Bab 8

1085 Kata
Hening! Tidak ada sahutan apa pun dari bibir Morgan, pria itu tiba-tiba bungkam tetapi tidak dengan tatapan serupa seekor elang–masih sangat tajam. "Sadar dengan posisimu tidak?" ujarnya dengan penuh emosi. Morgan memajukan langkah perlahan membuat gadis di depannya ikut bergerak mundur, untuk meminimalisir jarak di antara keduanya. "Kamu adalah istri dari seorang presiden direktur Victorious company. Jangan membuat malu nama perusahaan hanya karena rumor receh tentangmu dan Jovan di luar sana. Paham!" Ia dengan tegas menekan setiap kalimat yang dilontarkannya, secara harfiah, hal tersebut tidak dapat disadari sama sekali, tetapi berdampak besar pada perasaan Alena yang terluka oleh ucapannya. "Cepat masuk dan jangan keluar dari kamarmu!" Morgan membuat keputusan telak, perihal itu tentu saja memantik diri Alena untuk mengajukan aksi protes tetapi lebih dulu dipotong oleh Morgan. "Sampai aku memintamu keluar," sambungnya kemudian memutar balik tubuh tegap nan jangkung itu. Emosinya benar-benar sangat memuncak usia mengetahui kebersamaan Alena dengan Jovan lebih dari sekedar berkunjung ke makam. Tidak salah dia memerintahkan Evan untuk membuntuti dua orang itu, rupanya kecurigaan itu terbukti bukan hanya sebuah praduga. Disimpannya ponsel di atas meja kerja di ruang kerjanya, di dalam emosi yang masih menguasai, dia tidak bisa berpikir jernih bahkan saat bicara dengan Alena sekalipun. Apakah dia menyesali keputusannya meminta gadis itu mengurung diri? Tidak! Akan lebih baik Alena tetap berada dalam kamarnya daripada keluar rumah jika hanya menimbulkan masalah. Morgan menaikkan pandangan pada lukisan yang ia buat sebulan sebelum kepergian Evelyn. Lukisan itu menggambarkan sosok wajah cantik Evelyn yang sedang tersenyum. Menyugar rambut ke belakang sembari mengembuskan napas. "Lihat kelakuan adikmu! Dia sangat menyebalkan, huh!" "Sejak menikah, aku seringkali dibuatnya sakit kepala." Morgan menggerutu pada benda tak bernyawa itu, lain halnya dengan Morgan, lain pula dengan Alena yang menyandarkan punggung pada kepala ranjang, dia meringkuk, memeluk kaki dengan kedua tangannya sembari menangis. Apakah menikah dengan seorang pemimpin perusahaan hidup tak ubahnya seekor burung? Alena butuh teman-temannya, butuh jaringan sosialnya. Tetapi, semenjak menikah dengan Morgan. Koneksinya seperti terputus begitu saja. "Dasar manusia tidak punya hati," tukasnya kesal. **** Hari ini, Alena diajak pergi berbelanja oleh Hasna ke pusat perbelanjaan di kawasan jantung kota. Untung saja Hasna datang di waktu yang sangat tepat, dengan begitu, Alena bisa keluar dari sangkar emas setelah sehari semalam mengurung diri. Di sini, adalah tempat berbelanja yang paling mahal dan paling keren, tentu saja Alena sangat senang, bukan karena dapat berburu barang-barang mewah, tetapi karena bisa merefresh otaknya yang tinggal setengah waras itu. Kedua wanita berbeda generasi itu, menghabiskan beberapa jam lamanya untuk berbelanja sekaligus melakukan perawatan, tidak lupa mengisi perut yang sudah keroncongan. Tentu saja semuanya diberikan secara cuma-cuma kepada Alena sebagai menantu kesayangan. Dalam hatinya bergumam, 'Jika saja kamu masih hidup, Ve. Pasti kamu akan sangat bahagia berada dalam posisi ini, dapat kasih sayang dari suami, dapat juga kasih sayang dari mertua.' Tanpa Alena tahu, kemungkinan yang berada dalam kepalanya tidak akan pernah terjadi karena Hasna tidak akan melakukan hal yang sama terhadap Evelyn. "Hati-hati di jalan, Sayang. Terima kasih sudah menemani Mama berbelanja hari ini." "Sama-sama, makasih juga atas traktirannya," sahut Alena sebelum mereka berpisah di pekarangan rumah. "Oke, Sayang. Its no problem. Ya sudah, kamu pulang dan istirahat, ya." Alena mengangguk kecil sebelum akhirnya mobil yang membawa dirinya beranjak dari sana. Ia di jemput oleh Evan karena diutus oleh Morgan. Alena mengira jika mulai saat ini, dirinya tidak akan dilepaskan begitu saja sebab kejadian kemarin. Pria itu semakin membuatnya kesal saja di matanya. "Bagaimana jalan-jalannya, Nona?" tanya Evan membuat Alena yang semula melamun menatap keluar jendela langsung arahkan pandangan ke depan. "Aku senang, tante eum ... maksudnya mama mertua sangat baik padaku," jelasnya sembari memendar senyum. "Tapi sayang sekali, kenapa anaknya tidak seperti itu? Aku heran jadinya." Alena melanjutkan kalimatnya dengan nada pelan. Ucapan tersebut tentu membuat pria yang mengendarai mobil di depannya tersenyum tipis. Tidak lama berselang, tiba-tiba hujan turun, Alena mendapati titik-titik air hujan menempel pada permukaan kaca jendela. Awalnya hanya gerimis kecil tapi lama kelamaan menjadi cukup deras. Seulas senyum terbit, jemarinya spontan terulur menyentuh kaca lalu mengukir sesuatu berbentuk abstrak di mana, sebuah hal kecil tapi mampu membuat Alena tertawa, lagi lagi Evan ikut tersenyum melihat Alena tersenyum. "Nona suka hujan?" Alena menoleh saat Evan bertanya. "Suka, aku suka sekali dengan hujan. Dulu aku sering memanfaatkan air hujan untuk bermain-main. Sensasi dingin dan menyenangkan berbaur menjadi satu. Itu mengapa ketika melihat hujan turun deras aku begitu excited menyambutnya, sampai sekarang pun sama." Evan mengangguk kecil mendengar penjelasan Alena, melihat bagaimana gestur Alena yang tampak ingin sekali bergabung di bawah guyuran air hujan membuat pria yang merupakan kepercayaan Morgan lantas memiliki ide yang tiba tiba saja melintas. Mobil import keluaran terbaru itu ditepikan pada sebuah lorong sepi, kebetulan sekali di sisi kanan terdapat lapangan yang membentang cukup luas. "Kenapa berhenti disini?" Alena keheranan seraya menautkan kedua garis konstan alis tebalnya hingga menyatu. "Barangkali saja Anda mau mencoba mengguyur diri di bawah air hujan. Maka, saya persilakan." Alena tertawa lepas, telapak tangannya terangkat kemudian menutup mulutnya yang tengah terbuka. "Anda sangat pengertian," sanjungnya. "Tapi ... bagaimana nanti dengan Morgan nanti? Apa dia tidak akan tantrum seperti kemarin? Anda tahu tidak, dua sudah dua kali memarahiku dalam waktu berurutan." Imbuhnya masih memikirkan Morgan. "Anda hanya perlu bersabar menghadapinya, beliau memang seperti itu. Ya sudah, tunggu apa lagi?" "Benar tidak apa-apa?" "Jangan cemas! Tuan muda sedang ada meeting, diperkirakan sekitar satu jam lagi pertemuan dengan kliennya usai. Anda memiliki waktu selama kurang lebih tiga puluh menit untuk bersenang senang. Lepaskan beban di pundak anda, Nona! Bukankah berteriak di bawah derasnya hujan sedikit membuat sesak dalam d**a berkurang?" Alena mengangguk setuju dengan ucapan Evan," Terima kasih sekali lagi." "Sama-sama." Dia lekas mendorong pintu dari dalam lalu menghambur ke luar dengan cepat, tidak lupa Alena juga melepas flat shoes yang melekat pada kakinya, di susul melepas blazer hitam yang dikenakannya lalu menyimpan asal. Sekarang, Alena sedang benar-benar ada di tengah deras air hujan, tertawa riang membiarkan bebannya hilang dari kepala untuk sekejap terbawa arus deras hujan yang berjatuhan ke bumi. Dari jarak yang tidak jauh, Evan merogoh ponsel dari saku jas lalu bergegas mengarahkannya pada perempuan yang tengah asyik bermain air. Menyalakan fitur video, lalu mulai merekam kegiatan Alena yang saat ini sedang asyik berputar sembari menengadahkan kepala, kedua tangan itu merentang ke samping dengan posisi telapak tangan menghadap keatas. Tawanya juga begitu lepas sehingga memperlihatkan jika bahagia hanya perlu melakukan hal sederhana. Akhirnya, video singkat berdurasi sepuluh detik itu berhasil didapatkan. Kemudian ia menggerakkan ujung telunjuknya untuk mengirim video itu pada seseorang yang mungkin masih melakukan bargain dengan klien.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN