"Sudahlah, hal itu nggak mungkin terjadi, Ma," Morgan menolak keras asumsi buruk yang terurai dari bibir Hasna. Laki-laki itu tidak mau mudah terkontaminasi dengan spekulasi yang belum benar-benar terjadi.
"Kalau begitu kita berpencar untuk mencarinya, Mama penasaran ke mana perginya Alena."
"Astaga ... sudah kubilang, beberapa relasiku bisnisku masih di sini, Ma. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka?"
"Ada Evan yang akan menemani mereka."
Morgan menghela napas panjang, seperti itulah tabiat sang ibu, jika sudah menginginkan A, maka, tidak akan peduli dengan B maupun yang lain.
"Hmm, baiklah. Kita berpencar untuk mencarinya." Laki-laki yang hanya menyisakan kemeja putih di tubuhnya itu, melangkah susuri lorong guna menunaikan apa yang diinginkan oleh ibunya. Jangan tanyakan bagaimana perasaannya sekarang, dia sangat kesal sebetulnya. Tetapi, kekesalannya tidak mampu diungkapkan mengingat bagaimana dia dibesarkan seorang diri tanpa bantuan siapa-siapa.
Selagi terus melangkah, sudut mata tidak luput mengamati sekeliling, dia tidak lengah sama sekali dalam edarkan pandangan untuk bergegas temukan obyek yang dicari.
Hingga pada akhirnya, langkah kaki itu melambat ketika mendengar suara percakapan yang menepi halus di telinganya, Morgan mengenali suara siapa itu– Alena dan Jovan. Perlahan tapi pasti dibawanya tungkai kaki itu kembali berjalan ikuti sumber suara yang berasal.
Hingga pada titik dirinya menemukan seseorang yang dicari, maka, langkah kakinya berhenti berayun.
Laki-laki itu menatap dalam dan memperhatikan cukup saksama interaksi antara dua orang berbeda gender itu, lalu tak lama dirinya menghela napas. Sedekat itu mereka? Apakah hal ini tidak mengapa?
"Kamu menemukannya?" Di saat fokusnya berpusat pada pintu taman, Hasna datang mengejutkan Morgan.
"Mama lihat kan? Alena tidak kabur, Ma. Mama terlalu over thinking." Tunjuk Morgan menggunakan dagunya.
"Hmm, oke. Mama salah untuk hal ini."
"Ya sudah, aku kembali."
"Mau kemana?" Morgan menoleh ketika Hasna menahan lengannya, menghentikan langkah yang baru berayun satu kali.
"Apa lagi? Keberadaan Alena sudah ditemukan dan aku harus kembali menemani tamu di ballroom."
"Evan sudah meng-handle nya. Ada beberapa juga yang sudah pulang. Kamu tetap di sini, karena Mama punya tugas untukmu."
Morgan memutar lagi bola matanya benar-benar jengah.
"Tugas apa? memperhatikan mereka berdua sampai selesai berbicara?"
"Memang kamu mau?"
"Yang benar saja, Ma." Morgan berdecak usai mengatakan hal itu.
"Bukan, tugasmu adalah hampiri mereka dan bawa Alena pulang."
"Saranku, biarkan saja mereka mengobrol dulu. Tidak sopan kalau aku tiba-tiba menyuruh Alena ikut bersamaku."
"Tidak sopan dari bagian mana? Kamu suaminya, berhak membawa Alena pergi dari sini. Mama nggak perduli apa hubungan di antara mereka, yang jelas bawa Alena pulang sekarang juga. Tidak baik membiarkan mereka terlalu lama berdua. Apa kata orang nanti?"
"Mereka hanya mengobrol biasa, lagipula siapa yang mau mengurusi hal tidak penting ini."
"Morgan, Alena adalah istrimu sekarang. Istri seorang presiden direktur ternama, setiap gerak-geriknya pasti akan menjadi sorotan. Mama juga tidak suka jika dia dekat-dekat dengan Jovan."
"Jangan seperti itu! Kalau mama ingat, Jovan turut andil membantu Mama dalam hal meluluhkan hati Alena. Bagaimana jadinya jika Jovan tidak berkenan membantu Mama bicara dengan Alena beberapa waktu lalu, tidakkah pernikahan ini masih berlangsung?" pungkas Morgan mengingatkan kembali pada sang ibu jika pernah meminta bantuan pada Jovan untuk membuat Alena setuju menjadi mempelai pengganti untuk Morgan.
"Ck, terserah saja lah! Awas kalau Mama sampai mendengar isu yang tidak-tidak. Kamu orang pertama yang akan Mama salahkan." Hasna melangkah pergi usai melayangkan ancaman, membuat Morgan hanya dapat mampu memandang punggung yang kian menjauh tersebut.
***
Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, dan Morgan baru naik ke lantai atas setelah para tamunya benar-benar sudah tidak bersisa di sana. Ia memendarkan pandangan memperhatikan setiap room yang tertutup rapat. "Sepertinya mereka semua sudah tidur," ungkapnya dalam hati. Seluruh keluarga besar baik dari pihak Hasna maupun Mario, sepakat untuk tinggal selama semalam di hotel bintang lima yang sudah direservasi. Dan hal itu jelas saja sedikit membuat Morgan merasa tidak leluasa sama sekali dalam melakukan pergerakan. Untuk itu dia berencana tidak menginap di sini.
Langkah kakinya berhenti di depan room dengan nomor 205, room itu sengaja disiapkan oleh beberapa dari mereka untuk mempermulus perjalanan malam pertama antara sepasang pengantin baru tersebut. Morgan terkekeh kecil mengingat effort mereka yang terbilang luar biasa dalam menyiapkan segalanya, padahal mereka tidak tahu jika yang menikah dengannya adalah Alena, bukan Evelyn–selaku mempelai sesungguhnya. Mungkin lantaran beberapa dari mereka belum mengenal dengan baik siapa kekasih Morgan, sehingga mereka tidak rasakan kejanggalan sama sekali saat mempelainya berbeda seratus delapan puluh derajat.
Morgan menghela napas sejenak, setelah ia berhasil mengganti pasokan udara pada rongga d**a, tangannya bergegas terangkat lalu bergerak mengetuk pintu untuk beberapa kali, sampai pada akhirnya gadis itu keluar dari kamarnya.
"Morgan?"
"Ikut aku sekarang!"
"Kemana?"
"Kamu akan tahu nanti, sekarang aku akan menunggu di lobby, bersiaplah dalam waktu sepuluh menit. Mengerti!" Morgan berbalik badan lalu pergi dari kamar itu.
Ini merupakan kali pertama mereka membangun interaksi. Sejak dulu keduanya memang tidak pernah bicara meski Morgan intens bertandang ke kediamannya guna bertemu Evelyn. Masih dapat diingat pertama kali mereka bicara hanya pada saat Evelyn memperkenalkan keduanya, dan itu pun juga menjadi hari terakhir mereka bicara. Baik Alena maupun Morgan seakan solid memiliki sekat pembatas untuk tidak saling mengenal lebih jauh selain hanya cukup saling tahu apa status mereka.
"Sudah siap?"
"Sudah."
"Ayo, kita pergi sekarang!
"Kita mau ke mana?" tanya Alena pada Morgan yang sedang menuruni undakan lobby untuk ke area parking lot.
"Ke rumahku. Aku sudah izin pada Mama jika tidak menginap di hotel," sahutnya.
"Ayo, masuk!" Morgan membukakan pintu mobil untu Alena. Selagi mengendarai roda empatnya melintasi jalanan kota yang sunyi, keduanya hanya hiasi kabin mobil dengan keheningan. Tidak ada percakapan apa pun sebab keduanya merasa tidak ada bahan obrolan.
"Bagaimana jika keluargamu bertanya nanti?" Morgan menoleh ke samping.
"Biar Mama yang mengaturnya besok pagi."
"Baiklah!"
Hening! Hanya suara deru mesin mobil yang mengudara mengiringi kesunyian itu.
Hingga tanpa terasa, kendaraan yang dikendarai Morgan memasuki kawanan apartemen yang berada di tengah kota.
"Ayo, turun. Kita sudah sampai," pungkas Morgan
"Oh, oke."
Setelah masing-masing dari mereka melepas sabuk pengaman. Keduanya keluar dari mobil bersama dan mulai memasuki lobby untuk menaiki elevator ke lantai paling atas.
"Ada masih jauh?" Morgan menoleh pada Alena setelah mendapat pertanyaan demikian. Morgan menatap sejenak gadis di sebelahnya.
"Kenapa memangnya?"
"Aku mengantuk."
"Tunggulah! Sebentar lagi sampai," usia menyahut demikian, Morgan kembali merapatkan bibir. Keheningan kembali melingkup hingga pada akhirnya lift berhenti di lantai dua puluh. Bukan karena mereka sudah mencapai lantai tujuan, melainkan ada orang lain yang masuk ke dalam lift itu.
Sosok berpostur tinggi dan bertubuh tambun, lalu beberapa benda di tangannya merangsek masuk membuat ruang di dalam lift semakin sempit. Mau tidak mau Alena terpaksa bergeser ke samping tepat pada sebelah Morgan.
"Hati-hati!" Morgan berujar datar ketika Alena hampir terjatuh karena kurang menjaga keseimbangan.
"Ya, terima kasih."
"Ekhem ..." Alih-alih menyambut ucapan itu, Morgan justru meresponnya dengan deheman. Setelah melewati tiga lantai berikutnya, akhirnya mereka dapat kembali membentang jarak karena orang asing tadi sudah keluar dari sana.
Tatapan Morgan memang tidak beralih dari manapun, tetapi meski begitu dia bisa melihat refleksi Alena dari pantulan kaca.
Ting!
Akhirnya, lantai teratas dicapai oleh mereka. Morgan keluar lebih dulu yang kemudian diekori oleh Alena di belakangnya.
Hanya membutuhkan beberapa langkah saja, mereka tiba di depan pintu penthouse milik Morgan.
"Masuk!"
Morgan memberikan akses pada gadis itu setelah membuka pintu dan masuk lebih dulu.
"Kamu akam tinggal di sini sejak malam ini, kamu hanya bisa memakai fasilitas di sini setelah mendapat izin dariku."
"Termasuk dapur?"
"Ya!"
"Oke, aku mengerti." Morgan menatap kepergian Alena usai menyahut demikian. Ada beberapa keanehan yang dirasa setelah menatap punggung gadis itu.