Jika semua kejadian beralasan maka, seharusnya dalam suatu kemenangan seseorang akan mendapatkan hasil pencapaian, seharusnya dalam setiap kegagalan pun akan ada pelajaran yang bisa diambil. Namun saat ini, yang ada hanya lah perih. Andai setiap orang tahu alasannya terlahir ke dunia, maka Jonathan akan tahu ia hadir untuk apa dan siapa.
Pada abad 18 ia terlahir sebagai Jonathan Mason yang begitu mencintai gadis bangsawan bernama Nathaline Owen, pada abad 21 ia terlahir kembali sebagai Jonathan malang yang juga jatuh cinta pada gadis yang sama. Perihnya perasaan Jonathan Mason juga ikut di rasakan olehnya. Menjalani hari saja sudah sulit, bernapas saja sudah berat, di tambah kalang kabut tentang perasaan dan berbagai masalah hidup Nathaline Owen beserta keluarganya.
Jonathan menghela napas panjang, ujung sepatunya kini telah menyentuh sebuah pintu, lantas suara nyaring pintu itu terdengar dan sosok Lord Morris duduk di meja kerjanya tak luput dari pandangan Jonathan. Hanya ada suara sepatu Jonathan sampai ia tepat berdiri di hadapan Lord Morris seraya menyodorkan berkas-berkas bukti keterlibatan Lord James dalam khasus penggelapan dana.
Lord Morris membuka lembar per lembar berkas yang dibubuhi gambar kejadian saat Lord James memberi uang pada seorang pria kaya bernama Johanson pemilik pertambangan terkemuka di inggris. Uang itu, adalah uang yang diberikan Lord Morris untuk memperbaiki mansion sang mertua saat diacak-acak Lord Davis, sebagian uang yang diberikannya untuk kerja sama, sebagian lagi sebagai hadiah untuk Nathaline, sebagian lainnya sebagai pemungutan pajak illegal, dan sebagian lagi hasil dari pencurian kas yang disimpan Lord Morris di ruang kerjanya beberapa hari lalu.
"Aku tahu ia yang mencuri kas ku, namun aku menyembunyikan itu sebab ia mertua ku—sebodoh itu diriku." Lord Morris tertawa miris, ia jatuhkan punggungnya menyandar pada kepala kursinya yang empuk.
"Ia tengah berencana mengambil sebagian usahamu di Skotlandia saat ini," tutur Jonathan, ia mengetahui hal tersebut dalam catatan Jonathan Mason. Namun ia tidak mungkin memberikannya pada Lord Morris, sebab terdapat curahan hatinya mengenai Nathaline disana, jadi ia hanya memberitahu hal-hal yang perlu diketahui His Grace nya saja.
"k*****t!" umpat Lord Morris, dengan sengaja secangkir beer di atas meja jatuh ke lantai oleh tangannya.
"Kita tidak mungkin membiarkannya terus seperti ini, Your Grace. Sebelum usahamu ia ambil alih, sebaiknya kita bertindak—apapun statusnya dalam kehidupanmu," saran Jonathan.
"Aku berencana menemui Lord Davis, mungkin tidak mudah membuatnya bekerja sama denganku, mengingat aku adalah saingannya atas Nathaline. Namun lewat berkasmu, aku tahu ia juga mengalami kerugian yang besar."
"Apa perlu kita kirim surat undangan padanya?" tanya Jonathan, yang langsung mendapat anggukan persetujuan Lord Morris.
"Kalau begitu, aku pamit ke ruanganku." Jonathan menunduk memberi hormat lantas berbalik menuju pintu keluar setelah ia rasa masalahnya telah mendapatkan titik terang, namun, "Jo.." panggil Lord Morris, Jonathan membalikan tubuhnya kembali dan membungkuk sekali lagi.
"Saat Nathaline tersadar kembali dari tidur panjangnya. Aku ingin melihatnya bahagia. Bisa kah kau berjanji padaku untuk membahagiakannya—jika ku lepas dirinya.?"
Refleks Jonathan mematung di tempat, “m..maksudmu, Your Grace?”
***
Angin malam berhembus dengan kencang, wanita di tengah ladang yang dipenuhi ilalang tampak tak menghentikan pacuan pada kudanya yang berlawanan arah angin. Jubah hitamnya bergolak tertiup angin, terkadang penutup kepalanya pun menghalangi pengelihatan namun, lagi-lagi itu tidak bisa menghentikannya.
Lima belas kilometer jauhnya, iapun berhenti di depan sebuah gubuk satu-satunya yang berada di sana. Turun dari kuda, lantas ia ikat kuda cokelatnya pada sebuah tiang sementara ia masuk kedalam gubuk tersebut. Ada sebuah tirai transparan berwarna merah saat pertama kali pintunya dibuka. Wanita itu pun maju tanpa ragu dan menyibak tirainya.
"Satu tahun yang lalu, kau datang kemari meminta obat untuk kesembuhan Lady Owen saat sakit. Hari ini, tampaknya kau menginginkan kematiannya, Anna Baren?" Wanita dalam kursi itu tersenyum miring pada sosok yang ternyata pelayan pribadi dari putri Lord James tersebut.
"Aku, hanya ingin tahu apa penyebabnya tidak sadarkan diri selama ini, Madam Joice." ujar Anna, tanpa basa-basi.
"hmm." Madam Joice berdehem pelan, lantas seringai itu Anna lihat sebelum Madam satu ini beranjak dari tempat duduknya.
"Yang ada di Rutland hanya lah raga tanpa nyawa, nyawanya terpental ke abad 21." Wanita berpakaian glamour dengan dandanan tebal serta pernak pernik yang semakin menunjukan identitasnya sebagai cenayang ini begitu memiliki aura misterius yang pekat.
"Apa? kenapa bisa seperti itu?!" tanya Anna yang merasa tidak percaya.
"Ada portal di sana yang terhubung bersama benda dari masa depan. Kau hanya manusia bodoh, mana mungkin kau mampu mengerti hal-hal seperti ini." Madam Joice berjalan pada setiap sisi rumah dengan sampul gubuk namun nyatanya di dalam sini begitu luas dan cukup layak untuk ditinggali. Ia menyalakan pematik dan membuat penerangan lebih pada ruangannya dengan menggunakan lilin.
"Aku—mencintai Jonathan Mason," tutur Anna tiba-tiba.
"Dan kau ingin saingan terberatmu tiada? hahah sering kali orang-orang sepicik dirimu datang padaku.” Madam Joice tertawa merendahkan.
"Aku akan membagi sebagian pemberian dari Lord James padaku," ujar Anna, dan Madam Joice yang tengah meniup pematiknya lantas menyeringai penuh arti.
"Baiklah, kematian seperti apa yang kau inginkan?"
"Jika benar hal mustahil yang kau sebutkan tadi mengenai masa depan, aku ingin ia tidak pernah kembali ke sini,” pinta Anna.
"Alih-alih menyiksanya terlebih dahulu?" tawar Madam Joice, ia lantas duduk kembali di kursinya dan memperhatikan kuku-kuku tangannya dengan sedikit angkuh.
"Cukup bagiku ia tidak hidup di dunia yang sama denganku!" tegas Anna, kedua tangannya mengepal dengan kuat. Madam Joice untuk kesekian kalinya menyeringai, sering sekali ia mengatasi masalah dalam percintaan tak ubahnya cerita yang dialami oleh Anna bersama tangan kanan dari Duke of Rutland ini. “Melihat semua wanita yang datang menemuiku untuk mengatasi hal semacam ini, aku rasa aku tidak pernah sendirian.”
“Apa maksudmu, Madam?” tanya Anna, tidak mengerti.
“Masing-masing dari kita hanyalah korban—dari cinta bertepuk sebelah tangan.” Anna tak bersuara setelah mendengarkan penuturan Madam Joice, namun wanita itu paham perasaan Anna saat ini.
Perasaan itu sama seperti perasaan dirinya ketika berusia duapuluh. Ketika usia mengharuskannya memiliki pendamping hidup, sedang ia terjebak pada satu pria yang bahkan sebenarnya tidak pernah menganggap dirinya spesial sedikitpun. Bagaimana semua tentangnya diabaikan, bagaimana berkali-kali hati ditempa berton-ton rasa sakit ketika harus menerima kenyataan bahwa orang yang kita harapkan alih-alih menaruh harap pada wanita lain.
Rasa sakit itu berubah menjadi keinginan sinting mencelakai wanita dari pria tersebut, lantas berpikir bahwa mungkin saja jika ia mencelakai wanita ini, jika wanita ini tiada—mungkin pria tersebut akan datang kepadanya. Namun tak pernah semudah itu, semua tidak akan mudah berjalan sesuai rencana. Madam Joice tak pernah menyalahkan, tidak pernah sekalipun menganggap kemampuannya menyimpang. Sepenuhnya ia mempercayai pekerjaannya ini, toh iapun pernah melakukan hal yang sama seperti Anna ketika ia muda dulu, namun melihat banyak wanita mendatanginya untuk hal serupa, sebenarnya Madam Joice cukup iba. Mereka tahu mereka akan gagal, bahwa mereka yang akan terluka, semuanya akan berakhir sia-sia, tapi masih mau melakukannya.
Sebab sekuat apapun untuk dikejar, sebanyak apapun usaha dilakukan, seperti apapun kau berusaha menjadi, sehebat apapun magic—tidak akan pernah mampu menyaingi garis yang disebut takdir.
Setelah menimbang-nimbang Madam Joice pun akhirnya berkata, "Ada ruangan kosong yang memiliki sebuah gua kecil di mansion Lord Morris. Keberadaannya saja sudah mencurigakan, bukan? itu portalnya. Tutup portalnya maka, cara apapun yang ia lakukan di masa depan agar bisa kembali akan berakhir sia-sia." Anna tertegun, ia mendapatkan kuncinya. Ini adalah akhir dari segala penderitaan, perbandingan sosial, dan kisah cinta yang ia yakini jika Nathaline Owen tiada maka Jonathan Mason akan menjadi miliknya sepenuhnya.