Dating (?)

1218 Kata
[Kepingan Memori 5] Nathaline mengendap keluar dari mansion Lord Morris dengan jubah hitamnya di siang hari itu. Ia berhasil melewati beberapa penjaga tanpa kendala apapun hingga keluar dari gerbang besar mansion tersebut. Menyadari dirinya berhasil keluar dari kastil sang Lord membuatnya berlari dengan cepat ingin segera menjauhi tempat tersebut sebelum ada seseorang yang memergoki Duchessnya kabur dari mansion. Di perempatan jalan yang cukup jauh dari mansion, ia menghentikan sebuah kereta kuda dan masuk kedalam kereta tersebut. Napas Nathaline memburu dengan cepat, ia melepas tudung pada jubahnya dan membuka kembali secarik kertas yang sedari tadi memang sudah berada dalam genggaman tangannya. Terdapat sebuah alamat di dalam secarik kertas tersebut sebelum dirobeknya menjadi serpihan yang begitu kecil. Kereta melintasi pepohonan yang berjajar, dengan cahaya mentari yang menerobos diantara sela sela daun yang bergoyang hingga terhenti tepat didekat sebuah danau sepi yang hanya terdapat beberapa ekor angsa berenang, tumbuhan berbunga, dan seorang pria. Mendengar suara kereta kuda mendekat membuat pria tersebut memalingkan padangannya dari danau tersebut. Pria itu tersenyum pada si penunggang kereta sebelum ia mendapati Nathaline keluar dari keretanya dan berlari ke arahnya. Sebuah ciuman hangat, beriringan dengan berlalunya kereta penghantar sang Duchess ke tempat tersebut. Semilir bayu menuntun helaian rambut Nathaline untuk menari, tangan kanannya terangkat menyibak ke sisi kanan sebab mengganggu, namun Jonathan Mason—pria si pengirim pesan dengan sigap menyikap helaian rambut Nathaline ke belakang telinganya. Nathaline tersenyum, membawa serta netra sebiru lautnya beralih menjadi sabit. “Sebelum kau tiba, aku telah menyewa rakit pada seorang paman.” Nathaline tergelak mendengarnya, “jadi maukah kau menaikinya denganku?” Jonathan yang kali ini berdecak, sebab seharusnya pertanyaan ini keluar dari mulutnya. “Apa kau memang wanita yang agresif, Your Grace?” tanya Jonathan seraya menuntun Nathaline menaiki rakit sewaannya. “Mungkin kau bisa memanggilku, My Grace?” Jonathan lagi-lagi berdecak, Nathaline adalah wanita paling agresif yang pernah ia temui dalam hidupnya. Namun sayangnya ia suka diperlakukan seperti ini—khususnya untuk Nathaline Owen saja. “Darimana kau belajar cara menggoda pria, My Grace?” tanya Jonathan dengan penuh penekanan pada sebutan barunya untuk kekasihnya ini. “Hey, aku hanya menggodamu. Tidak untuk pria lain,” tukas Nathaline. “Bahkan untuk suamimu?” Jonathan menggodanya, ia beralih fokus pada dayung di tangan kanannya. “Setidaknya tolong anggap tidak ada yang memilikiku selain dirimu, untuk saat ini.” Penuturan Nathaline membuat Jonathan mengulum senyum, “lantas bolehkah aku berharap demikian?” Nathaline menghela napas, ia mengedarkan pandangannya pada langit cerah yang begitu luas. Pertanyaan itu pula yang ia layangkan dalam hati tat kala melihat cerahnya langit dengan burung robin yang berterbangan. Langit yang tak dapat disentuh, udara yang tak mampu digenggam, sama halnya dengan harapan bersatu dengan Jonathan. “tentu saja,” setidaknya ia masih mempercayai bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan yang berkehendak—kendati jalan yang mereka tempuh ialah hubungan yang terlarang. “Mereka yang menikah bisa bercerai, mereka yang harmonis bisa dipisahkan oleh kematian. Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan pasangan lain, sekalipun bukan yang pertama, namun yang sebenar-benarnya takdir,” ungkap Nathaline, kendati ia sendiri meragu akan ucapannya. “bicara tentang kemungkinan maka kita juga harus siap dengan ketidak mungkinan. Apabila kau dan aku pada akhirnya tidak bersama, apabila satu dari kita memang dihadirkan untuk menjadi perusak hubungan lainnya, apabila satu dari kita dihadirkan hanya untuk mengetes kekokohan hubungan orang lain,” jawaban Jonathan kembali menarik atensi dari Nathaline. “Aku mengatakan demikian agar kita tidak larut dalam ekspetasi apabila kenyataan berkata lain. Kita hanya perlu siap dengan seribu kemungkinan terbaik dan seribu kemungkinan terburuk lainnya,”sambung Jonathan. “Kalau begitu jalan saja, kita jalan terus. Tidak peduli jalanan mulus atau bebatuan menghentikan satu dari kita, untuk saat ini kita hanya perlu berjalan.” Jonathan mengukir senyum untuk kesekian kalinya, bagimana ucapan Nathaline begitu menenangkan pikiran dan hatinya, ia tidak sama sekali menuntut pada Jonathan dan itu sungguh hal yang mengesankan bagi Jonathan. Gemericik suara air danau dengan kayuh yang berputar menarik rakit semakin jauh ke tengah danau. Ini adalah kencan paling indah ketimbang menonton pacuan kuda, mengitari labirin di malam pesta dansa, atau sekadar menonton musisi di pub bersama. Ini merupakan kencan yang tidak mungkin mereka lupakan selama bersama. “Mengenai rakyat Rutland, kurasa kau perlu melakukan pendekatan pada mereka agar mereka memahami bagaimana seorang Duchess of Rutland ini,”saran Jonathan. “Bagaimana jika aku menyerah saja—dari semuanya, lalu pergi jauh tumbuh sebagai Nathaline baru bersamamu dengan kehidupan yang biasa-biasa saja?” tanya Nathaline, netra biru itu menunjukan kesedihan dan keputusasaan. “Aku tidak ingin melihatmu hidup menderita, Nath” “Aku sudah cukup menderita dengan terlahir seperti ini, sedang kehidupan yang aku impikan bukan dikurung di mansion dengan kebahagiaan yang semu—melainkan di pedesaan dengan gaya hidup yang seadanya,” tukas Nathaline, kedua netranya memandang lejar memohon Jonathan agar mengerti dan membawanya menepi dari kehidupan kebangsawanan. “Akan aku pikirkan, tapi untuk saat ini kukira baiknya kau memperbaiki pandangan rakyat Rutland terhadapmu.” ** Semua orang berjajar memandangi sebuah kereta dengan bendera Rutland mengibar di atasnya. Mereka tidak tampak antusias seperti seharusnya menyambut kedatangan seorang tuan dari wilayahnya. Belum lagi ketika seorang wanita cantik dengan pakaian berkelas yang turun dari kereta tersebut, senyuman wanita itu dibalas decakan, bisikan, dan dingin tanpa sambutan sedikitpun. Mereka kembali melanjutkan aktifitas, menghiraukan wanita bangsawan penyandang status posisi tertinggi di Rutland berkat suaminya ini. Kereta lainnya tiba beberapa menit kemudian, Jonathan berada diantaranya. Terlihat warga Rutland sudah sangat mengenali Jonathan Mason dan menyambutnya dengan begitu hangat, apalagi ketika mereka melihat berberapa peti berisi pangan yang di dorong menggunakan kuda-kuda dari mansion Lord Morris. Jonathan turun dari kereta, semua orang tersenyum dan beberapa diantaranya menyoraki dirinya. Jonathan membalas senyuman itu sekilas sebelum menghampiri Nathaline di antara warga-warga disana. “Tolong berikan salam kalian pada Her Grace, Duchess of Rutland,” ucap Jonathan dengan lantang, memastikan semua orang yang berada disana mampu mendangarnya. Namun tampaknya orang-orang disana malah saling berbisik dan melemparkan tatapan sinis kepada Nathaline. Nathaline sendiri hanya mampu menunduk, ia sungguh malu berada disana. Memang seharusnya mungkin ia tidak pernah mengikuti apa yang Jonathan katakan padanya agar mampu berdamai dengan warga Rutland, dan mengenalkan diri sebagai Duchess yang baik seraya memberi sedikit bualan bahwa ia akan mensejahterakan dan melindungi warga Rutland apapun keadaanya. “Beliau kemari untuk memenuhi gudang pangan dan pakan kalian, untuk mengisi perut, juga memberikan apa yang kalian butuhkan lainnya.” “Kami tidak terarik dengan sogokan darinya!” seru seorang pria, yang langsung membuat tempat tersebut dipenuhi gemuruh. “Bagaimana kalian bisa menghormati Duke jika kalian tidak bisa menghormati Duchessnya?” sambung Jonathan. “Tidak ada seorang tuan yang merelakan warganya demi sebuah cinta,” seru lainnya. “Diantara kami ada begitu banyak anak-anak, bayi, para lansia, serta wanita wanita yang tidak ahli bela diri. Apa yang bisa kami lakukan apabila terjadi p*********n kembali? siapa yang bisa dimintai pertanggungjawaban disini—apa mereka?!” jerit seorang wanita, ia menunjuk beberapa anak-anak yang pada awalnya tengah beramain di sekitaran sana. Netra Nathaline tertuju pada beberapa anak tersebut, anak-anak kurus yang tengan bermain dengan pakaian yang tidak seharusnya mereka pakai kembali. Kedua netranya merelap, batinnya menjerit betapa teganya seorang Nathaline tidak pernah memikirkan orang-orang kecil seperti mereka, berikut masa depannya yang masih panjang. Hari itu berlalu dengan kepulangan Nathaline yang sia-sia, ia maupun Jonathan tidak berhasil meyakinkan warga Rutland dan membersihkan nama Nathaline yang diduga menjadi penyebab penderitaan Rutland saat ini. Melalui hari-hari yang menyedihkan, menakutkan, kekhawatiran, juga terror Burlington yang tak kunjung reda, Jonathan selalu tiba—menyempatkan diri untuk berbicara dan memberinya semangat hanya dengan satu kalimat sesederhana, “semua akan baik-baik saja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN