Dua hari terkurung di penthouse tersebut, Alena merasa jemu karena tidak memiliki kesempatan untuk sekadar menghirup udara segar. Sebetulnya ia ingin meminta izin keluar dari tempat hibernasinya itu, tetapi niatnya urung dilakukan karena mengingat bagaimana posisinya sekarang. Pasti untuk berada di tempat umum, dirinya akan mengalami kesulitan.
Dalam diam ia berpikir keras, apa yang harus dia lakukan untuk mengusir rasa jengah yang menjajah dirinya sekarang? Menonton film dia bosan, menulis? Dia bosan karena mengingat menulis merupakan sumber pencaharian. Lalu berbuat apa? Alena nyaris putus asa memikirkannya. Tetapi, hal itu tidak lama sebab pada akhirnya, tercetuslah sebuah ide cemerlang dalam pikirannya–mengelilingi seluruh ruang yang ada di sini.
Ia sepertinya harus menguasai dan mengenali tiap-tiap sudut tempat tinggalnya yang baru ini. Terlalu asyik tenggelam dalam niatnya untuk berjelajah, ia sampai mengabaikan pesan Morgan saat pertama kali tapak kakinya berpijak di lantai penthouse ini.
Tungkai kaki dengan gelang emas yang melingkar mulai melangkah perlahan sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
Selagi mengamati ruang beraksen modern ini, bibirnya beberapa kali menyerukan kalimat takjub. Ada satu ruangan yang saat ini benar-benar sedang menarik atensinya, dari bagaimana tekstur pintu bagian luar, Alena berasumsi jika di dalamnya pasti akan jauh lebih menarik.
Jujur, ia sangat penasaran dengan apa isinya, tetapi di sisi lain ia tidak memiliki keberanian untuk mendorong tuas pintu lebih dalam.
Buka saja! Intuisi hati berkata demikian, membuat gamang hati Alena sekarang.
Ayo, buka saja! Di dalam ruang itu pasti sangat keren.
Alena mengembuskan napas ketika iman mulai goyah.
Its okay, tidak masalah. Ayo! Masuk! Tangannya terulur memberanikan diri untuk memutar kunci agar dapat membuka pintu itu. Pintu terbuka hingga memperlihatkan bagian dalamnya.
Apa itu?
Alena mendekat pada benda yang tertanam di dinding. Ia yang dilandasi rasa penasaran pun menekan sandi secara acak di sana. Alena tahu seharusnya ini tidak boleh terjadi, tetapi entah mengapa dia merasa kesulitan menghentikan niatnya itu. Rasa penasaran yang ada dalam kepala seolah memaksanya untuk mengupas tuntas rasa penasaran tersebut.
Apa kira kira yang terjadi jika tombol tersebut terverifikasi?
tanyanya usai memencet beberapa nomor yang ternyata terkoneksi.
'Woah ...' Alena tercengang setelah finger door lock terbuka.
Ia dapat memperhatikan secara langsung bagaimana kabinet yang menempel di dinding itu bergerak memutar seratus delapan puluh derajat. Hal tersebut seolah menawarkan Alena untuk masuk kedalam dimensi lain.
Benar-benar keren.
'Kira-kira tempat apa ini?' Kakinya kembali melangkah, dan meraba dinding untuk mencari letak saklar.
Klik!
Lampu menyala hingga terang benderang.
'Tuhan ... ini indah sekali, lebih dari yang ada di ekspetasiku,' ujarnya begitu melihat banyak jenis lukisan di dalam studio tersebut.
Alena tidak berhenti berdecak kagum melihat seni rupa yang terpampang jelas di depan mata, ia menangkap beragam alat lukis yang tersusun rapi berikut beberapa easel atau bisa disebut oleh penyangga kanvas.
Di antara beberapa lukisan, ada satu buah lukisan yang ditutup oleh kain..Dahinya mengerut sempurna sehingga tangannya bergerak spontan menyentuh tirai penutup.
Akan tetapi saat baru hendak menyibak, suara lain menginterupsi membuat Alena terkejut lalu mengurungkan niatnya.
"Apa yang kamu lakukan di ruangan ini?"
Alena terkesiap lalu lekas dijauhkan tangannya dari permukaan kain dan menyembunyikan di belakang punggung. Di sana dia bisa melihat aura dominan yang terbingkai jelas di raut wajah pria didepannya.
"Sedang apa kamu di sini?" lagi, pertanyaan mengudara untuk kedua kali.
"Aku hanya ingin melihat-lihat."
"Sampai sejauh ini?" Alena menelan saliva dengan susah payah.
Detak jantungnya seakan ingin melompat begitu pendengarannya menangkap radar keberadaan Morgan yang kian mendekat.
"Alena ..." Suara itu terdengar dingin, hingga menusuk ke tukang belulang.
"Apa seperti ini tindakan yang kamu lakukan saat kerapkali berada di tempat baru?"
"Maksudnya bagaimana?"
"Bertindak lancang seolah tempat ini merupakan tempat pribadimu?"
Alena terhenyak mendengar pertanyaan yang terkesan menohok. Lidah mendadak kaku saat hendak kembali menjawab. Sungguh, Alena ingin menyangkal tetapi tidak memiliki keberanian yang cukup. Nyali mendadak ciut bersamaan dengan keringat dingin yang mulai merembes dari pori pori kulitnya.
"Aku–"
"Sekarang keluar dari sini! Aku paling benci wilayah pribadiku di sentuh oleh orang asing. Awas saja kalau sampai hal seperti ini terulang lagi. Aku tidak akan segan memberimu pelajaran."
Tanpa membantah apa pun, Alena keluar dari tempat itu, membawa langkah kaki dengan sangat gontai melintasi Morgan yang berdiri tegap sembari memasukkan satu tangannya pada saku celana. Aroma musk di tubuh Morgan tercium di indera penciuman Alena ketika melewati pria itu.
****
"Hai, maaf mengganggumu sebentar. Apa kamu sibuk?" Morgan yang saat ini sedang sibuk membaca buku filosofi lantas mengalihkan atensi. Dia sedang senggang, maka dari itu waktu tersebut dia gunakan untuk membaca.
"Jovan? Kupikir siapa."
"Hmm-mm."
"Kenapa tidak mengabariku dulu jika ingin kemari?"
Morgan menutup buku tebalnya kemudian menyimpan di atas meja.
"Aku hanya mampir sebentar, tidak lama."
"Oh, oke. Ada apa, Dude? Kamu membutuhkan sesuatu?" Morgan beranjak dari kursi kebesarannya lalu hampiri figurasi Jovan yang masih berdiri di dekat pintu keluar.
"Apakah aku boleh membawa Alena pergi?" Morgan mengendurkan otot-otot pada pipinya, senyum itu memudar lalu hilang dalam sekejap mata.
"Maksudnya bagaimana? Pergi kemana?"
"Dia ingin pergi ke makam Eve."
Morgan menghela napas. Entah mengapa rasanya untuk sekadar mengatakan ya saja dia sangat kesulitan di sini.
"Kapan?" tanya Morgan dengan intonasi lebih rendah daripada tadi.
"Sore ini? Apa kamu mengizinkannya?"
Morgan mengalihkan tatapan ke arah lain, tidak lama kemudian mengangguk pelan. Tidak ada pilihan lain, seandainya ia menolak juga buat apa? Dia tidak berhak untuk mengatur Alena bukan?
"Silakan, tapi bawa dia pulang dalam keadaan cepat dan selamat," ujarnya kemudian membalik badan ke arah semula.
"Hei, kenapa tiba-tiba suaramu jadi lirih begini? Tidak rela, ya, jika aku membawa Alena pergi?"
"Ck. Simpan omong kosongmu, Jo! Sudah pergi sana! Aku sibuk!" Morgan meminta Jovan segera pergi dari ruangannya.
Dia tidak ingin lagi mendengar suara-suara godaan seperti barusan. Memangnya siapa yang tidak rela jika Alena dibawa pergi oleh pria lain? Dia masih sangat waras sampai harus melakukan hal tersebut.
"Ya sudah, aku pergi. Tenang saja! Aku akan membawanya dengan selamat. Jangan rindu dulu padanya!"
"Hei, kamu bilang apa, Sialan? Enak saja,"tukasnya pada pria yang sudah lebih dulu hilang dari sana.
Morgan membawa pinggangnya menekan pada meja ukir berwarna coklat tempatnya biasa menyimpan banyak berkas.
Tiba-tiba dia melamun, memikirkan kejadian semalam saat dirinya memarahi dan mengusir Alena dari ruangan pribadinya, ruangan di mana biasanya ia menuangkan emosi melalui coretan coretan di atas kanvas. Random sekali pikirannya yang terlempar jauh memikirkan sosoknya.
Entah mengapa dia juga mendadak memiliki segumpal rasa sesal dan bersalah yang mengganjal pada hati kecilnya.
"Astaga, apa-apaan ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Morgan tegakkan tubuh lalu berjalan cepat menuju jendela untuk melihat ke bawah, di sana dia melihat mobil berwarna putih milik Jovan keluar dari area perkantoran.
"Mama curiga kalau sebetulnya mereka saling suka."
Sepenggal kalimat yang pernah mengudara dari bibir sang ibu sontak membuatnya terpejam untuk beberapa saat.
Ditutupnya kembali tirai yang ia sibak dengan cukup kasar.