"Bagaimana, apa sudah lebih baik?" Alena yang baru saja mengangkat kembali tubuhnya dari posisi berjongkok lantas mengangguk, kemudian dia tersenyum kecil pada sosok pria yang saat ini sedang mendampinginya masuk ke area pemakaman.
"Terima kasih, Jo. Akhirnya rasa gelisah ini hilang setelah aku datang ke sini, sudah beberapa hari lalu aku ingin berkunjung ke makam, tetapi Morgan belum memberikan izin," ujarnya lalu menghela napas panjang. Tidak sia-sia Alena meminta bantuan Jovan untuk meminta izin pada Morgan, hanya dengan sekali embus napas, dirinya langsung mengantungi izin pergi ke makam.
"Iya, sama-sama. Kalau sudah selesai, bagaimana jika kita ke mobil sekarang?" Alena setuju untuk usulan ini. Dia juga tidak suka berlama-lama di tempat ini, apalagi mengingat hari sudah beranjak sore, yang sebentar lagi area makam pasti akan gelap karena tidak ada penerangan di sekelilingnya.
Mereka berjalan bersisian menuju area parkir, selagi melangkah, keduanya mengisi kekosongan dengan obrolan-obrolan ringan saja. Sampai pada akhirnya kaki-kaki jenjang mereka sampai pada tujuan utama. Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil. Jovan sempat mendistraksi langkah Alena sehingga berhenti sejenak badan mobil.
"Len?"
"Hmm, apa?" sahut Alena sembari menatap heran.
"Sebelum mengantarmu pulang, bagaimana jika kita mampir dulu ke kedai eskrim? Aku punya langganan di dekat sini. Kamu mau tidak? Aku sudah lama sekali berencana mengajakmu pergi ke sana."
Alena mengerucut bibir, berpikir untuk beberapa saat. Dalam benaknya sedang menimbang-nimbang, tawaran Jovan memang sangat menarik di matanya, karena tak dapat menafikan jika dia suka sekali dengan eskrim. Tetapi pertanyaannya adalah– apakah itu tidak masalah?– Apakah pergi dalam jangka waktu lama tidak akan menjadi bumerang untuknya nanti? Ia gegas menggigit bibir bawahnya gamang.
Pergi atau tidak?
"Hei, kenapa berpikirnya lama sekali? Padahal hanya perlu menjawab ya atau tidak."
"Sebetulnya itu usulan bagus, Jo. Tetapi–" Diangkatnya pandangan pada sosok pria yang jauh lebih tinggi darinya tersebut, lalu kembali melanjutkan kalimatnya, "Bagaimana jika Morgan marah?" sambungnya cukup serius dengan pertanyaan ini.
"Marah kenapa memangnya? Apa dia menerapkan aturan dalam hubungan kalian?"
"Tidak, bukan begitu, tapi–"
"Sudah, jangan ada tapi-tapi! Ayo!" Alena terkejut ketika tangannya tiba-tiba saja ditarik masuk ke dalam mobil.
Kendaraan Bugatti Veyron yang ditumpangi lantas melaju cepat meninggalkan parking area. Melintasi jalanan padat merayap di sore hari yang masih sangat terik.
Demi mengusir rasa jemu, Alena sengaja membuang pandangan ke luar jendela, menatap lalu lalang kendaraan roda dua dan asap-asap yang membumbung ke udara. Tatapannya memang fokus pada sesuatu yang dilihat, tetapi pikirannya jelas berkelana tidak tentu arah. Hingga tanpa sengaja sudut mata indah tersebut menemukan sesuatu yang menakjubkan sehingga lupakan sejenak masalah yang mengganggunya sejak tadi.
"Waw ..." gumamnya lirih, tetapi masih dapat ditangakp oleh tunggu Jovan
"Kamu lihat apa?" Alena memutar kepala ke samping lalu berkata,
"Gedung itu bagus sekali, gedung apa itu?" Sembari menunjuk sebuah desain fasad modern pada sebuah gedung berbentuk origami.
"Oh, itu perusahaan milik Morgan. Kamu tidak tahu?"
"Eum, tidak." Alena menggeleng kecil.
"Kasian sekali. Perusahaan suami sendiri saja tidak tahu." Alena mencebik kesal, tetapi tidak berlangsung lama sebab ia kembali edarkan pandangan keluar jendela.
"Jujur, itu tadi keren sekali," sanjungnya penuh kagum.
"Memang. Kamu tahu, dia mendirikan perusahaan itu dengan penuh perjuangan , banyak sekali rintangan yang dilaluinya sebelum pada akhirnya satu perusahaannya berdiri kokoh, dan hal menakjubkan lainnya dia adalah satu-satunya pengusaha muda yang mampu membawa namanya melambung mengalahkan para petinggi perusahaan."
"Benarkah?"
"Hmm-mm."
"Ya ampun ... mimpi apa Evelyn sampai punya kekasih dan calon suami sepertinya? Benar-benar luar biasa sekali."
"Mendadak kagum padanya?" Jovan mengejek.
"Eh, tidak. Jangan sembarang bicara, ya!" pungkas Alena cepat. Menolak tegas jika apa yang dilakukan tadi hanya sebatas kagum pada benda mati yang tertancap kokoh di sana, bukan serta merta mengagumi sosok founder nya.
"Aku kira begitu, karena sangat lumrah jika istri mengagumi sosok su–" Kedua bola mata Alena langsung melotot kepada Jovan, membuat pria itu pada akhirnya menghentikan kalimatnya.
"Jangan lanjutkan bicaramu!"
"Kenapa?"
"Aku dan dia bukan suami istri sungguhan, jadi jangan bicara omong kosong." Alena melayangkan protes, dia tidak terima dengan ucapan Jovan jika dirinya merupakan istri dari Morgan–suaminya.
"Memang kenyataannya kalian suami istri di mata hukum, mungkin bisa saja sekarang kamu menolak dianggap istri, lantas bagaimana dengan kedepannya?"
"Maksudnya apa?" Alena menautkan kedua alis tebalnya. Dia merasa pertanyaan Morgan mulai tidak waras di sini.
"Bagaimana jika suatu hari kamu menyukainya atau dia menyukaimu? Kalian tinggal satu atap, yang tidak menutup kemungkinan kamu dan Morgan bisa saja saling jatuh cinta. Benar kan?"
Glek.
Alena mendadak pias di tempat dan berusaha menelan salivanya susah payah.
Apa yang dikatakan Jovan benar-benar mampu mengusik perasaannya saat ini. Bohong jika dia tidak ketakutan, jauh dari dalam lubuk hatinya, ia sedang dirundung kalut, Bagaimana jika hatinya bisa saja dapat berubah sewaktu-waktu? Benar kata Jovan, memang siapa yang bisa menjamin dirinya bisa tetap pada pendirian–tidka jatuhkan hati pada Morgan.
Tidak lama kemudian ia menjepit bibirnya ke dalam, tidak bisa bayangkan jika dia dan Morgan berakhir saling mencintai dan ... Alena menggeleng pelan lalu segera pejamkan kedua kelopak mata untuk mengenyahkan pemikiran aneh tersebut.
Tidak! Mereka tidak boleh saling memiliki perasaan lebih. Sebab jika sampai itu terjadi maka, sama saja dirinya telah berkhianat pada Evelyn.
****
Alena membawa gontai kedua kakinya memasuki unit penthouse milik Morgan.
Dia baru saja pulang dari kedai eskrim, tetapi karena pikirannya melayang jauh memikirkan sesuatu yang belum pasti, maka dia tidak bisa sama sekali menikmati beberapa eskrim yang dibelinya, padahal dilansir dari beberapa artikel, mood buruk bisa disembuhkan dengan memakan es krim apalagi rasa coklat. Tapi sepetinya hal ini tidak berlaku untuk Alena saat ini.
Langkahnya berhenti ketika seseorang menghadang jalannya. Alena yang mulanya tertunduk lesu, lantas mengangkat pandangan lalu menatap presensi pria di depannya itu.
"Dari mana saja?"
"Dari makam Eve."
"Selama itu?" Alena tidak bisa berkutik lebih ketika mendapat tatapan skeptis seperti ini.
"Kamu bisa bertanya pada Jovan jika tidak percaya!" Setelah sekian lama terdiam memikirkan jawabannya, Alena menjawab juga.
"Aku tidak sama sekali mempercayai kalian, baik itu kamu dan juga Jovan. Kalian sama-sama pembohong!"
"Aku membohongi apa? Jelas-jelas aku pergi ke makam Eve tadi." Tetap dengan pendapatnya, Alena tidak ingin mengakui kesalahannya pada Morgan.
Morgan mengangkat ponsel dalam genggamannya dan menunjukkan sebuah foto dirinya dengan Jovan di dalam sebuah kedai eskrim.
"Lalu ini apa? Sejak kapan makam terletak di dalam kedai eskrim? Hmm?"
"Jawab ini, Alena!" Alena semakin menciut setelah dihardik oleh Morgan. Tetapi, dia berusaha sekuat mungkin untuk tak gentar.
"Ya, setelah aku berkunjung ke makam, aku mampir ke kedai es krim. Masalahnya di mana? Kenapa kamu marah?"