Bab 5

1012 Kata
Suara derap langkah memecah kesunyian di area pemakaman. Dengan membawa serangkaian bunga edelweiss di tangannya, Morgan mendekat pada makam yang masih baru di antara makam-makam lainnya. "Hai ... apa kabar?" Morgan menekuk kaki demi memposisikan tubuh agar sejajar dengan batu nisan berwarna putih bertuliskan nama Evelyn di sana. Tangannya terulur menyimpan dengan baik buket bunga yang dibawanya kemudian mengusap permukaan batu nisan tersebut. "Aku tahu kamu pasti menungguku." Sepi. Hanya terdengar desau angin sore mengisi sunyi di area sekelilingnya dan suara samar gemerisik daun kering yang turut mendominasi. "Maaf aku baru datang di hari keempat pasca kepergianmu. Bukan aku sengaja mengabaikanmu, tetapi dua hari lalu aku masih sibuk mempersiapkan pernikahan kita, maksudnya pernikahanku dan Alena." Morgan menghela napas setelah mengatakan hal demikian, baginya tidak ada yang lebih sakit dibanding harus membangun komunikasi dengan sebuah benda mati yang tidak bisa merespon ucapannya. Tetapi, apa boleh buat? Jika hal ini merupakan cara terbaik untuk meluapkan segalanya, maka Morgan bersedia melakukannya. "Aku tahu kamu pasti kecewa karena aku menikahi adikmu. Kamu pasti merasa jika aku telah berkhianat. Tapi tidak seperti itu kenyataan, aku tetap menikah dengan menjadikan wanita lain sebagai penggantimu bukan lagi berdasarkan perasaan, tetapi demi memenuhi tanggung jawabku pada Mama. Sungguh hanya itu alasannya." Morgan menurunkan tangannya dari pucuk nisan untuk meraba tanah yang basah sebab terkena air hujan, siang tadi hujan turun sangat lebat hingga menjelang sore, alhasil makam milik Evelyn menjadi becek oleh ceruk-ceruk tanah yang tergenang oleh air. "Maaf karena aku harus melakukannya, Eve. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Inilah keadaanku sekarang. Aku tahu ini mungkin tidak adil buatmu, tetapi ketidakberdayaan lebih membuatku tidak bisa menolaknya. Aku masih cukup tahu diri bagaimana cara membalas pengorbanan Mama yang telah mengantarku pada kesuksesan." Dijedanya kalimat itu untuk sepersekian detik , lalu menatap lekat pusara sang kekasih sembari menghela napas. Menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengganti pasokan oksigen yang tidak lagi berfungsi di dalam rongga d**a. "Kamu tahu, aku masih sangat mencintaimu walaupun aku menikahi Alena. Perasaanku masih bertaut padamu meski ragamu sudah tidak lagi bernyawa. Percayalah!" Morgan mengatakan itu dengan menahan rasa sesak yang menggelayut dalam d**a. Bagaimana mungkin dia mengucapkan kalimat demikian sementara dirinya telah menikahi adik dari kekasihnya itu. "Tolong jangan membenciku karena telah ingkar dengan janji sehidup semati. Aku tidak sanggup jika ini terjadi." Tanpa terasa air mata jatuh dari pelupuk mata Morgan, mengingat bagian di mana mereka saling satukan kelingking untuk kemudian mengucapkannya janji selalu setia tanpa ada orang lain lagi. "Aku tahu ini sangat melukaimu, tidak hanya kamu, tapi kita. Eve, aku rindu kamu. Tidak ada dirimu selama beberapa hari belakangan aku merasa hidupku tidak berguna." "Ekhem! apa sudah selesai, Morgan?" Morgan terkesiap dan lantas menengadah pada sang ibu yang tiba-tiba saja berada di hadapannya. Disapu kasar air mata yang masih menjejaki pipinya. "Mama kenapa ada di sini?" tanya Morgan pada wanita ber blouse putih yang dipadu padankan dengan span berwarna hitam lengkap dengan kaca mata yang menutupi kedua matanya. "Mama terlalu lama menunggu, akhirnya Mama menyusulmu kemari." "Kalau begitu tunggu sebentar –" "Tidak ada kata sebentar. Kita pulang sekarang! Hari sudah semakin sore dan lihat! Awan kembali mendung. Kasihan Alena, dia sendirian di rumahmu." Usai mengatakan demikian, Hasna bergerak menjauh dari sana tanpa ingin menjamah sedikit saja pusara milik Evelyn. Sesuatu yang membuat Morgan merasa sakit hati sebab melihat sikap apatis Hasna terhadap makam Evelyn. "Aku pergi dulu, ya. Lain waktu aku akan berkunjung lagi. Aku mencintaimu, Ve. Aku harap kamu juga demikian." Morgan melabuhkan kecupan pada batu nisan sebelum mengejar langkah Hasna yang kian mengecil dari pandangan mata. *** "Tidak seharusnya kamu terus berduka seperti ini, jalan hidupmu masih panjang, Morgan. Jika dengan memikirkan Eve yang sudah tiada membuatmu kalut dan menitikkan air mata, lebih baik kamu lekas lupakan dia! Mama tidak ingin kehidupanmu terhambat hanya karena ini." Morgan terkejut mendapati ucapan Hasna yang secara tiba-tiba mengudara seperti itu. Kedua bola mata yang semula fokus pada perjalanan, kini beralih cepat pada sosok wanita di sampingnya. "Kenapa Mama bicara begitu?" "Ya, Mama merasa prihatin saja melihatmu seperti kehilangan arah hidup. Belajarlah untuk melupakan sesuatu yang sudah tidak bisa lagi digenggam. Jangan buang-buang waktu dengan terus mencintai benda yang sudah tidak bernyawa." Morgan nyaris menjatuhkan rahang merasa tidak percaya jika Hasna dapat berujar secara eksplisit. Masih dalam pertanyaan besar, apakah Hasna mengatakan ini dengan keadaan sadar? "Mama tidak mau kamu seperti ini hanya karena seorang wanita," sambung Hasna membuat Morgan menekan pelipisnya untuk sekejap. "Ma, melupakannya bukan bagian dari rencana hidupku, biarkan saja aku tersiksa karena harus terus mencintainya." "Jangan bodoh dan keras kepala! Dia sudah tidak bisa lagi dijamah. Relakan yang sudah tenang di alamnya." Morgan tidak menimpali lagi. Perasaannya mendadak panas, tanpa sadar ia menggenggam erat roda kemudi menahan diri untuk tidak bersikap impulsif. "Mama tidak mau lagi melihat kamu seperti tadi, Morgan. Menangis di makamnya, apa-apaan itu? Tidakkah kamu berpikir jika selama ini dia tidak punya andil apa-apa dalam hidupmu?" Morgan menghela napas panjang, berusaha sebaik mungkin mengendalikan diri agar tidak terpancing oleh emosi. "Lantas Mama pikir bagaimana dengan Alena? Dia juga tidak punya andil apa-apa. Malah Mama yang sudah banyak membantunya." "Tetapi perannya di sini dapat membuat kita terselamatkan." "Sama saja, Eve juga akan menyelamatkan kita jika saja dia hidup." "Pada kenyataannya Eve sudah berpulang, Morgan. Jadi untuk apa diunggulkan lagi?" "Astaga ... Mama." *** Morgan tidak habis pikir dengan cara kerja otak sang ibu, bisa-bisa beliau meminta secara gamblang agar dirinya melupakan Evelyn begitu saja. Padahal sudah sangat jelas jika hati tidak bisa dipaksa sesukanya. Diambilnya sebatang rokok dan pemantik, Morgan perlu melebur rasa pening dalam kepalanya dengan cara menghisap benda bernikotin tersebut. "Morgan ..." "Ya, ada apa?" sahutnya dingin ketika Alena menyerukan namanya. Pria itu berbalik badan lalu menatap lekat sosok gadis yang saat ini tinggal dan menetap di penthouse nya. "Mamamu menelponku, beliau meminta agar kamu mengaktifkan nomormu." "Ck, bilang sama Mama, ponselku sedang kehabisan baterai. Entah apa lagi yang ingin Mama bicarakan," ujarnya membuat Alena mengangguk patuh. "Kembali ke kamarmu!" Tatap mata elangnya terus menyorot pada sosok gadis yang mengenakan dress floral yang kian membentang jarak. 'Apa yang membuat Mama membeda-bedakan antara kamu dengan Evelyn?' tanyanya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN