Bab 3

1064 Kata
Dua hari berlalu, kini telah tiba di penghujung hari di mana sebuah ikatan sakral antara dua mempelai akan dilakukan pada pagi yang cerah ini. Kilau mentari pancarkan kehangatan pada bumi, seolah mendukung prosesi pernikahan yang sebentar lagi akan dilaksanakan, satukan dua hati dan dua raga menjadi satu kesatuan untuk menuju masa depan. Di ruang make over, Alena duduk dan menatap diri sendiri pada vanity mirror. Tangan itu spontan terulur menyentuh rambut dengan bentuk low bun dan di bagian tengah tersemat sekuntum melati guna menyempurnakan penampilan pada tatanan rambutnya. Lalu ditundukkan pandangan untuk melihat tubuh sendiri, menatap payet-payet pada kebaya yang saat ini dikenakannya, secara spontan ujung-ujung jemari lentiknya meraba secara perlahan kebaya modern berwarna putih tersebut. Alena hampir titikkan air mata mengingat jika kebaya ini merupakan pilihan Alena untuk Evelyn, tetapi alih-alih Evelyn yang mengenakannya justru Alena lah yang memakainya. Sangat ironis sekali. Alena membuang napas berat, sungguh, tidak pernah ada dalam bayangannya jika sebentar lagi ia resmi menjadi istri seorang Morgan Aliandra Acosta–seorang Pemimpin sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi– yang notebene calon kakak ipar alih-alih suami sendiri. Tiba-tiba rasa bersalah kembali hinggap, dia tahu tidak sepatutnya hal seperti ini terjadi dan seharusnya dia punya kuasa untuk menolak. Tapi kembali lagi, ketidakberdayaan yang mengukung membuatnya harus melakukan ini. "Sekali lagi aku minta maaf, Ve. Aku berjanji tidak akan mengkhianatimu," usia bergumam demikian, Alena lekas tegakkan tubuh lalu menarik napas untuk kesekian kali, ia sedang mencoba meminimalisir rasa gugup yang menyerang hingga membuat telapak tangannya basah oleh keringat dingin. "Sayang? Apa kamu sudah siap?" Alena menoleh ke belakang, tepat pada sosok yang baru saja berseru padanya. "Sudah, Tante," sahutnya lalu tersenyum manis. "Ya sudah, ayo, kita keluar! Semua sudah siap." Alena mengangguk kecil, kemudian bergegas menuju ruang utama yang mana di ruang tersebut sudah penuh sesak oleh para tamu undangan, mereka seolah ingin sekali menjadi saksi dari prosesi ijab qobul yang sebentar lagi terselenggara. "Ayo, duduk!" Alena menurut pada titah Hasna dan duduk di samping pria yang saat ini berpenampilan selaras dengannya. Sekejap ia menatap ekspresi wajah yang datar seperti tidak ada daya upaya dalam diri. Alena mulai sadar, jika kedua belah pihak sama-sama sedang terbelenggu dalam ketidakberdayaan. "Sudah bisa di mulai?" Pertanyaan yang mengudara, memutus aktivitas Alena yang terlihat khidmat mengamati struktur wajah calon suaminya. "Bisa, Pak. Silakan," sahut Hasna cepat. Berbeda dengan raut wajah sepasang mempelai, Hasna tampak lebih sumringah. "Baik. Kita akan memulainya. Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan engkau ananda Morgan Aliandra Acosta bin Mario Acosta dengan adinda Alena Farahana Mihluver binti almarhum Faron Arkananta dengan mas kawin emas seberat lima puluh gram dibayar tunai." Hening! Untuk beberapa saat suasana senyap , membuat Alena pejamkan mata sejenak merasakan hati yang berdebar-debar tidak menentu. "Saya terima nikah dan kawinnya Alena Farahana Mihluver binti Faron Arkananta dengan mas kawin tersebut tunai." Mata Alena terbuka sempurna ketika mendengar suara dengan nada datar itu mengucapkan ijab qobul dengan lancar dan sempurna. "Bagaimana para saksi? Sah?" "SAH!!!" "Alhamdulillah..." Mendengar suara serempak gaungkan satu kata tersebut, setitik bulir bening lantas menetas dari pelupuk mata. Hal yang tidak bisa dicegah meski berusaha untuk menahan diri. Bohong jika hati tidak mencelos usai mendengar namanya disebutkan, dia merasa sangat pilu saat ini. Ya Tuhan ... haruskah seperti ini nasibnya sekarang? Menjadi mempelai pengganti bagi pria yang seharusnya menyandang status sebagai kakak ipar? Kedua kelopak mata spontan terpejam saat merasai bibir basah Morgan menyentuh permukaan keningnya. Dia sadar, jika apa yang dilakukan Morgan hanya formalitas semata, mereka berdua harus menunjukkan sebuah kamuflase di hadapan para tamu undangan. Bukankah hari pernikahan merupakan peristiwa paling bahagia? Lantas untuk apa air mata ini? "Hapus air matamu dan perhatikan sekelilingmu!" Alena mengangguk dan bergegas mengusap pelan air mata usai mendapat bisikan dari Morgan. Benar! Dia tidak boleh menangis untuk apa yang sudah menjadi keputusannya. Prosesi tersebut dilanjutkan dengan doa bersama yang dilakukan oleh seluruh orang di ruangan itu. **** Waktu berputar begitu cepat, tidak terasa serangkaian proses pernikahan di lewati dengan baik, bahkan pada bagian terakhir yakni resepsi. Karena acara sudah usai, Alena sengaja menyendiri di taman hotel untuk menghirup udara segar. Angin malam yang menusuk hingga ke tulang belulang diabaikan begitu saja olehnya. Alena tersenyum pada bulan sabit yang menggantung di angkasa, seolah sedang menyapanya. Akan tetapi senyum itu sirna sebab tidak lama kemudian eksistensi bukan itu tertutup oleh kabut tipis. "Alena ..." Mendengar namanya diserukan oleh pria yang dikenalinya, ia menoleh ke belakang lalu tersenyum tipis. "Kukira ke mana? Ternyata menepi di sini." Alena terkekeh "Kenapa kamu cari aku?" "Ya nggak apa-apa, sih. Cuma mau memastikan aja bagaimana keadaan kamu." "Perhatian nih ceritanya?" Alena mengajukan pertanyaan sembari tersenyum. "Omong-omong kenapa kamu di sini ketika semua orang justru merayakan kebahagiaan di dalam? Kamu tokoh utamanya kan? Tidak berniat untuk berkumpul dengan mereka kah?" "Hah ...(Alena menghela napas) Jangan bercanda! Bagaimana mungkin aku bisa membaur sementara kamu tahu posisiku di sini sebagai apa," sahut Alena dengan membiarkan figur Jovan kian mengikis jarak, hingga keduanya berdiri saling berdampingan. Hening. Sama-sama menatap kearah serupa yaitu langit yang dihiasi kilau gemintang dan bulan yang mengintip malu-malu di balik awan. "Hmm ... begitu, ya?" "Yups, selagi mereka tidak mencariku, kupikir itu no worry." Sedangkan di dalam ballroom, di tengah ingar bingar para manusia yang saling berbincang dan bensenda gurau, Morgan melupakan keberadaan pengantinnya. Dalam keadaan sendiri, dirinya asyik bercengkerama dengan para tamu undangan. "Morgan, bisa bicara sebentar? Ini sangat penting." Morgan yang posisinya sedang sibuk berbincang dengan beberapa relasi bisnis lantas menoleh ketika sang ibu menginterupsi kegiatannya. "Sebentar, ya. Nanti kita lanjut lagi," ujar Morgan pada beberapa lawan bicaranya, kemudian menggiring sang ibu ke suatu tempat yang tidak terlalu dijangkau oleh lalu lalang para tamu. "Kenapa, Ma? Ada hal penting apa?" "Alena ke mana? Mama lihat dia tidak ada di kamarnya. Mama pikir tadi dia naik setelah acara selesai." Morgan memasukkan kedua tangan pada saku celana lalu menghela napas. "Kupikir Mama akan bicara hal penting seperti apa. Ternyata hanya ini? Astaga ..." "Ck, kamu ini gimana? Ini tentu saja sangat penting. Pengantinnya tidak ada di sini, Morgan." "Ma ... Jangan berspekulasi buruk dulu! Hotel ini sangat luas. Coba Mama cari ke sudut-sudut ballroom. Pasti ketemu." "Mama sudah mencari ke beberapa tempat, tapi tidak ada. Ayo! Bantu Mama cari Alena." Mendapat permintaan seperti itu dari ibunya spontan saja bola matanya berotasi. "Aku sedang memiliki beberapa tamu, aku tidak mau meninggalkan mereka hanya untuk mencari keberadaan Alena. Lagian dia sudah besar, nggak akan hilang." "Bagaimana kalau ternyata Alena kabur?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN