"Cie … yang udah belanja! Enak ya jadi anak satu-satunya pulang malah dikasih uang lebih!" ujar Ningsih seraya menyimpan barang-barang ku yang dibawanya. Saat sampai tadi aku bertemu Ningsih di depan. Melihat aku membawa banyak belanjaan, ia ikut membantu membawakan sampai kamar. Dan kini aku dan dia berada di kamar siap membereskan. "Udah belanja apa aja sih? Aku bukain boleh ya!" ucapnya meminta izin, tapi tangannya telah menjelajah ke dalam kantong belanjaan sebelum aku mengiyakan. "Iya sok aja, Neng! Aku salat dulu ya udah jam empat lebih nih." "Oke santai aja, Teh." Aku segera mengambil air wudhu kemudian mendirikan salat. Sedangkan Ningsih sendiri sibuk membuka barang belanjaan ku di atas kasur. Empat rakaat terasa singkat jika sudah terbiasa melakukannya padahal dulu saat awal-

