Hanya Mimpi

878 Kata
Liza membuka matanya perlahan ,seketika matanya menyipit melihat seorang pria yang sedang terbaring disampingnya . Ya , pria itu adalah suaminya , Joan Arkan Rivenno .Mata Liza mencari keseluruh arah , wanita itu merasa sangat aneh ketika melihat kearah jendela yang sudah gelap gulita . " Kok sudah malam yah ? " Liza mengucap matanya takut matanya salah lihat . Wanita itu melihat kearah meja rias . " Tadikan berserakan dilantai " Gumamnya saat melihat skincare yang sudah dilemparkan oleh Joan kelantai kini masih terjejer dengan rapi diatas meja rias itu . " Tanganku juga masih diinfus padahal tadi kan udah aku cabut " Gumamnya lagi setelah melihat infusan itu masih menempel ditangannya . Liza memijat pelipisnya yang terasa pening , ia beberapa kali mengingat kejadian - kejadian tadi . " Apa tadi cuma mimpi yah , perasaan pas aku bangun cuaca masih terang kok kalo bukan siang ya pasti sore " Liza berpikir dengan sangat keras mengingat kejadian tadi . Jika seandainya bukan mimpi lalu mengapa keadaan dikamar ini jadi rapi seketika , lalu bagaimana dirinya bisa kembali terbaring disertai infusan yang menempel ditubuhnya . " Apa mungkin Joan memukul kepalaku hingga aku kembali tak sadarkan diri " Pikir Liza . " Ah gak mungkin " Liza menggeleng menepis kasar pikiran itu . " Eh kamu udah bangun ? " Tanya Joan yang baru saja bangun dari tidurnya . " Hmm " Jawab Liza seraya memandang aneh suaminya . Joan mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk . Pria itu menempelkan telapak tangannya dikening Liza . " Apa demam kamu masih tinggi sayang ? " Tanya Joan dengan senyuman manisnya . " Enggak " Jawab Liza singkat . " Syukur deh , aku kaget banget , ngeliat kamu pingsan selama berjam - jam " Jelas Joan . " Emang aku pingsan dari kapan ? " Tanya Liza memastikan . " Kira - kira lebih dari 6 jam sayang, pokoknya semenjak aku ngebawa kamu dari rumah sakit " Jelas Joan " Berarti pas siang aku nggak bangun yah? " " Enggak sayang kamu gak sadarkan diri , bahkan dokter Ririn aja gak tau lagi gimana cara nyadarin kamu " Jawab Joan dengan muka sedihnya . " Terus darimana kamu tau kalo aku kerumah sakit buat ngejenguk dilan? " Tanya Liza tanpa basa - basi . " Mobil Yuna udah dipasangin GPS , makanya tadi Yuna ikut sama aku untuk nyari kamu " " Apa kamu gak marah kalo aku ngejengukin Dilan ? " Joan menggeleng seraya menampilkan senyum termanisnya " Enggak ngapain juga harus marah " Jawab Joan ,pria itu berusaha untuk tidak terlihat cemburu didepan Liza. Bener kan , itu semua hanya mimpi .Joan tidak mungkin cemburu sampai memukulku seperti dimimpiku tadi .Batin Liza . " Kamu tenang aja, keadaan Dilan sekarang udah membaik kok , dan setelah ia benar- benar pulih aku akan mengirimnya keluar negeri untuk mendapatkan perawatan terbaik disana " Ucap Joan yang membuat Liza seketika merasa sangat lega sekaligus bahagia . Joan sebenernya tidak rela melakukan itu , tapi ia harus ikut bertanggung jawab karena sudah membuat Dilan menjadi seperti itu .Andai saja dirinya tidak merebut Liza dari Dilan mungkin penyakitnya tidak kambuh seperti sekarang ini . Liza memeluk pria itu " Makasih , aku pikir kamu bakalan marah dan malah menceraikanku " Joan membalas pelukan itu " Gak mungkinlah , aku kan udah kelewat bucin sama kamu hehehehe" Ucap Pria itu seraya terkekeh menyembunyikan rasa sakit di dadanya . " Bisa aja kamu " Liza mencubit pinggang pria itu . " Jahat yah kamu " Ucap Joan . " Mending jahat daripada tukang gombal kek kamu " Liza mengeluarkan lidahnya mengejek Joan . " Untung kamunya lagi sakit Li, kalo enggak udah aku bawa ke kamar mandi " Ancam Joan dengan senyum mesumnya . " Emangnya kamu mau ngapain aku dikamar mandi hah ? Pengen ngelecehin aku lagi yah ? " Tanya Liza seraya menyipitkan sebelah matanya . " Idih emang kapan aku ngelecehin kamu Li ? " " Sejak pertemuan pertama kita , saat kita bikin sidedek " Liza menunjuk kearah perutnya . " Itu bukan pelecahan kali Li " " Terus apa ? " " Pemerkosaan " Jawab Joan tanpa rasa berdosa. " Kamvret " Ucap Liza dengan nada kesalnya .Wanita itu mencubit perut Joan dengan sangat keras membuat Joan meringis kesakitan. " Udah nyubitnya sayang tangan kamu masih diinfus entar malah lepas lagi " Joan berusaha melepaskan tangan Liza yang masih setia mencubit perut sixpack nya . " Yaudah kasian entar roti sobek kamu malah berkurang satu " Celoteh Liza yang membuat Joan mengacak rambut istrinya dengan gemas . " Mending kamu istirahat lagi , besok mamah dan papah bakalan ngejenguk kamu " Titah Joan . " Emangnya mereka tau kalo aku sakit ? " Liza membulatkan matanya . " Iya mereka udah aku kasih tau ,malahan mamah hampir pingsan saat dengar kamu lagi sakit " Ucap Joan . " Serius , kenapa malah kamu kasih tau sih " Liza mulai kesal dengan perilaku suaminya itu . " Soalnya aku takut ada apa - apa , makanya aku kasih tau " " Tapi kan aku cuman pingsan " Ucap Liza . " Yang tidur aja bisa langsung meninggal Li , apalagi kamu yang pingsan berjam - jam " Jawab Joan .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN