangun." "Ini apartemenku!! Kau tidak berhak masuk!!" Amuk Samuel sambil mencoba melepaskan kakinya dari wanita itu dengan cara menendang-nendang tubuh gadis itu. "Hey!!!" Kesalnya saat wanita itu bergeming dan terlihat tidak kesakitan. "Aku ingin masuk." Samuel membuang napasnya dengan kesal. "Demi Tuhan! Ada apa dengan hari ini?!" Rutuknya. Samuel akhirnya menunduk, dia menarik-narik rambut gadis itu dengan kuat. "Lepaskan!!!" "Sakit." Kata gadis itu datar. Bahkan tidak terdengar seperti orang kesakitan. Samuel menggaruk kepalanya dengan frustrasi. "Kau ini sebenarnya siapa sih?! Pergi sana!!! Orang gila!!" "Aku?" Gadis itu menatap Samuel kembali. "Aku Nafelly Christin." Samuel melotot. Dia bergeming di tempat. Tatapannya berubah tajam pada gadis itu. Nama yang sama. Nama yang Samuel benci. Kenapa gadis ini memiliki nama wanita sialan itu? "Jangan bercanda denganku." "Namaku memang itu," jawab Nafelly sambil mengedip. Dia memiringkan wajahnya. "Dan aku sepertinya menyukaimu. Sangat menyukaimu." Samuel mendengus frustrasi seketika. "Kau benar-benar gila!!" Kesalnya. Samuel merogoh sakunya, membawa ponselnya. Dia akan menelfon polisi. "Awas ya kau-HEY!! KENAPA KAU MASUK KE DALAM APARTEMENKU?!" Nafelly mengabaikan. Wanita itu malah berjalan ke arah kamar, menuju kasur dan tidur di sana. Samuel menatap berang. Dia benar-benar menghubungi polisi. Mengatakan bahwa ada wanita penyusup di rumahnya. Setelah memberikan alamatnya, Samuel segera berjalan masuk ke dalam rumah, memasuki kamar. Dia berjalan ke arah kasur. "Turun dari kasurku!! Sebelum aku menyeretmu dengan kasar, turun sekarang!!" Nafelly tetap tertidur di atas kasur, mengabaikan Samuel. "Gadis gila!! Aku akan hitung sampai tiga!! Jika kau tidak menyingkir, aku akan membunuhmu!!" Nafelly kembali membelakangi Samuel. Melanjutkan tidur. Rahang Samuel mengeras. Dia mengepalkan tangannya dan mulai berhitung. "Satu!" Ucapnya saat mengeluarkan jari kelingkingnya. "Dua!!" Katanya saat mengeluarkan jari manisnya. Samuel kemudian mengeluarkan jari tengahnya. "Tig-" Nafelly bangkit. Dia duduk di atas kasur, menatap sekitar kamar sejenak, kemudian melompat dari kasur. Samuel tersenyum melihatnya. "Bagus, sekarang kau pergi-HEI!! KENAPA KAU MENUJU LEMARIKU?!" Pekik Samuel, memotong ucapannya sendiri. Dia menatap tidak percaya saat Nafelly berjalan ke lemari, kemudian membuka pintu lemari itu. "Kau benar-benar-" Lagi-lagi ucapan Samuel terhenti. Matanya melotot lebar saat Nafelly membuka pakaiannya sendiri dan membuangnya ke sembarang tempat. Samuel terpaku sejenak saat melihat tubuh bagian atas wanita itu yang polos. Namun mata Samuel makin melebar saat Nafelly mencoba membuka celananya. Samuel segera membalikkan tubuhnya. "Sialan!! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?!" Katanya tanpa berbalik ke belakang. Nafelly mengancingkan satu kancing kemeja milik Samuel, kemudian tidur kembali ke atas kasur. Samuel melotot. Wanita itu bahkan tanpa tahu malu hampir telanjang di depan Samuel. Bahkan kemeja kebesaran Samuel tidak sampai menutupi sebagian tubuhnya. Hanya satu yang dikancingkan dan itu benar-benar asal-asalan. Samuel bahkan dapat melihat bra dan celana dalam Nafelly. Namun lebih dari itu, Samuel kembali mendapati tubuh penuh bekas luka gadis itu. Samuel mencoba tidak peduli. Dia kembali menatap wajah Nafelly. "Kau!!! Siapa yang mengizinkanmu menggunakan pakaianku?!" Nafelly membuka matanya kembali. Dia menatap Samuel. "Aku sudah sangat menyukaimu. Jangan sampai aku mencintaimu. Itu akan bahaya. Aku ini sosiopat." "Masa bodoh!! Pergi dari apartemenku!!" "Aku ingin tidur." "Gadis gila!! Pergi sekarang!!" Kesal Samuel sambil menarik-narik tangan Nafelly. "Pergi!!!" Nafelly tetap bergeming. Sekasar apapun Samuel memperlakukannya, gadis ini tetap bermuka tebal. Dan sialnya, Samuel sangat terganggu dengan tubuh hampir telanjang milik Nafelly. Ada sesuatu yang terasa geli di tubuhnya dan Samuel tidak suka hal itu. "Sialan!!" Kesalnya. Dia sementara membiarkan Nafelly tidur di kasurnya. Samuel duduk di tepi kasur. Meraih kancing-kancing yang belum terkancingkan. Dia membuka kancing yang terkancing acak, kemudian mengancingkannya dengan benar. Setelah semuanya selesai, Samuel kembali menarik Nafelly agar turun dari kasur. "Turun sekarang!!! Pergi dari apartemenku!!" Nafelly membuka matanya kembali. Tangannya yang bebas kemudian terulur, meraih kerah pakaian Samuel, menarik kerah pakaian pria itu hingga kepala Samuel tertarik, mendekat pada wajah Nafelly. Sangat dekat hingga Samuel kehilangan kendalinya dan bahkan menahan napasnya saat wajahnya berada di depan wajah Nafelly. Samuel menelan ludahnya susah payah. Matanya terpaku pada wajah Nafelly. Tepatnya pada mata jernih wanita itu. Mata jernih yang entah kenapa terlihat kosong dan hampa di mata Samuel. Mata jernih itu kemudian bergerak. Menatap keseluruhan wajah Samuel. Tangan yang tadinya berada di kerah pria itu kemudian naik, menyentuh leher Samuel hingga rasa merinding dapat Samuel rasakan. Terus naik hingga menyentuh pipi tirus Samuel. "Sudah kubilang jangan sampai aku mencintaimu," bisik Nafelly kemudian, tepat di depan bibir Samuel. "Akan sangat berbahaya ketika itu terjadi." Jakun Samuel naik saat Samuel menelan ludahnya susah payah. Matanya tidak bisa berhenti atau bahkan teralih saat Nafelly kembali mengadukan manik mata mereka. Tidak ada yang pernah seberani ini. Tidak ada yang pernah sedekat ini pada Samuel. Hanya gadis cilik ini satu-satunya gadis yang menarik Samuel dengan berani. Menarik Samuel dari zona amannya. Zona menjauh dari wanita. Tok! Tok! Tok! "Ada orang di dalam? Kami petugas dari kepolisian!" Samuel tersadar seketika. Dia menjauhkan tubuhnya dari Nafelly. Berdiri dengan tegap kembali. "Polisi sudah datang. Kau akan mendapatkan hukuman atas kelakuan menyebalkanmu ini!" Ucapnya, kemudian berbalik dan pergi. Keluar dari kamar, menuju ke arah pintu masuk dan membuka pintu rumahnya dengan cepat. Sejenak, Samuel ragu saat melihat 2 orang kepolisian di depan pintunya. Apakah harus Samuel sejauh ini? "Tuan? Kami mendapat laporan bahwa ada penyusup di rumah Anda. Apakah benar Anda yang melaporkan?" Kata salah satu petugas. Samuel terdiam sejenak. Dia menatap kedua orang itu. Menelan ludahnya dengan susah payah. "Tuan?" Tanya petugas itu. Samuel mengedip. Dia mengangguk, kemudian membuka lebar pintunya. "Dia ada di dalam kamarku," katanya, kemudian berjalan kembali ke arah kamar untuk menunjukkan keberadaan gadis gila itu. "Dia ada di dalam." Kedua petugas itu kemudian mengeluarkan senjatanya. Namun saat terdengar suara tangisan, mereka berdua saling tatap. Bertiga jika dengan Samuel. Segera, Samuel masuk ke dalam kamar dan mendapati gadis gila itu sedang menangis sambil meringkuk. Namun lebih dari itu, celana dalam dan bra yang tadi digunakannya tergeletak di atas lantai. Dengan kata lain, wanita itu hanya menggunakan kemeja saja. "Kau sampai menelfon polisi untuk mengusirku?" Pertanyaan dari Nafelly membuat Samuel tersadar. "Sebegitu tidak percayanya dengan perkataanku? Aku tidak selingkuh!" "Apa?" Heran Samuel. Nafelly yang sesegukan menatap kedua petugas itu. "Maaf, Pak Petugas. Aku dan pacarku hanya sedang salah paham. Aku sudah menjelaskan segalanya. Tapi... Tapi dia-" Nafelly dengan sengaja tidak meneruskan ucapannya. Dia menutup wajahnya dan menangis sesegukan di antara kedua tangannya. "Apa maksudmu?!" Kesal Samuel. Namun kedua petugas itu terlanjur percaya dengan ucapan Nafelly dan menatap Samuel dengan datar. "Hey!! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!! Aku bahkan tidak mengenal dia!!" "Alasan itu lagi?!" Nafelly kembali membuka kedua tangannya. Tangisnya makin menjadi saat menatap Samuel. "Kau selalu menggunakan alasan itu!! Seolah-olah tidak mengenalku saat kau ingin mengusirku dari apartemenmu! Tidak bisakah kau menghentikan kelakuan kekanakanmu ini?! Hah?! Samuel!!" Petugas itu makin terlihat percaya pada ucapan Nafelly. Mereka menatap Samuel dengan ekspresi penuh penghakiman. "Nama Anda Samuel?" Tanya salah satu petugas. Samuel berkali-kali menatap petugas kepolisian itu, kemudian Nafelly yang menangis. "Namaku memang Samuel, tapi-" Petugas kepolisian itu mendesah lelah. "Lain kali, jika ada masalah hubungan yang harus diselesaikan, lebih baik Anda selesaikan sendiri. Kami memang melayani masyarakat, tapi bukan berarti kami harus menyelesaikan hubungan percintaan kalian juga." "Apa?! Aku sungguh tidak-" "Kalau begitu, kami permisi." Kata petugas kepolisian itu dan pergi dari hadapan Samuel. Mulut Samuel terbuka lebar. Dia segera mengejar petugas kepolisian itu. "Opsir! Aku benar-benar tidak mengenali wanita itu dan namaku pasti ada di majalah-" Petugas kepolisian itu berhenti di depan pintu. Menatap Samuel dengan pandangan kesal yang tidak kentara. "Lain kali jika Anda melakukan panggilan lelucon, kami akan menangkap Anda, Tuan." "Tapi-" "Permisi. Kami sibuk. Ada banyak masyarakat membutuhkan yang harus kami tangani." Mulut Samuel terbuka lebar saat petugas kepolisian itu pergi dari hadapan Samuel bahkan sebelum Samuel sempat melanjutkan ucapannya. Wanita sialan itu!! Dari mana juga wanita itu tahu namanya?! Samuel kembali ke kamar. Hari ini sungguh melelahkan. Dan terima kasih. Berkat gadis gila itu, Samuel jadi ikut gila! Saat Samuel tiba, gadis gila itu sedang tertidur kembali seperti tidak ada kejadian menyebalkan tadi. Dan celana dalamnya sudah menghilang dari lantai. Kerjaan wanita ini hanya tidur!! Dasar sialan!! Dengan kesal, Samuel menggulung selimut. Lebih tepatnya, menggulung tubuh wanita itu dengan selimut. "Hey!! Apa yang kau lakukan?!" Pekik Nafelly. "Kau belum menyerah?! Aku sudah sangat mengantuk!" "Seharusnya aku melakukan ini dari tadi," kata Samuel saat selesai menggulung tubuh gadis itu. "Membuangmu ke tong sampah." Dan tubuh Nafelly akhirnya terangkat saat Samuel menggendongnya di bahu seperti karung beras. Dengan tubuh yang terbalut oleh selimut, Nafelly tidak dapat menggerakkan tubuhnya dan hanya dapat menggeliat saja. "Turunkan!! Aku mengantuk!" Kesal Nafelly sambil menggeliat. Samuel tetap berjalan tegas tanpa mengabaikan Nafelly. Dia berjalan ke luar rumah. Menuju tong sampah besar berwarna hijau yang berada di ujung lorong apartemen. Dan dia benar-benar memasukkan Nafelly ke dalam tong sampah. "KYA!! SIALAN!!" Pekik Nafelly nyaring sambil menggeliatkan tubuhnya. Samuel tersenyum miring. "Ini akibatnya jika kau bermain-main denganku, Gadis Gila." "Kau!!" Kesal Nafelly sambil mencoba membuka bungkusan selimut yang mengurung tubuhnya. Samuel tertawa kali ini. Dia berbalik, meninggalkan Nafelly yang menggeliat dengan sudah payah di atas tong sampah. Hah... Akhirnya Samuel bisa bebas dari wanita gila itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN