Liza membuka matanya perlahan ,seketika matanya menyipit melihat seorang pria yang sedang terbaring disampingnya .
Ya , pria itu adalah suaminya , Joan Arkan Rivenno .Mata Liza mencari keseluruh arah , wanita itu merasa sangat aneh ketika melihat kearah jendela yang sudah gelap gulita .
" Kok sudah malam yah ? " Liza mengucap matanya takut matanya salah lihat .
Wanita itu melihat kearah meja rias .
" Tadikan berserakan dilantai " Gumamnya saat melihat skincare yang sudah dilemparkan oleh Joan kelantai kini masih terjejer dengan rapi diatas meja rias itu .
" Tanganku juga masih diinfus padahal tadi kan udah aku cabut " Gumamnya lagi setelah melihat infusan itu masih menempel ditangannya .
Liza memijat pelipisnya yang terasa pening , ia beberapa kali mengingat kejadian - kejadian tadi .
" Apa tadi cuma mimpi yah , perasaan pas aku bangun cuaca masih terang kok kalo bukan siang ya pasti sore " Liza berpikir dengan sangat keras mengingat kejadian tadi .
Jika seandainya bukan mimpi lalu mengapa keadaan dikamar ini jadi rapi seketika , lalu bagaimana dirinya bisa kembali terbaring disertai infusan yang menempel ditubuhnya .
" Apa mungkin Joan memukul kepalaku hingga aku kembali tak sadarkan diri " Pikir Liza .
" Ah gak mungkin " Liza menggeleng menepis kasar pikiran itu .
" Eh kamu udah bangun ? " Tanya Joan yang baru saja bangun dari tidurnya .
" Hmm " Jawab Liza seraya memandang aneh suaminya .
Joan mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk .
Pria itu menempelkan telapak tangannya dikening Liza .
" Apa demam kamu masih tinggi sayang ? " Tanya Joan dengan senyuman manisnya .
" Enggak " Jawab Liza singkat .
" Syukur deh , aku kaget banget , ngeliat kamu pingsan selama berjam - jam " Jelas Joan .
" Emang aku pingsan dari kapan ? " Tanya Liza memastikan .
" Kira - kira lebih dari 6 jam sayang, pokoknya semenjak aku ngebawa kamu dari rumah sakit " Jelas Joan
" Berarti pas siang aku nggak bangun yah? "
" Enggak sayang kamu gak sadarkan diri , bahkan dokter Ririn aja gak tau lagi gimana cara nyadarin kamu " Jawab Joan dengan muka sedihnya .
" Terus darimana kamu tau kalo aku kerumah sakit buat ngejenguk dilan? " Tanya Liza tanpa basa - basi .
" Mobil Yuna udah dipasangin GPS , makanya tadi Yuna ikut sama aku untuk nyari kamu "
" Apa kamu gak marah kalo aku ngejengukin Dilan ? "
Joan menggeleng seraya menampilkan senyum termanisnya " Enggak ngapain juga harus marah " Jawab Joan ,pria itu berusaha untuk tidak terlihat cemburu didepan Liza.
Bener kan , itu semua hanya mimpi .Joan tidak mungkin cemburu sampai memukulku seperti dimimpiku tadi .Batin Liza .
" Kamu tenang aja, keadaan Dilan sekarang udah membaik kok , dan setelah ia benar- benar pulih aku akan mengirimnya keluar negeri untuk mendapatkan perawatan terbaik disana " Ucap Joan yang membuat Liza seketika merasa sangat lega sekaligus bahagia .
Joan sebenernya tidak rela melakukan itu , tapi ia harus ikut bertanggung jawab karena sudah membuat Dilan menjadi seperti itu .Andai saja dirinya tidak merebut Liza dari Dilan mungkin penyakitnya tidak kambuh seperti sekarang ini .
Liza memeluk pria itu " Makasih , aku pikir kamu bakalan marah dan malah menceraikanku "
Joan membalas pelukan itu " Gak mungkinlah , aku kan udah kelewat bucin sama kamu hehehehe" Ucap Pria itu seraya terkekeh menyembunyikan rasa sakit di dadanya .
" Bisa aja kamu " Liza mencubit pinggang pria itu .
" Jahat yah kamu " Ucap Joan .
" Mending jahat daripada tukang gombal kek kamu " Liza mengeluarkan lidahnya mengejek Joan .
" Untung kamunya lagi sakit Li, kalo enggak udah aku bawa ke kamar mandi " Ancam Joan dengan senyum mesumnya .
" Emangnya kamu mau ngapain aku dikamar mandi hah ? Pengen ngelecehin aku lagi yah ? " Tanya Liza seraya menyipitkan sebelah matanya .
" Idih emang kapan aku ngelecehin kamu Li ? "
" Sejak pertemuan pertama kita , saat kita bikin sidedek " Liza menunjuk kearah perutnya .
" Itu bukan pelecahan kali Li "
" Terus apa ? "
" Pemerkosaan " Jawab Joan tanpa rasa berdosa.
" Kamvret " Ucap Liza dengan nada kesalnya .Wanita itu mencubit perut Joan dengan sangat keras membuat Joan meringis kesakitan.
" Udah nyubitnya sayang tangan kamu masih diinfus entar malah lepas lagi " Joan berusaha melepaskan tangan Liza yang masih setia mencubit perut sixpack nya .
" Yaudah kasian entar roti sobek kamu malah berkurang satu " Celoteh Liza yang membuat Joan mengacak rambut istrinya dengan gemas .
" Mending kamu istirahat lagi , besok mamah dan papah bakalan ngejenguk kamu " Titah Joan .
" Emangnya mereka tau kalo aku sakit ? " Liza membulatkan matanya .
" Iya mereka udah aku kasih tau ,malahan mamah hampir pingsan saat dengar kamu lagi sakit " Ucap Joan .
" Serius , kenapa malah kamu kasih tau sih " Liza mulai kesal dengan perilaku suaminya itu .
" Soalnya aku takut ada apa - apa , makanya aku kasih tau "
" Tapi kan aku cuman pingsan " Ucap Liza .
" Yang tidur aja bisa langsung meninggal Li , apalagi kamu yang pingsan berjam - jam " Jawab Joan .