1. Awal mula
"Kamu menyuruhku menikahi gadis koma?" tanya Sagara tidak menyangka dengan apa yang baru saja sahabatnya -Darren katakan. Darren meminta Sagara menikahi gadis yang sudah hampir empat bulan koma di rumah sakit.
Beberapa hari lalu Sagara meminta solusi pada Darren mengenai hotelnya yang sedang mengalami masalah keuangan, tidak disangka Darren memberikan solusi gila semacam itu.
Sagara sudah memiliki kekasih dan Sagara sangat mencintai kekasihnya. Sagara tidak mungkin menikahi perempuan lain hanya demi menyelamatkan hotel keluarganya yang sedang berada diambang kebangkrutan.
"Ya, cuma ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan hotelmu," jawab Darren tenang.
Darren ingin sekali membantu Sagara, tapi Darren bukan berasal dari keluarga kaya dan keuangannya juga tidak begitu baik. Ini satu-satunya cara yang bisa Darren lakukan untuk membantu Sagara.
"Aku sudah memiliki kekasih," ucap Sagara mengingatkan barangkali Darren melupakan hal itu.
Sagara sudah memiliki kekasih. Darren juga pasti mengetahui seberapa besar cinta Sagara untuk kekasihnya. Sagara tidak mungkin mengkhianati kekasihnya hanya demi menyelamatkan hotelnya.
"Aku tahu," sahut Darren cepat, "tapi apa kekasihmu itu akan bertahan jika kamu sudah tidak memiliki apapun lagi nanti?"
"Aku yakin Rosi-"
"Rosi wanita yang realistis, dia tidak akan bertahan denganmu hanya karena mencintaimu, Sagara!" ucap Darren menyela Sagara.
Darren yakin cepat atau lambat Rosiana akan meninggalkan Sagara jika Rosiana mengetahui kondisi keuangan Sagara saat ini.
Rosiana kekasih Sagara adalah wanita yang suka hidup dalam kemewahan. Rosiana pasti tidak akan mau diajak susah oleh Sagara.
Apalagi, Sagara tidak memiliki usaha apapun lagi selain hotel yang orang tuanya tinggalkan untuknya.
"Aku yakin Rosi tidak seperti itu," Ucap Sagara menyangkalnya.
Sagara mengenal Rosiana dengan sangat baik. Kekasihnya tidak akan meninggalkannya hanya karena bangkrut. Sagara yakin itu.
"Aku mengenal Rosi lebih baik dari siapapun, aku percaya Rosi tidak akan meninggalkanku hanya karena aku jatuh miskin," Tegasnya.
Darren menganggukkan kepala. Seolah mengerti yang sedang Sagara katakan.
"Baiklah, anggap saja Rosi tidak akan pernah meninggalkanmu," Darren mengambil cangkir kopi diatas meja dan meminumnya sedikit sebelum kembali bicara.
"Tapi apa kamu rela kehilangan hotel peninggalan orang tuamu?" Tanya Darren.
Sagara mengusap wajah kasar mendengar itu. Sagara tentu tidak akan rela kehilangan satu-satunya peninggalan orang tuanya, tapi Sagara juga tidak mungkin menikahi gadis koma itu.
Sagara tidak mungkin mengkhianati kekasihnya hanya karena tidak ingin kehilangan satu-satunya peninggalan orang tuanya.
"Apa tidak ada syarat lain? kenapa aku harus menikahi gadis yang sedang koma?" tanya Sagara tidak habis pikir.
Jika memang bos Darren bisa membantu Sagara, kenapa harus dengan syarat seperti itu? tidak bisakah meminta syarat yang lebih masuk akal?
"Karena tuan Arya ingin mengabulkan keinginan terakhir cucunya," Jawab Darren.
Well, orang yang menawarkan bantuan pada Sagara adalah Arya Adyatama Queen, founder Queen corp.
Cucu Arya sudah koma selama kurang lebih empat bulan dan belum ada tanda-tanda akan sadar.
Sebagai kakek yang sangat menyayangi cucunya, Arya ingin mengabulkan salah satu impian cucunya, yaitu menikah dengan pria tampan sebelum meninggal.
Kebetulan sekali Darren memiliki teman tampan yang sedang membutuhkan bantuan dana, sehingga Arya berpikir untuk menikahkan teman Darren dengan cucu kesayangannya.
Arya berharap cucunya sadar, tapi jika kemungkinan terburuk terjadi dan Arya kehilangan cucunya, setidaknya Arya sudah mewujudkan impian sang cucu.
"Maksud kamu?" Tanya Sagara tidak mengerti yang sedang Darren bicarakan.
Apa sebenarnya yang cucu Tuan Arya itu inginkan sampai Sagara harus menikahinya?
Darren tidak langsung menjawab dan kembali menyeruput kopinya.
"Cucu Tuan Arya ingin menikah dengan pria tampan sebelum meninggal," Jelas Darren setelah menelan kopi di mulutnya.
Sagara dibuat tidak percaya dengan alasan dirinya harus menikahi gadis koma yang sekarang masih berbaring di rumah sakit.
"Haha, gila!" Sagara menjambak sendiri rambutnya untuk mengungkapkan betapa frustasinya dia mengetahui alasan Tuan Arya memintanya menikahi cucunya.
Karena cucu Founder Queen Corp itu ingin menikah dengan pria tampan sebelum meninggal?! apakah itu masuk akal?
"Tuan Arya merasa sudah kehilangan harapan atas kesembuhan cucunya," ucap Darren berharap Sagara bisa menerima tawaran darinya.
Darren mengenal dengan baik cucu Tuan Arya, Kiara. Selain parasnya yang cantik, Kiara juga memiliki kepribadian yang hangat. Sangat cocok untuk Darren yang cuek dan berkepribadian lurus.
"Aku tidak akan memaksamu, tapi aku sarankan untuk memikirkan kembali tawaran dariku," Darren meletakkan cangkir kopi di tangannya kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Aku minta maaf karena sebagai sahabatmu aku tidak bisa membantumu lebih dari ini."
Darren berniat untuk pamit pergi, tapi ucapan Sagara menahannya.
"Separah apa keadaan gadis itu?" tanya Sagara menahan Darren pergi.
Darren menatap Sagara. Sepertinya sahabatnya itu mulai tertarik dengan tawarannya.
"Kamu bisa melihatnya sendiri ke rumah sakit kalau kamu mau," ucap Darren menjawab pertanyaan Sagara.
Darren tidak bisa menjelaskan separah apa kondisi Kiara, biarkan Sagara melihatnya sendiri dan menyimpulkan bagaimana keadaan gadis itu.
"Kalau begitu antar aku ke rumah sakit," Pinta Sagara.
Sagara belum memutuskan untuk menerima tawaran Tuan Arya, tapi Sagara ingin melihat dulu keadaan cucu Tuan Arya yang katanya koma itu.
Dalam situasi seperti ini, entah kenapa Sagara berharap keadaan gadis itu parah dan hidupnya di dunia tidak lama lagi.
Memang jahat mengharapkan seseorang yang sedang bertaruh nyawa meninggal, tapi andai saja Sagara bisa menemukan jalan keluar lain, Sagara juga tidak akan pernah mengharapkan itu.
"Kamu berencana menerima tawaran Tuan Arya jika keadaannya parah?" tebak Darren tepat sasaran.
Orang lain pun pasti akan berpikiran sama melihat Sagara tiba-tiba menanyakan keadaan cucu Tuan Arya seperti ini.
"Apa aku salah?" bukannya menjawab, Sagara justru melemparkan pertanyaan pada Darren.
Sagara ingin tahu bagaimana pendapat Darren tentang keputusan yang akan dirinya ambil.
Darren mengangkat bahunya, "entahlah, mungkin salah mungkin juga tidak."
Darren kemudian menghela nafasnya sejenak sebelum kembali bicara.
"Aku hanya takut kamu menerima karma jika salah mengambil keputusan," Darren mengamati setiap perubahan di wajah Sagara setelah dirinya mengatakan itu.
Sebagai sahabat, Darren tentu tidak ingin Sagara salah mengambil keputusan dan berakhir menyesal.
Darren memang yang menyarankan Sagara untuk menikahi Kiara, tapi Darren tidak berniat memaksa. Semua keputusan ada pada Sagara.
"Tapi ya sudahlah. Ayo, aku antar kamu melihat keadaan nona Kiara."
Darren berbalik dari Sagara dan berjalan kearah pintu di ruangan itu. Darren sangat menghargai keputusan Sagara dan akan mendukung apapun keputusannya. Meskipun itu artinya Darren harus mendukung Sagara menikahi Kiara hanya untuk kepentingan pribadinya saja.
"Aku juga takut salah mengambil keputusan, tapi setiap keputusan ada konsekuensi," gumam Sagara menatap punggung Darren sebelum akhirnya mengikuti sahabatnya itu.