Tring!
Satu pesan masuk mengalihkan perhatian Morgan dari lawan bicaranya. Pria itu baru saja menyelesaikan meeting beberapa menit lalu, tetapi tidak langsung keluar sebab masih perlu berbicara dengan salah satu bawahannya terkait sesuatu.
"Sebentar." Dengan sigap ia merogoh saku celananya guna mengambil benda pipih yang tersimpan di dalam sana.
Evan? Video apa ini? Demi menumpas tuntas rasa penasaran, ujung ibu jarinya gegas mengetuk permukaan layar ponsel.
Morgan terpaku untuk beberapa saat, melihat di dalam video itu ia dapati sosok Alena tengah menari, memutar tubuh. Gadis yang memakai blouse navy tersebut tampak bertingkah seperti anak kecil, begitu ber euforia menikmati bermain di bawah air hujan. Tak dapat menafikan, jika wajah berkulit seputih salju sangat mengagumkan di atensi Morgan sehingga tanpa sadar membuat kedua sudut bibir itu spontan melengkungkan keatas.
Samar, nyaris tidak terlihat.
Sepersekian detik terpana, ia baru tersadar jika tindakannya tidaklah benar.
Bergegas kembali mengendurkan otot-otot pada pipinya, sejurus kemudian menyimpan lagi ponsel ke dalam saku celana.
Sialan, apa-apaan aku ini, untuk apa senyum saat melihatnya? Ini gila.
"Ekhem ... sampai di mana tadi? Kamu lanjutkan!" ujarnya pada sosok lawan bicara yang masih setia menunggu di sana.
Raga, lalu kedua netra memang terpaku pada pusat obrolan, tetapi tidak dengan pikiran yang masih memikirkan gadis itu. Kedua sisi berbeda saling berebut, di mana yang satu bersikap defensif, menyangkal jika pikirannya sedang tidak tertuju pada Alena, kemudian sisi yang lain seakan mendorongnya lebih untuk memikirkan gadis itu. Morgan kesal ketika otaknya seperti tengah mempermainkan dirinya.
Arghh ... Evan! Awas saja kamu! Secara harfiah, ini bukan salah Evan tapi salah sendiri yang terkesima oleh sosok istri pengganti. Bukankah, sangat konyol jika menjadikan Evan sebagai pihak tertuduh?
"Tuan? Bagaimana menurut Anda?"
"Apa?" Barulah Morgan menarik seluruh lamunan bawah alam sadarnya.
"Memformulasikan produk dengan kemasan baru agar semakin menarik minat calon konsumen."
"Lakukan saja! Aku hargai usulan dan usahamu."
Setelah mengatakan hal demikian, Morgan beranjak dari kursi meeting untuk bergegas ke ruangan sendiri.
Morgan mendesah, meniupkan napas melalui mulut karena hampir saja ketahuan karena tidak fokus menyimak. Bayangkan saja sebagai pemimpin perfeksionisme, yang selalu menerapkan sebuah integritas, tetapi dirinya justru menunjukkan sikap kurang baik. Itu tidak benar!
Kembali meraih ponsel dalam saku celana, Morgan lekas menghubungi Evan.
Jujur saja! Hal ini terus menggangu. Dengan tidak sabaran ia mondar-mandir sembari menyimpan ponsel di daun telinga.
"Kembali ke kantor sekarang!"
"Tapi, bagaimana dengan Nona?"
"Tinggalkan dia!" Panggilan terputus sepihak, Morgan benci ketika harus menyisipkan bayang Alena yang seharusnya tidak ada sama sekali dalam pikirannya. Bahkan untuk seujung kuku pun.
****
"Dasar, anak kecil!" Alena spontan menoleh ketika mendengar samar suara seseorang dari belakang punggungnya. Di tengah riuh jatuh air hujan, tetapi Alena bisa mengenal suara siapa itu.
"Morgan? Kok kamu–" Mata Alena mengedar ke segala sisi mencari keberadaan Evan. Tetapi, sosok laki-laki yang dicari tidak ada di tempat semula.
Ke mana perginya?
"Kenapa? Mencari Evan?" dipusatkan kembali tatapan pada sosok pria di depannya.
"Iya."
"Dia ada urusan. Dan karena sekarang aku sudah ada di sini, ayo, pulang! Jangan bertingkah seperti anak kecil yang kurang bahagia. Kamu tidak malu dengan usai yang sudah diatas kepala dua? Atau memang kamu tidak punya malu? Hmm," Alena menghela napas, kapan memangnya Morgan bisa bicara dengan benar? Setiap kali berbicara, pria itu selalu menggunakan kalimat-kalimat tersebut pedas. Sepertinya Morgan sudah ahli dalam bidang menyakiti perasaan orang lain dengan lidah tajamnya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Mau protes?" Alena leka menggeleng pelan, tentu saja dia tidak berani, bagaimana jika dia disuruh mengurung diri lagi?
Hah ... Alena benci ketidakberdayaan ini di hadapan Morgan.
"Cepat, pulang sekarang! Lihat! Aku jadi basah karenamu." Alena mencebikkan bibirnya, mencibir dengan mengikuti cara bicara Morgan dari belakang punggung pria yang sudah lebih dulu berjalan cepat menuju mobil tersebut.
Memang siapa yang menyuruh Morgan datang dan menghampirinya yang tengah asyik bermain hujan? pikir Alena kesal.
"Handuk!" Sesampainya di dalam mobil, embus AC langsung menerpa sekujur kulit Alena hingga meremang. Hal yang disadari oleh Morgan, pria tersebut lantas mematikan AC lalu bergegas meraih dan melempar handuk putih pasa Alena.
"Terima kasih, bagaimana denganmu? Kamu tidak pakai handuk?"
"Pakai saja dulu, baru sisanya aku." Alena tidak salah dengar? Morgan bersedia memakai handuk bekas pakai dirinya? Yang benar saja! Apa karena terkena air hujan, sikap diktatornya hilang terbawa air?
"Hei, cepatlah! Aku juga dingin." Alena mengerjap kemudian mengangguk. Dalam posisi mengusap rambut basahnya, Morgan menggerakkan mata melirik pada sosok gadis di sebelahnya, dia tidak tahu mengapa suka sekali melihat Alena dalam keadaan wajah yang polos seperti ini.
"Ini handuknya! Aku sudah selesai." Morgan menarik kembali seluruh kesadarannya, mengambil alih handuk yang diulurkan oleh Alena.
Sialan! Perasaan apa ini? Morgan mendesis kesal.
***
"Morgan?"
Morgan menoleh ke belakang lalu tersenyum pada sosok ibunya yang bertandang sembari membawa makanan untuknya. Terkadang jika dipikir-pikir Morgan sangat keterlaluan, dia merupakan pria matang dengan segala pencapaiannya, tetapi masih saja sering membuat ibunya kerepotan karena hal sepele seperti ini–meminta ibunya memasak masakan kesukaan.
"Sedang apa?" Diangkatnya cangkir keramik berwarna putih ke udara, menjawab secara nonverbal apa yang sedang ia lakukan sekarang.pada Hasna.
"Alena Mana?"
"Sedang di kamarnya. Terima kasih, ya. Sudah mau direpotkan olehku." Dibawanya cangkir yang sudah terisi oleh kopi mendekat pada sang ibu, kemudian mengambil satu buah kursi tepat di samping sang ibu.
"Hal itu sudah biasa bagi Mama. Oh ya, Mama dengar papamu datang dari New York. Lalu, dia mengundang keluarga untuk makan malam bersama."
Morgan yang hendak menyesap kopi hasil racikannya, lantas mengurungkan niat kemudian menoleh kasar pada Hasna.
Menyeringai tipis seraya menggeleng pelan, kembali ia arahkan tatapan pada cangkir yang masih bertahan di udara lalu mendekatkan pada permukaan bibir. Meminumnya.
"Apa ada kabar baik untukku sampai harus mengundang seluruh keluarga untuk makan malam? Biasanya setiap berkunjung ke tanah air, dia tidak pernah melakukan hal remeh-temeh seperti ini. Apa laki-laki tua itu mendadak sudah bertaubat dan berniat mengembalikan aset yang bukan miliknya?" Morgan terkekeh menanggapi ucapannya sendiri.
"Entahlah, Mama juga tidak tahu. Undangannya ada di laci meja kerja Mama."
"Siapa yang mengantarnya?"
"Daryl."
"Hmmm," sahutnya singkat lalu menyimpan kembali kopi hangat pada tatakan.
"Kamu akan datang?" Ia menghela napas mendapati pertanyaan Hasna, sebetulnya ia malas menghadiri acara makan malam seperti ini, malas karena harus bertatap muka dengan wajah-wajah buas dan maruk takhta.
Tetapi demi melancarkan aksi yang sudah di susun sebaik mungkin, tentu saja Morgan harus datang sembari menggandeng istrinya itu.
Bukankah, Mario akan terkejut melihat dirinya nanti yang tiba-tiba saja sudah memiliki istri?