Bab 1
Malam ini hujan turun tetapi tidak meruntuhkan semangat Fira untuk mengikuti latihan di kampus. Pasalnya di kampusnya akan mengadakan pementasan drama dan dia di daulat sebagai sekertaris.
Kegiatan latihan berjalan dengan lancar. Fira bersiap untuk pulang tapi saat menghubungi keluarganya untuk menjemput tidak ada yang mengangkat telfon. Teman-temannya pun menawari untuk bermalam di kosnya tapi Fira tidak mau. Pasalnya dia belom ijin dengan Abah dan Mama.
Setelah hampir setengah jam menunggu dering ponsel Fira terdengar. Ia sangat bersyukur pasalnya ini sudah memasuki dini hari.
"Halo assalamualaikum, Ka. Kenapa telfon Fira baru diangkat? Kakak bisa jemput sekarang kan?"
"Wassalamualaikum Maaf, Dek. Kamu sekarang naik taksi aja ya dan langsung ke rumah sakit."
"Kak ada apa? Mama keadaannya memburuk Kak?"
"Iya mangkanya kamu cepet kesini ya."
"ii...iiya Kak. Assalamualaikum aku kesana sekarang."
"Waalaikumsalam. Hati-hati."
Fira langsung mencari taksi online lewat ponselnya tapi sama sekali tidak ada yang tersambung. Dan naasnya ponselnya kehabisan daya sekarang dia tidak tahu harus pesan taksi lewat apa.
Dia mencoba berjalan kearah jalan besar di depan kampus siapa tahu ada taksi yang standby disana. Kondisi malam ini sangat sepi ia sangat takut. Benar saja kali ini ada segerombolan anak muda menghalangi jalannya. Segala doa ia panjatkan agar ia terhindar dari mara bahaya
"Wah cewek cantik nih, Bos. Kita sikat aja yuk mumpung sepi."
"Jelas kalo itu. Dan lu pada terakhir ini bagian gue dulu!"
"Siap Bos."
Bos preman itu mulai mendekat membuat Fira mundur teratur dan berlari tapi sayang dia mentok di ujung toko yang sudah tutup dan tak terlihat dari luar. Pasalnya tempatnya nyempil dan tertutup tembok.
Pada saat itu Gus Kenzo yang sedang mengendarai mobilnya melihat Fira dari kejauhan. Ia merasa gadis itu sangat membutuhkan pertolongan apalagi ini sudah sepi. Gus Kenzo menepikan mobilnya dan menghampiri mereka.
"Ya Allah ternyata benar mereka ingin melecehkan gadis itu." batin Gus Kenzo
"Lepaskan dia atau kalian akan habis ditangan ku!" seru Gus Kenzo
"Kurang ajar dia berani mengganggu kita! Serang dia sekarang!" Seru Bos preman
Berbekal ilmu bela diri yang dia punya Gus Kenzo berhasil melumpuhkan antek-antek preman tersebut dalam waktu singkat.
"s****n lu pada sama satu cowok aja kalah." maki Bos preman
"Sini kalo berani!" seru Gus Kenzo
"Nantangin gue ya lu! Balon tahu aja gue rajanya daerah ini!" seru Bos preman penuh emosi
Lagi dan lagi Bos preman itu terkapar menyusul anak buahnya. Gus Kenzo langsung menghampiri Fira yang masih shock akan kejadian yang menimpanya.
"Alhamdulilah kamu sudah aman sekarang. Oh ya ini pakai jaket saya pasti kamu kedinginan." ucap Gus Kenzo sembari memberikan jaketnya
"Terima kasih kamu sudah menyelamatkan saya." ucap Fira menangis sesenggukan
"Sudah tugas manusia saling tolong menolong. Kamu mau kemana? Biar saya antar tidak baik wanita pulang jam segini tanpa ada yang mengantar." ucap Gus Kenzo
"Ta..ta..tapi kita hanya berdua saya takut."
"Tenanglah saya tidak akan macam-macam kamu aman. insyaAllah saya akan mengantar kamu sampai rumah."
"Bolehkah kamu mengantar saya ke rumah sakit? Saya harus segera kesana mama sedang kritis." ucap Fira penuh cemas
"Ayo saya antar."
Akhirnya mereka menuju rumah sakit. selama perjalanan terasa hening sampai suara dering ponsel memecah keheningan antara mereka berdua. Dilihatnya Fira sedang melamun sampai-sampai ia tidak mendengar bahwa ponselnya berdering.
"Ukhti angkatlah telfon mu."
"ahh iya maaf mas saya melamun tadi."
"Assalamualaikum Kak. Gimana keadaan mama sekarang?"
"Keadaan mama makin memburuk. Kamu sudah sampai mana?"
"Aku sudah mau sampai ini lagi diparkiran aku akan segera kesana."
"Iya cepatlah masuk ke ruang ICU ya."
"Assalamualaikum, Kak."
"Waalaikumsalam."
Mobil yang dikendarai Gus Kenzo sudah sampai di parkiran rumah sakit segeralah mereka bergegas menuju ruang ICU. Entahlah Gus Kenzo tidak tahu kenapa dia ingin ikut gadis yang baru ia tolong menemui keluarganya. Ia merasa harus melindungi gadis ini setelah apa yang dialami gadis ini tadi.
"Kenapa ini bisa terjadi, Bah? Pas Ira mau ke kampus tadi Mama baik-baik aja masih buatin bekal makan buat Ira." racun Fira di pelukan Abah
"Mama tadi jatuh di kamar mandi sayang. Sepertinya penyakitnya kambuh saat mama mau ke kamar mandi. Kita berdoa yang terbaik buat Mama ya." ucap Abah penuh ketenangan
Fira tak menyangka akan seperti ini. Mamanya memang sudah menderita sakit tiga tahun terakhir tapi beliau masih bersikukuh merawat suami dan anak. Sebisa mungkin hal-hal kecil beliau lakukan. Setiap hari selalu menyiapkan bekal makan Fira padahal beliau sakit. Seminggu dua kali beliau harus bolak balik rumah sakit untuk cuci darah.
Sungguh Gus Kenzo tak menyangka ternyata yang ia tolong adalah anak dari salah satu Habib ternama di Solo.
Syarif Ahmad yang baru saja keluar dari kamar mandi samping ICU menatap Gus Kenzo heran.
"Kamu siapa? kenapa bisa bersama adik saya?" ucap Gus Kenzo
"Oh iya maaf Bib saya Kenzo yang menolong Syarifah tadi saat dihadang preman." ucap Gus Kenzo
"Astagfirullah ampuni hamba telah lalai menjaga adik hamba Ya Allah. Terima kasih atas pertolongannya saya berhutang kepada kamu." ucap Gus Kenzo penuh penyesalan dan rasa syukur
"Sama-sama, Bib."
"Fira kamu masuklah ke dalam karena sedari tadi Mama terus mencari kamu." Ucap Habib Ahmad
Fira mengangguk tanda ia mengiyakan apa yang diminta kakaknya. Selepas Fira masuk Habib Hadi Alaydrus melihat Gus Kenzo.
"Terima kasih sudah mengantar dan menolong putri saya. Saya sudah mendengar dari apa yang kamu bicarakan dengan Ahmad." ucap Habib Hadi
"Habib anda tidak perlu begini saya ikhlas menolong Syarifah." ucap Gus Kenzo
Sementara itu, saat Fira menemui mama nya air mata mengalir deras di pelupuk matanya.
"Ma...mama ini Fira udah dateng kesini. Mama bangun dong katanya mau liat pentas yang Fira tangani."
"Fii...Fira kamu udah dateng sayang." ucap sang mama
"Iya Fira disini akan jaga dan temenin Mama ya." ucap Fira
"Sayang Mama mau lihat kamu menikah sekarang, Nak." ucap Mama
"Iya Fira akan nikah tapi mama sembuh dulu ya. Biar bisa nyiapin pesta pernikahan aku." ucap Fira penuh tangis
"Se...se...karang, Nak." ucap Mama terbata- bata
"Ma...mama tunggu disini ya sekarang Fira akan temui Abah." ucap Fira
Fira bergegas keluar dan segera menemui Abah serta kakaknya.
"Bah...Abah tolong Fira ya. Fira mau ngabulin permintaan Mama. Fira mau nikah sekarang Bah." racun Fira penuh tangis
"Ta...tapi seseorang yang mau Abah jodohkan denganmu masih di Tarim sayang." jelas Habib Hadi
"Siapapun tolong, Bah. Ini untuk mama aku gak mau menyesal karena tidak memenuhi keinginan beliau."
Habib Hadi dan Habib Ahmad bingung harus menikahkan Syarifah Fira dengan siapa. Pasalnya laki-laki yang akan di jodohkan dengan Fira masih menuntut ilmu di Tarim Yaman.
"Bolehkah saya yang menikahi Syarifah Fira?" ucap Gus Kenzo lantang
"Ta...tapi kamu bukan seorang Syarif?" jelas Habib Ahmad
"Kak tak apa aku tidak menikah dengan seorang Syarif yang penting mama bisa melihatku menikah. Aku takut ini permintaan terakhir beliau. Aku ikhlas jika nazab ku berhenti di aku." ucap Fira
"Tapi kakak tidak ridho, Dek!" ucap Habib Ahmad
"Abah merestui mu, Nak. Kasihan mama sudah menunggu kita." ucap Habib Hadi
"Tidak, Bah. Aku tidak ridho jika Fira menikah dengan orang biasa." ucap Habib Ahmad
"Maaf, Bib. Ijinkan saya memperkenalkan diri lebih dahulu. Saya Agus Kenzo Abdullah putra dari Kyai Abdullah Al Hasan dari Pondok Pesantren Assalafiyah Bandung. Saya baru saja pulang dari Kairo bulan lalu. insyaAllah saya siap membimbing Syarifah Fira" ucap Gus Kenzo
"kamu punya apa untuk dijadikan mahar?" ucap Habib Ahmad
"Saya hanya ada uang tiga ribu riyal dan satu juta rupiah di dompet."
"Itu sudah cukup, Nak. Ayo kita temui istriku sekarang."
Pernikahan itu pun terjadi. Pernikahan serba dadakan atas keinginan Mama Fira menjadikan kehidupan Fira dan Gus Kenzo berubah dalam semalam. Selepas akad nikah tak disangka-sangka Syarifah Aisyah Istri Habib Hadi menghembuskan nafas terakhir. Syarifah Aisyah menghembuskan nafas terakhir saat Syarifah Fira menjabat tangan Gus Kenzo dan pada saat itu pula Gus Kenzo melafalkan doa di ubun-ubun Syarifah Fira.
Tangis tak terbendung lagi selepas doa yang dipanjatkan Gus Kenzo usai Fira bergegas kesamping ranjang sang mama dan memeluk penuh tangis. Habib Hadi dan Habib Ahmad tampak lebih tegar karena mereka tidak ingin membuat Syarifah Aisyah bersedih karna mereka menangisi kepergian beliau.
"Ma....mama....mama janji mau liat pentas Fira terus Mama janji pas aku milad mau buat acara di rumah bikin kue kesukaan aku." tangis Syarifah Fira
Gus Kenzo mendekati Fira dan menarik Fira kedalam pelukannya. Ia berharap dengan pelukannya ini mampu menenangkan istrinya.
Habib Ahmad bersiap mengurus pemakaman Syarifah Aisyah. Semua urusan administrasi sudah selesai di urus dan kini mereka bersiap pulang menuju rumah duka.
Fira bersikukuh untuk menemani Mama nya di dalam ambulance dan akhirnya Gus Kenzo pun memilih menemani sang istri serta mertuanya di dalam ambulance. Sedangkan Habib Ahmad mengendarai mobil Gus Kenzo. Pasalnya tadi Habib Ahmad dan Habib Hadi ikut ambulance saat menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah duka. Sanak saudara sudah memenuhi rumah duka. Habib Ahmad menghampiri mertua serta istri dan anaknya. Memeluk sang istri untuk meminta sedikit kekuatan agar dia ikhlas menerima semua takdir Allah.
Saat keluar dari ambulance Fira pingsan. Segeralah Gus Kenzo menggendong Fira ala bridal style. Habib Ahmad yang melihat itu langsung meminta Gus Kenzo membawa Fira ke kamar. Dan meminta Gus Kenzo untuk menemani Fira sampai ia sadar.
Dilihatnya kamar sang istri yang penuh dengan nuansa putih abu tidak seperti gadis kebanyakan yang pasti menyukai warna merah muda dan biru.
Gus Kenzo tidak tahu apakah ini memang takdir Allah agar dia batal menikah dengan perjodohan yang sudah diatur Abi nya. Bukannya ia tidak patuh pada orang tuanya tapi dia tidak ingin di jodohkan dengan seorang wanita yang tidak dia cintai.
Gus Kenzo tertidur disamping ranjang Fira dalam posisi duduk bertumpu pada ranjang sang istri. Tak terasa waktu sudah menunjukkan sepertiga malam. Gus Kenzo bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malamnya.
Saat Gus Kenzo sedang menjalankan solat malam sang istri terbangun dan mendapati ia sudah berada di kamar serta ada seorang laki-laki sedang melaksanakan sholat malam dengan khusyuk.
Suara dering ponsel mengganggu Fira. Dilihatnya ponsel sang suami terus berbunyi. Ingin mengangkatnya tapi dia takut jika kena marah. Tapi kalau tidak diangkat berdering terus. Nama Umi Shema tertera disana.
Syukurlah saat itu Gus Kenzo telah menyelesaikan rakaat terakhirnya. Beliau langsung menoleh kearah Fira.
"Angkatlah tidak papa. Kamu istriku sekarang jadi tidak papa kamu mengangkat telfon milikku."
"Tapi ini ponsel milik Mas aku tak berhak mengangkatnya. Ini sepertinya umi mu menelfon." ucap Fira
"Padahal tidak papa kalau kamu mau mengangkat telfonnya. Ya sudah aku angkat dulu telfonnya."
Hayo Umi kenapa yah nelfon Gus Kenzo