74

805 Kata

Sebelumnya aku memang merasa ini semua karena kak Iman seperti yang dikatakan Nadin dan Nadia. Namun, sebelum aku berjauhan dengan ka Iman pun aku sering merasakan hal itu. Kekosongan jiwa. Akan tetapi, perasaan itu selalu kutepis. Perlahan, aku sesekali teringat Iqbal bahkan kadang dia hadir dalam bunga tidurku. Namun, aku selalu menganggapnya angin lalu. Bersusah payah meyakinkan hati bahwa tindakan menjaga jarak dengan Iqbal adalah pilihan yang tepat. Ternyata aku salah. Selama ini aku hanya teralihkan sementara pada sosok yang kukagumi. Padahal nyatanya aku tak bisa berjauhan dengan Iqbal. Sampai kapanpun. Ya kurasa begitu. Aku pun meyakini Iqbal juga merasakan hal yang sama. Mana mungkin dia kuat berjauhan denganku, padahal tiap malam aku yang selalu mendengar semua cerita basinya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN