Pagi ini Liza dan Dilan sedang bergegas menuju rumah kedua orang tua Dilan yang jaraknya lumayan jauh, setidaknya akan menghabiskan waktu 4 jam untuk tiba dikota itu .
Didalam mobil Liza hanya melamun memikirkan keadaan pria yang tadi subuh ia tinggalkan dirooftop sendirian .Ia takut jika pria itu sangat marah karena dirinya tak menepati janjinya untuk menjadi seorang teman bagi Joan .
Sebenarnya Liza ingin sekali berteman dengan pria sejenis Joan yang selalu berpikiran dewasa dan selalu memandang jauh ke depan , namun ia takut hubungannya dengan Joan justru membawa dampak buruk bagi keluarga Rivenno akibat ulah kedua orang tuanya sendiri.
" Lo kenapa Li ? " Tanya Dilan yang sedari tadi memperhatikan wanita disampingnya itu termenung dengan ekspresi bingungnya .
Liza tersadar dari lamunannya dengan cepat ia menoleh ke arah sumber suara " Gue gak kenapa - kenapa kok lan, cuman ngerasa pusing aja "
Dilan mengernyitkan dahinya , ia tak mempercayai omongan wanita itu , Liza yang ia kenal adalah orang yang sudah terbiasa dengan perjalanan jarak jauh .
" Ke Amerika aja yang waktu tempuhnya lama Lo kuat Li , masa kerumah orang tua gue yang cuman memakan waktu 4 jam Lo gak kuat Li ?" Tanya Dilan memecahkan rasa penasarannya.
" Gue juga gak tau lan , kepala gue mendadak pusing tiba - tiba " Jawab Liza seraya memijat keningnya pelan layaknya orang yang sedang merasa pusing.
Dilan menatap wanita itu dengan nanar , kali ini ia mulai mempercayai omongan wanita itu .
" Belakangan ini apa jadwal Lo padat banget li? "
Liza mengangguki ucapan Dilan " Lumayan sih , soalnya gue harus syuting hampir tiap hari akibat sutradara didrama yang gue peranin ingin mempercepat penayangan drama , katanya sih sutradaranya pengen langsung menggarap drama baru saat proyek itu selesai"
Mendengar penjelasan dari Liza , Dilan menggeleng - gelengkan kepalanya tak mengerti lagi dengan wanitanya itu yang selalu tak memikirkan dirinya sendiri dan lebih memilih terus bersikap profesional dalam bekerja .
" Li ,Lo itu bisa gak sih ngeluangin waktu untuk sekedar beristirahat bentar aja ? Lagian duit Lo juga kan udah banyak ngapain coba kerja sekeras itu? "
Liza membuang pandangannya kearah jendela mobil " Yang punya banyak duit itu kedua orang tua gue Lan bukan gue .Gue harus kerja sekeras itu karena gue gak pengen bergantung sama mereka lagi " Jawab Liza dengan nada kecewanya .
Dilan terdiam sejenak , kini ia mengerti dengan alasan Liza melakukan hal itu .Mungkin saja kedua orang tuanya akan membuang anak semata wayangnya itu jika Liza tak menuruti satu hal pun yang mereka perintahkan .
" Yaudah kalo Lo pusing , mending tidur aja Li gue bakal bangunin Lo saat udah sampai ! " Titah Dilan yang langsung dituruti oleh Liza , wanita itu langsung memejamkan matanya , karena ia pun merasa ngantuk karena jam tidur malamnya telah dihabiskan sebagian untuk mengobrol dengan Joan .
Kini suasana dalam mobil seketika hening , Liza yang sudah terlelap dengan mimpinya sementara Dilan yang tetap fokus menyetir tanpa mengeluarkan sepatah katapun karena ia tak ingin menganggu Liza yang sudah tertidur .
4 jam pun berlalu , saat ini mobil yang sedang mereka tumpangi sudah terparkir rapi disebuah rumah sederhana namun terlihat sangat indah karena rumah itu dipenuhi oleh berbagai macam bunga yang sudah ditata dengan rapi oleh ibu dilan .
Liza langsung keluar dari mobil dengan muka bantalnya , ia berulang kali menguap karena rasa kantuk masih saja menyerangnya.
Dilan memapah Liza yang nyawanya belum terkumpul sempurna , keduanya langsung mengetuk rumah itu dengan pelan .
Tok tok tok..
" Assalamualaikum Ayah , Bunda " Dilan mengetuk pintu itu berkali kali karena belum mendapat jawaban apapun dari dalam sana .
" Mereka ada dirumah kan ? " Tanya Liza, wanita itu takut keluarga Dilan tak berada dirumah saat ini , karena Dilan tak memberi tahu terlebih dahulu bahwa mereka berdua akan berkunjung kesini hari ini .
" Mereka jarang keluar rumah kok Li , kecuali kalo ada acara keluarga "
Liza membentuk mulutnya seperti huruf O " Ooh mungkin mereka lagi didapur kali makanya gak kedengeran " Ucap Liza , wanita itu langsung menukar posisinya yang tadinya berdiri dibelakang Dilan menjadi didepan pria itu .
Kini Liza mulai mengambil alih untuk mengetuk pintu rumah itu .
Tok ..tok...tok...
"Assalamualaikum Tante ,om ini Liza "
Hanya dengan satu ketukan , seseorang dari dalam sana langsung membuka pintu itu dengan ekspresi sangat gembira .
Wanita paruh baya itu langsung memeluk Liza kegirangan " Ya ampun si cantik gak ngabarin Tante kalo mau datang kesini , kalo tante tau pasti Tante bikinin makanan kesukaan kamu "
Ucap Renata yang sudah sangat akrab dengan Liza layaknya hubungan antara seorang ibu dan putrinya .
Dilan hanya mendelik mendengar pertunjukkan itu , ia merasa kesal karena dirinya benar - benar diabaikan saat ini .
" Hmm, Liza doang nih yang disapa .Kalo Dilan udah dilupain yah Bu? " Sinis Joan yang langsung mengalihkan perhatian ibunya itu , dengan sigap Renata langsung beralih memeluk putra sulungnya itu .
" Ya ampun anak ibu yang paling ganteng ini , kok gak ngabarin sih kalo kamu mau membawa calon istri kamu kerumah ini ? "
" Liza gak mau kalo ibu tau kalo kita mau datang hari ini , soalnya dia gak mau kalo ibu repot - repot masakin sesuatu " Jelas Dilan kepada ibunya itu .
Renata menatap Liza dengan memasang wajah cemberutnya " Kamu gak ngerepotin Tante kok Li , lagian Tante seneng banget kalo kamu datang kesini , lain kali kalo kamu mau kesini pokoknya bilang dulu sama Tante yah ! "
Liza mengangguki ucapan Renata dengan senyuman yang terus melekat pada wajah cantiknya .
" Yaudah masuk yuk ! " Renata langsung menggandeng tangan Liza memasuki rumah itu diikuiti oleh Dilan dibelakangnya .
Kini mereka sudah berada diruang tamu , Liza langsung duduk disalah satu sofa yang berada disebelah Dilan .
" Li , kamu disini dulu yah sama Dilan. Tante mau ngambil sesuatu dulu " Pamit Renata yang baru saja melenggang pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Liza dan Dilan .
Liza memang sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti ini dari Renata , ia sudah beberapa kali datang kesini , keluarga Dilan memang selalu memperlakukannya dengan baik , saat berada di keluarga ini Liza benar benar dapat merasakan rasa kasih sayang yang lebih besar dibandingkan dari yang diberikan oleh kedua orang tuanya sendiri .